Pidato Marco Rubio di Akropolis: Retorika Kejayaan Barat yang Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pidato di Athena yang menyerukan Eropa menghidupkan kembali nilai ekspansi dan penaklukan.
- Kritik muncul karena pidato tersebut mengabaikan kontribusi peradaban non-Barat dan konteks demokrasi yang menjadi dasar pendiri AS.
- Pidato ini dinilai sebagai simbol nostalgia tanpa kebijakan konkret, sementara pemotongan riset dan iklim menjadi sorotan.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memicu perdebatan setelah berpidato di Athena dengan latar Akropolis, menyerukan agar Amerika dan Eropa kembali menegakkan nilai-nilai eksplorasi dan penaklukan yang pernah mendorong ekspansi berabad-abad. Pidato yang disampaikan pada 7 Oktober itu, menurut sejumlah pengamat, lebih menonjolkan nostalgia kejayaan masa lalu ketimbang menawarkan arah kebijakan baru.
Dalam pidatonya, Rubio menyatakan bahwa Barat harus membangkitkan semangat petualangan dan penaklukan atau menghadapi kemunduran. Ia menyebut sejarah ditentukan oleh "orang-orang besar" yang berani melawan kesulitan dan menundukkan bangsa lain. Namun, kritikus menilai retorika tersebut mengabaikan fakta bahwa banyak pengetahuan yang membentuk Yunani dan Roma justru berasal dari peradaban Timur, seperti penulisan dari Sumeria dan matematika dari dunia Arab.
Pidato itu juga dinilai kontradiktif dengan realitas kebijakan pemerintahan saat ini. Di saat yang sama, Amerika Serikat tengah menghadapi ketegangan dengan Iran, dengan harga minyak yang tetap tinggi dan sejumlah aset militer ditarik dari wilayah tersebut. Situasi ini, menurut analis, membuat narasi kejayaan melalui penaklukan terasa tidak relevan.
Rubio juga menyampaikan bahwa Amerika dan Eropa perlu meneladani Yunani kuno dalam pencapaian filsafat, puisi, patung, dan drama. Namun, pernyataan ini dianggap tidak sejalan dengan pemotongan anggaran penelitian ilmiah yang signifikan, termasuk di bidang iklim. Seorang mantan direktur kantor kebijakan sains dan teknologi Gedung Putih, Arati Prabhakar, menilai pemotongan tersebut justru membawa AS ke "zaman batu" ketimbang zaman keemasan.
"Kami percaya Eropa dapat bangkit dari tidur panjangnya dan menyalakan kembali api yang pernah menyala ribuan tahun lalu," ujar Rubio, seperti dikutip dari pidatonya.
Meski demikian, pidato Rubio kali ini tidak sekeras pidato sebelumnya pada Februari yang memperingatkan tentang "penghapusan peradaban". Ia tampak menawarkan olive branch kepada Eropa. Namun, bagi banyak pihak, pidato itu tetap dipandang sebagai seruan yang sulit diikuti sekutu AS, terutama karena tidak ada kebijakan konkret yang diumumkan.
Dalam konteks Indonesia, retorika semacam ini dapat memengaruhi cara negara-negara non-Barat memandang kepemimpinan global AS. Jika AS terus menekankan superioritas peradaban Barat tanpa mengakui kontribusi peradaban lain, hal ini berpotensi memperlebar jurang diplomasi dengan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang memiliki sejarah peradaban sendiri yang kaya. Posisi Indonesia yang non-blok dan aktif dalam kerja sama multilateral bisa terganggu jika AS kembali ke narasi dominasi.
Lebih jauh, pidato Rubio mencerminkan ketegangan antara visi kejayaan masa lalu dan tantangan global saat ini, seperti perubahan iklim, pandemi, dan ketidakstabilan ekonomi. Alih-alih mengajak kerja sama, narasi penaklukan justru dapat mengisolasi AS dari sekutu tradisionalnya. Pertanyaannya, apakah pidato seperti ini akan diikuti langkah nyata atau hanya menjadi foto oportunistik di bawah bayang-bayang Parthenon?



