Balkan Dilanda Lonjakan Suhu Ekstrem, Yunani Bersiap Hadapi Banjir Besar
Baca dalam 60 detik
- Montenegro mencatat selisih suhu harian hingga 30 derajat Celsius, dua kali lipat rata-rata Oktober, akibat tekanan tinggi yang berkepanjangan.
- Sistem tekanan rendah diprediksi bergerak ke Laut Aegea, memicu curah hujan 50-150 mm di Yunani dengan puncak di sekitar Skiathos.
- Badai Topan Simon kategori 4 mendekati pantai Pasifik Meksiko, mengancam curah hujan hingga 500 mm dan banjir besar di wilayah barat daya.

Wilayah Balkan dilanda fluktuasi suhu yang tidak biasa pekan lalu, dengan perbedaan mencolok antara suhu tertinggi siang dan terendah malam—fenomena yang dikenal sebagai rentang diurnal. Di Kosanica, Montenegro, selisih suhu mencapai 30 derajat Celsius pada 4 dan 5 Oktober, jauh melampaui rata-rata Oktober yang hanya sekitar 11 derajat. Kondisi ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang bertahan lama, menghadirkan sinar matahari melimpah di siang hari, sementara langit cerah tanpa awan mempercepat pelepasan panas ke atmosfer pada malam hari.
Menurut analisis meteorologi, anomali ini bukan sekadar catatan lokal. Tekanan tinggi yang meluas di Eropa utara dan barat dalam sepekan ke depan akan mendorong sistem tekanan rendah ke arah selatan menuju Mediterania. Sistem ini diperkirakan menguat saat melintasi Laut Adriatik dan Ionia, lalu bergerak ke timur memasuki Laut Aegea pada pertengahan pekan. Dampaknya, Yunani bersiap menghadapi hujan lebat dan angin kencang dengan curah hujan diperkirakan mencapai 50-150 mm, tertinggi di sekitar pulau Skiathos.
Bagi Yunani, ancaman ini datang hanya sepekan setelah banjir parah melanda Kreta, yang menyeret sejumlah mobil dan pohon ke laut. Otoritas setempat kini waspada terhadap potensi banjir susulan, terutama di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Sementara itu, di belahan dunia lain, Badai Topan Simon—badai kategori 4—sedang mendekati pantai Pasifik Meksiko dekat negara bagian Jalisco. Simon merupakan badai ke-21 yang dinamai musim ini di Pasifik, dengan 11 di antaranya mencapai kekuatan badai.
"Sistem tekanan rendah yang melintas dari Adriatik ke Aegea akan membawa hujan lebat, dan kami mengimbau warga di wilayah rawan banjir untuk meningkatkan kewaspadaan," ujar seorang pejabat meteorologi Yunani, seperti dikutip dari laporan cuaca regional.
Topan Simon saat ini memiliki tekanan pusat 933 mb dan angin berkecepatan hingga 241 km/jam. Namun, jika inti badai bergerak ke daratan, kekuatannya diprediksi menurun cepat karena kehilangan pasokan air laut hangat. Meski demikian, hujan deras tetap mengancam Meksiko barat daya dengan akumulasi 300-400 mm, bahkan hingga 500 mm di lokasi terbasah.
Fenomena cuaca ekstrem ini menyoroti pola yang semakin sering terjadi: pergeseran sistem tekanan yang memicu kontras suhu ekstrem dan curah hujan tinggi dalam waktu singkat. Bagi Indonesia, meskipun secara geografis jauh, dinamika atmosfer global seperti ini dapat memengaruhi pola musim hujan dan potensi bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap mengingatkan bahwa anomali suhu permukaan laut dan pergerakan tekanan di belahan lain dapat berdampak pada cuaca domestik, terutama saat transisi musim.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya seberapa cepat Yunani dan Meksiko pulih dari dampak badai, tetapi juga sejauh mana negara-negara lain—termasuk Indonesia—memperkuat sistem peringatan dini dan adaptasi terhadap cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Apakah infrastruktur dan kesiapsiagaan kita sudah cukup menghadapi kejutan iklim semacam ini?



