Super El Niño Ancam Pangan Global, Ilmuwan Desak Reformasi Asuransi Pertanian
Baca dalam 60 detik
- Fenomena Super El Niño diprediksi menguat akhir tahun ini dan berpotensi mengganggu produksi pangan di sejumlah kawasan dunia.
- Petani yang menanam tanaman penutup tanah atau perennial terbukti lebih tahan terhadap cuaca ekstrem, namun sistem asuransi AS justru menghukum mereka.
- Kongres AS tengah membahas farm bill yang bisa menjadi peluang sekali dalam satu dekade untuk memperkuat ketahanan pangan.

Para peramal cuaca memperingatkan bahwa El Niño tahun ini berpotensi menjadi yang terkuat dalam catatan sejarah, memicu kekhawatiran serius terhadap produksi pangan dan ketahanan pangan global. Meskipun Amerika Serikat tidak akan terdampak sekeras Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, dan Afrika bagian selatan, cuaca ekstrem tetap berisiko menyebabkan kehilangan hasil panen yang signifikan di beberapa wilayah negara itu.
Liz Carlisle, associate professor Environmental Studies di UC Santa Barbara, dalam analisisnya menyoroti bahwa lahan pertanian yang mampu bertahan menghadapi cuaca ekstrem memiliki satu kesamaan: tanah mereka tetap ditumbuhi tanaman sepanjang tahun. Selama 15 tahun terakhir, Carlisle mengamati sejumlah petani yang mampu menyerap hujan lebat ketika lahan tetangga tergenang, dan tetap memperoleh 80% hasil panen normal meski hanya mendapat 40% pasokan air.
Kunci ketahanan itu terletak pada kandungan bahan organik kaya karbon di dalam tanah, yang membuat lahan mampu menyerap dan menahan air seperti spons. Praktik yang paling krusial adalah menjaga akar tetap berada di dalam tanah sepanjang tahun, baik melalui tanaman penutup tanah (cover crop) pada musim libur tanam maupun tanaman perennial yang hidup bertahun-tahun.
Meski manfaatnya jelas, praktik ini belum menjadi arus utama di wilayah pertanian utama Amerika Serikat. Penyebabnya bukan ketidaktahuan petani, melainkan struktur insentif yang timpang. Sistem asuransi panen AS saat ini sangat mendorong penanaman komoditas warisan seperti jagung, kedelai, gandum, dan kapas. Asuransi untuk tanaman abad ke-20 ini disubsidi besar-besaran, sehingga petani bisa kehilangan seluruh panen dan tetap bertahan secara finansial.
Sebaliknya, petani yang ingin menanam elderberry atau hazelnut harus berjuang sendiri. Program Whole Farm Revenue Protection yang seharusnya melindungi mereka diakui luas tidak memadai. Tanaman perennial juga butuh bertahun-tahun untuk matang dan menghasilkan, periode di mana petani memerlukan sumber pendapatan lain untuk bertahan.
"Selama 15 tahun, saya menyaksikan lahan-lahan paling tangguh di negeri ini—yang mampu menyerap hujan lebat ketika tetangganya tergenang beberapa inci, dan tetap panen 80% saat curah hujan hanya 40% dari normal," tulis Carlisle.
Sejumlah petani telah menemukan cara kreatif untuk mengintegrasikan strategi ini. Ada yang menanam pohon buah dan kacang-kacangan di antara tanaman tahunan, memanfaatkan semak beri sebagai pagar hidup, atau bereksperimen dengan biji-bijian perennial baru. Ada pula yang menggembalakan ternak di padang rumput perennial, serta menanam strip prairie asli di antara baris jagung dan kedelai.
Namun, kebijakan federal belum sepenuhnya mendukung. Ketika Super El Niño menguat musim gugur ini, Kongres AS sedang menegosiasikan rancangan farm bill—peluang sekali dalam satu dekade untuk berinvestasi dalam ketahanan sistem pangan. Di dalamnya terdapat program seperti Conservation Stewardship Program dan Environmental Quality Incentives Program yang mendukung petani menambah cover crop dan perennial. Sayangnya, Senat dari Partai Republik sejauh ini bersikeras memangkas pendanaan program-program tersebut dan belum mempertimbangkan reformasi asuransi panen yang lebih mendalam.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Sebagai negara agraris yang rentan terhadap El Niño, Indonesia menghadapi tantangan serupa: bagaimana mendorong praktik pertanian regeneratif tanpa membuat petani menanggung risiko ekonomi jangka pendek. Kebijakan subsidi dan asuransi pertanian di dalam negeri perlu dirancang agar tidak hanya menguntungkan komoditas tertentu, tetapi juga memberi ruang bagi diversifikasi dan praktik konservasi tanah.
Pertanyaannya kini, apakah tekanan cuaca ekstrem akan cukup mengguncang pembuat kebijakan untuk mereformasi insentif pertanian—baik di Washington maupun Jakarta—sebelum krisis pangan berikutnya tiba?



