Shogun 2 Remastered: Pembaruan Visual Memukau, tapi Kurang Greget
Baca dalam 60 detik
- Remaster Shogun 2: Complete Edition menghadirkan peningkatan visual dan kontrol unit modern, tetapi gagal memperbaiki masalah inti gameplay yang sudah lama dikeluhkan.
- Keputusan Creative Assembly menambah 50 faksi minor tanpa bonus unik dinilai tidak memberi nilai tambah signifikan bagi pemain veteran.
- Peluncuran di Steam pada 13 Oktober mendatang akan disertai diskon 75% bagi pemilik versi lama, namun ekspektasi terhadap perombakan menyeluruh tampaknya belum terpenuhi.

Jakarta โ Antusiasme menyambut perilisan Shogun 2: Complete Edition di Steam pada 13 Oktober mendatang tampaknya perlu ditimbang ulang. Meski menghadirkan sejumlah pembaruan teknis, versi remaster ini dinilai belum mampu menjawab ekspektasi pemain setia yang telah menantikan perbaikan menyeluruh selama bertahun-tahun.
Creative Assembly, pengembang di balik seri Total War, memang tidak main-main dalam menggarap ulang salah satu judul paling ikonik mereka. Peningkatan visual, kontrol unit yang lebih modern, serta penambahan pengisi suara berbahasa Jepang menjadi beberapa fitur yang langsung terasa. Namun, di balik polesan tersebut, sejumlah masalah fundamental yang telah lama dikeluhkan justru dibiarkan menganga.
Salah satu sorotan utama adalah kehadiran 50 faksi minor baru yang tersebar di berbagai kampanye. Sayangnya, tidak satu pun dari faksi-faksi tersebut yang dibekali bonus unik atau karakteristik khusus. Akibatnya, pemain hanya mengandalkan perbedaan lokasi awal sebagai satu-satunya variabel strategi. Kondisi ini kontras dengan ekspektasi bahwa faksi-faksi baru seharusnya mampu menawarkan pengalaman bermain yang lebih beragam, bukan sekadar replika dari modifikasi buatan komunitas yang sudah ada sebelumnya.
Lebih jauh, sistem perdagangan dalam remaster ini juga tidak mengalami pembaruan berarti. Faksi yang hanya menguasai satu wilayah pulau, misalnya, tetap terkendala dalam menjalin hubungan dagang dengan lebih dari satu pihak. Padahal, penyesuaian semacam ini tergolong perbaikan kualitas hidup (quality of life) yang mendasar dan seharusnya mudah diakomodasi.
Dari sisi fitur baru, opsi kesulitan Realm Divide untuk fase akhir permainan dan tata kelola medan perang yang lebih baik memang menonjol. Akan tetapi, beberapa tambahan lain seperti tampilan medan perang dari atas dan diplomatic quick deal justru terasa mubazir. Pasalnya, frekuensi pembentukan aliansi atau perjanjian dagang dalam Shogun 2 tidak sepadan dengan kebutuhan akan fitur tersebut, terlebih fitur itu tidak menyertakan opsi perjodohan yang justru lebih dibutuhkan pemain.
"Shogun 2 masih enak dimainkan, tetapi itu bukan karena remaster ini. Semua hal hebat yang ada sebelumnya tetap hebat, dan kualitas Shogun 2 sebagai game layak mendapatkan perombakan yang lebih baik dan menyeluruh daripada yang diberikan."
Kritik juga mengarah pada masalah teknis yang masih menghantui. Kemampuan menggabungkan unit, indikator jumlah tentara, hingga agen yang tertinggal di pemukiman atau kapal menjadi daftar panjang keluhan yang belum tersentuh. Bahkan, pathfinding saat pengepungan dan AI musuh yang terlalu defensif di laut masih menjadi momok. Dalam satu pertempuran, jenderal pengepung dilaporkan hanya berdiam diri di depan tembok selama 40 menitโsebuah bug yang ironisnya tidak ditemukan di versi orisinal.
Meski demikian, bukan berarti remaster ini tanpa nilai positif. Faksi DLC yang kini gratis, seperti Otomo yang beragama Kristen, Ikko-Ikki yang pemberontak, atau Saga dengan meriamnya di Fall of the Samurai, menjadi daya tarik tersendiri bagi pemain yang belum pernah mencobanya. Ini bisa menjadi pintu masuk bagi pendatang baru untuk menikmati salah satu kampanye paling menantang di seri ini.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Shogun 2: Complete Edition tetap relevan. Komunitas Total War di Tanah Air cukup aktif, dan diskon 75% yang ditawarkan menjadi insentif kuat untuk memiliki versi resmi. Namun, ekspektasi terhadap perombakan total perlu diredam. Remaster ini lebih tepat diposisikan sebagai pembaruan visual ketimbang penyempurnaan menyeluruh.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Creative Assembly akan mendengarkan umpan balik ini dan merilis patch signifikan, atau justru membiarkan Shogun 2 tetap dalam kondisi setengah matang. Jika tidak ada perbaikan berarti, warisan salah satu game strategi terbaik ini berisiko hanya menjadi kenangan tanpa pembaruan yang layak.



