FAA Peringatkan Maskapai AS: Risiko Keamanan Terbang di Arab Saudi Meningkat
Baca dalam 60 detik
- FAA mengeluarkan peringatan keamanan penerbangan bagi maskapai AS di sekitar Arab Saudi setelah serangan terhadap Bandara King Khalid.
- Delta Air Lines masih belum memutuskan kelanjutan penerbangan perdana Atlanta–Riyadh yang dijadwalkan 23 Oktober mendatang.
- Penutupan bandara dan eskalasi konflik berpotensi mengganggu rute penerbangan internasional serta menambah tekanan biaya operasional maskapai.

Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menginstruksikan maskapai nasionalnya untuk berhati-hati saat melintasi atau mendekati wilayah udara Arab Saudi. Peringatan ini muncul setelah serangan yang diklaim kelompok Houthi yang didukung Iran melumpuhkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
Bandara utama ibu kota Saudi itu masih ditutup hingga Senin (12/10/2026) waktu setempat, memaksa sejumlah maskapai menangguhkan penerbangan, sebagian hingga akhir pekan. Serangan memuncak pada Sabtu lalu ketika sebuah proyektil menghantam terminal penumpang. Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara lain telah mengeluarkan imbauan agar warganya menunda perjalanan ke kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, FAA menekankan bahwa pilot harus waspada terhadap "risiko keselamatan penerbangan yang terkait dengan aktivitas militer yang sedang berlangsung" dan gangguan sistem navigasi. Lembaga itu menilai ancaman tersebut berpotensi membahayakan pesawat pada semua ketinggian. Peringatan ini berlaku hingga 10 Desember 2026.
Meski sebagian besar maskapai AS tidak melayani rute ke Arab Saudi, peringatan ini menjadi pukulan bagi Delta Air Lines yang bersiap meluncurkan penerbangan perdana tanpa henti dari Atlanta ke Riyadh pada 23 Oktober. CEO Delta, Ed Bastian, dalam wawancara sebelum serangan Sabtu, menegaskan bahwa "keselamatan akan menjadi penentu" apakah penerbangan tersebut tetap dioperasikan sesuai jadwal. Hingga Minggu malam, Delta belum mengubah rencananya, menurut juru bicara perusahaan.
"Keselamatan akan menjadi penentu," ujar CEO Delta Ed Bastian, seperti dikutip CNBC, sebelum serangan terjadi.
Keputusan Delta menjadi sorotan karena rute ini merupakan langkah ekspansi pertama maskapai tersebut ke Timur Tengah, wilayah yang selama ini didominasi oleh maskapai Gulf seperti Emirates, Qatar Airways, dan Etihad. Jika Delta menunda atau membatalkan penerbangan, hal itu tidak hanya berdampak pada ambisi pertumbuhan internasionalnya, tetapi juga memberi sinyal bahwa risiko geopolitik di kawasan tersebut masih terlalu tinggi bagi operator AS.
Bagi Indonesia, eskalasi ini dapat memengaruhi rute penerbangan haji dan umrah yang selama ini banyak melintasi atau transit di Arab Saudi. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air Group perlu mencermati perkembangan keamanan, terutama menjelang musim umrah akhir tahun. Kementerian Perhubungan dan Kementerian Luar Negeri diharapkan segera berkoordinasi untuk memastikan keselamatan penerbangan charter maupun reguler yang membawa jemaah Indonesia.
Secara lebih luas, ketegangan di Timur Tengah kerap memicu kenaikan premi asuransi penerbangan dan biaya bahan bakar akibat fluktuasi harga minyak. Maskapai yang terbang melalui wilayah konflik harus menanggung tambahan biaya operasional, yang pada akhirnya dapat dibebankan kepada penumpang melalui kenaikan tarif. Situasi ini juga berpotensi mengganggu jadwal penerbangan global karena banyak rute Eropa–Asia yang melintasi wilayah udara Arab Saudi.
Pertanyaannya kini, apakah peringatan FAA akan cukup membuat maskapai AS menahan diri, atau justru memicu penyesuaian rute permanen yang mengubah peta penerbangan internasional? Dalam sepekan ke depan, keputusan Delta dan respons maskapai lain akan menjadi indikator seberapa serius dampak konflik ini terhadap industri aviasi global.



