Serangan Houthi ke Bandara Saudi Tewaskan 21 Orang, Sejumlah Negara Larang Warganya Bepergian
Baca dalam 60 detik
- Militan Houthi menyerang Bandara Abha dan Bandara King Khalid Riyadh akhir pekan lalu, menewaskan 21 orang dan memicu kecaman keras dari Riyadh.
- Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Inggris mengeluarkan imbauan agar warganya menghindari perjalanan ke Arab Saudi, terutama ke bandara dan wilayah perbatasan Yaman.
- Eskalasi ini mengancam stabilitas penerbangan regional dan memaksa negara-negara mengevaluasi ulang kebijakan perjalanan ke Timur Tengah.

Serangan milisi Houthi terhadap dua bandara internasional di Arab Saudi akhir pekan lalu menewaskan 21 orang dan memicu gelombang imbauan perjalanan dari sejumlah negara. Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menjadi sasaran, menandai eskalasi konflik Yaman yang merembet ke jantung infrastruktur sipil Saudi.
Riyadh mengecam keras insiden tersebut dan berjanji mengambil tindakan tegas. Namun, dampak diplomatiknya langsung terasa: sejumlah pemerintah asing bergerak cepat melindungi warganya dengan mengeluarkan peringatan perjalanan. Australia, Selandia Baru, Korea Selatan, dan Inggris termasuk yang paling vokal.
Kementerian Luar Negeri Australia mengimbau warganya untuk menghindari Bandara King Khalid di Riyadh dan mempertimbangkan ulang perjalanan ke bandara Saudi lainnya. Sementara itu, Kemlu Selandia Baru mendesak warganya tidak melakukan perjalanan ke Najran, Jazan, dan Asir dengan alasan apa pun, serta menghindari perjalanan tidak penting ke Saudi secara keseluruhan.
Korea Selatan mengambil langkah lebih jauh dengan merekomendasikan warganya yang berada di Saudi untuk meninggalkan negara itu kecuali untuk urusan mendesak. Korsel juga menyarankan pembatalan kunjungan ke Saudi jika sudah direncanakan. Adapun Kantor Luar Negeri, Persemakmuran, dan Pembangunan Inggris mendesak warganya menghindari Jeddah dan Dammam, serta semua bandara selain Bandara Internasional Madinah, kecuali untuk alasan penting.
"Kami meminta warga Australia untuk mempertimbangkan kembali perjalanan ke bandara Saudi selain King Khalid," demikian pernyataan Kemlu Australia, seperti dikutip Al Jazeera.
Serangan ini bukan hanya persoalan keamanan Saudi, tetapi juga memukul sektor penerbangan dan pariwisata regional. Bandara King Khalid adalah salah satu hub tersibuk di Timur Tengah, melayani penerbangan internasional dari berbagai penjuru dunia. Gangguan di sana berpotensi mengacaukan jadwal penerbangan dan meningkatkan biaya asuransi perjalanan.
Bagi Indonesia, imbauan ini menjadi perhatian serius. Arab Saudi merupakan tujuan utama jemaah umrah dan haji, dengan ratusan ribu warga Indonesia bepergian ke sana setiap tahun. Meskipun belum ada imbauan resmi dari pemerintah Indonesia, Kementerian Luar Negeri perlu memantau perkembangan dan memberikan panduan bagi calon jemaah. Maskapai nasional seperti Garuda Indonesia dan Lion Air yang melayani rute ke Jeddah dan Madinah juga harus bersiaga terhadap potensi perubahan rute atau penundaan.
Pemerintah Indonesia biasanya mengeluarkan travel advisory melalui KBRI Riyadh dan KJRI Jeddah. Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Kemlu RI terkait serangan tersebut. Namun, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi dari sumber resmi sebelum merencanakan perjalanan ke Saudi.
Ke depan, eskalasi konflik Yaman-Saudi akan menjadi ujian bagi stabilitas keamanan Timur Tengah. Jika serangan serupa terulang, negara-negara lain kemungkinan akan memperketat peringatan perjalanan, yang bisa berdampak pada industri penerbangan global. Pertanyaannya, akankah Saudi mampu menekan Houthi, atau justru konflik ini menarik lebih banyak pihak ke dalam pusaran?



