Matt Dinniman Ungkap Kecepatan Ideal Dengar Audiobook Dungeon Crawler Carl: Di Atas 1,5 Itu Gila
Baca dalam 60 detik
- Penulis Dungeon Crawler Carl, Matt Dinniman, menyarankan pendengar audiobook tidak melebihi kecepatan 1,5x karena dapat merusak nuansa performa Jeff Hays.
- Dinniman sedang menggarap buku terakhir seri DCC yang akan dipecah menjadi dua volume, serta proyek komik spin-off dan serial live-action yang tengah dikembangkan.
- Fenomena audiobook cepat mencerminkan pergeseran konsumsi sastra digital, dengan implikasi bagi industri audio di Indonesia yang sedang tumbuh.

Kecepatan mendengarkan audiobook menjadi perdebatan sengit di komunitas penggemar Dungeon Crawler Carl (DCC). Penulis Matt Dinniman akhirnya angkat bicara: ia menilai kecepatan di atas 1,5x sudah keterlaluan dan berpotensi mengorbankan kualitas akting suara Jeff Hays. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan Polygon di New York Comic Con, beberapa waktu lalu.
DCC, seri LitRPG yang berlatar masa pasca-apokaliptik, mengisahkan Bumi yang dikuasai korporasi alien dan manusia yang tersisa dipaksa bertarung dalam reality show berjudul Dungeon Crawler World: Earth. Tokoh utamanya, Carl, seorang veteran Coast Guard, ditemani kucing bicara bernama Princess Donut. Popularitas seri ini meledak berkat audiobook yang dinarasikan Jeff Hays, yang menjadi best-seller. Namun, banyak penggemar memilih mempercepat laju audio, memicu diskusi di Reddit, Facebook, dan TikTok. Ada yang bangga mendengarkan di kecepatan 2x lebih cepat, sementara yang lain mempertanyakan mengapa ada orang yang masih setia pada kecepatan normal 1.0.
Dinniman sendiri mengaku mendengarkan audiobook pada kecepatan 1.0 hingga 1.2, kadang 1.25. "Di atas 1.3 bagi saya pribadi sudah mengganggu performa," ujarnya. Ia menyebut kecepatan 2.3 seperti "tupai yang diberi obat bius". Meski demikian, ia tidak melarang; ia hanya mengingatkan bahwa pendengar akan kehilangan nuansa penjiwaan Hays. Pernyataan ini menyoroti ketegangan antara efisiensi konsumsi dan apresiasi seni pertunjukan audio.
Dalam wawancara tersebut, Dinniman juga mengungkap rencana masa depan waralaba DCC. Ia menegaskan tidak akan menulis novel tambahan setelah seri utama selesai. "Saya sedang mengerjakan buku terakhir sekarang. Akan dipecah menjadi dua buku, tapi ini benar-benar yang terakhir," tegasnya. Untuk spin-off, ia membuka peluang komik karakter lain jika komik Florin sukses. Sementara adaptasi live-action masih dalam penulisan skrip, dan ia belum bisa memastikan pendekatan efek visual yang akan dipakai.
Sebagai penulis yang dianggap pionir LitRPG arus utama, Dinniman merendah. Ia menyebut genre ini sudah ada sejak sekitar 2015 dan banyak penulis lain telah berkontribusi. "Saya hanya kebetulan yang pertama mendapat kontrak besar dan masuk ke toko buku," katanya. Kini rak LitRPG mulai muncul di toko buku, menampilkan judul seperti He Who Fights with Monsters, Noobtown, The Wandering Inn, dan Apocalypse Parenting. Ia memperkirakan LitRPG akan meluas ke tema di luar fantasi, termasuk romance dan dating sim, mengikuti tren webcomic Asia yang menurutnya selalu dua tahun lebih maju.
"Saya pribadi merasa di atas 1,5 itu gila. Orang marah ketika saya bilang begitu. Tapi mendengarkan di 2,3 seperti tupai yang diberi obat bius. Anda menyerap ceritanya, tapi kehilangan nuansa performa Jeff Hays." โ Matt Dinniman
Di luar DCC, Dinniman sedang menggarap novel bergenre "cozy fantasy" yang sangat brutal untuk Ace (Penguin Random House). Ia mengaku sebagai penulis horor terlebih dahulu, dan melihat horor serta humor sebagai dua sisi mata uang yang sama. Baginya, interaksi antartokoh yang lucu sering viral di TikTok, tetapi dampak hororlah yang membuat pembaca bertahan.
Fenomena kecepatan audiobook tidak hanya terjadi di komunitas DCC. Di Indonesia, layanan audiobook seperti Storytel dan Audible semakin diminati, terutama di kalangan profesional muda yang menyiasati waktu commuting. Kebiasaan mempercepat audio juga mencerminkan budaya konsumsi cepat yang melanda berbagai sektor hiburan. Namun, bagi industri kreatif, daya tarik utama tetap pada kualitas narasi dan penjiwaan. Jika pendengar terus mempercepat, nilai jual akting suara bisa tergerus, yang pada akhirnya memengaruhi pendapatan narator dan penerbit.
Ke depan, apakah batas kecepatan akan menjadi standar baru dalam konsumsi audiobook? Ataukah pendengar akan kembali menghargai tempo asli demi pengalaman yang lebih kaya? Dinniman telah memberikan pandangannya, tetapi pasar yang akan menentukan.



