Mengapa Xbox Series S Tetap Lebih Murah dari Series X di Tengah Badai Kenaikan Harga Konsol
Baca dalam 60 detik
- Xbox Series S dibanderol mulai $500, jauh lebih murah dari Series X termurah $750, meski keduanya mengalami kenaikan harga akibat krisis komponen.
- Perbedaan harga bersumber dari spesifikasi: Series S tanpa drive disk, RAM 10GB, dan GPU 20 compute unit, sedangkan Series X memiliki 16GB RAM dan 52 compute unit.
- Pilihan konsol bergantung pada kebiasaan bermain; gamer yang mengandalkan Game Pass bisa puas dengan Series S, sementara pemburu performa 4K harus merogoh kocek lebih dalam untuk Series X.

Di saat konsol generasi kesembilan seharusnya memasuki fase penurunan harga, pasar justru menyaksikan fenomena sebaliknya. Xbox Series X dan Series S kini dijual lebih mahal dibandingkan beberapa bulan lalu, imbas dari lonjakan biaya komponen yang dipicu krisis pasokan RAM global. PlayStation 5 bahkan telah dua kali menaikkan harga dalam setahun, dan Nintendo Switch 2 diprediksi menyusul dengan banderol lebih tinggi pada 2026. Namun, di tengah gelombang kenaikan tersebut, Xbox Series S tetap mempertahankan posisinya sebagai opsi paling ramah kantong dengan harga mulai $500—terpaut jauh dari Series X termurah yang dibanderol $750.
Selisih harga yang signifikan itu bukan tanpa alasan. Perbedaan mendasar terletak pada arsitektur perangkat keras yang diusung masing-masing konsol. Series S dirancang sebagai perangkat digital-only, tanpa drive disk, sehingga memangkas biaya produksi. Sementara itu, Series X—meski ada varian tanpa drive disk yang lebih murah $50—tetap membawa spesifikasi internal yang lebih galak. Keputusan Microsoft untuk mengunci Series S pada ekosistem digital sepenuhnya menjadi salah satu faktor utama yang membuat harganya lebih kompetitif.
Dari sisi dapur pacu, Series S memang bukan tandingan Series X. Model dasar Series S menawarkan penyimpanan 512GB, dengan opsi 1TB yang dijual $100 lebih mahal. Series X hadir dengan penyimpanan 1TB standar, dan model 2TB telah dihentikan produksinya pada 2026. Keduanya masih bisa diperluas menggunakan kartu ekspansi yang dicolokkan ke bagian belakang konsol. Namun, perbedaan terbesar terletak pada kemampuan pemrosesan: Series X mengusung 12 teraflops dan menargetkan resolusi 4K, sedangkan Series S hanya 4 teraflops dengan resolusi maksimal 1440p di sebagian besar game. Meski demikian, keduanya sama-sama mendukung refresh rate 120 fps.
Secara teknis, kedua konsol menggunakan CPU AMD Zen 2 kustom, tetapi Series X memiliki clock lebih tinggi sehingga lebih cepat. GPU-nya juga berbasis AMD RDNA 2, namun Series X memiliki 52 compute unit (CU) berbanding hanya 20 CU di Series S. Soal RAM, Series X dibekali 16GB dengan 10GB berkecepatan 560 GB/s dan 6GB pada 336 GB/s. Series S hanya memiliki 10GB RAM, dengan 8GB beroperasi pada 224 GB/s dan 2GB pada 56 GB/s. Kombinasi inilah yang membuat Series X lebih mahal, karena komponennya jauh lebih kompleks dan bertenaga.
Bagi calon pembeli, keputusan membeli Xbox Series S atau X sangat bergantung pada gaya bermain. Jika Anda tidak memiliki koleksi game fisik dan lebih banyak mengandalkan layanan Game Pass, ketiadaan drive disk di Series S bukan masalah besar. Sebaliknya, jika Anda gemar berburu diskon game fisik atau ingin memiliki salinan fisik, Series X adalah pilihan tepat. Series S juga unggul dalam hal dimensi: sekitar 60% lebih kecil, sehingga lebih mudah ditempatkan di rak TV.
Soal performa grafis, Series S memang berada di bawah Series X. Namun, bagi sebagian pemain, perbedaan itu tidak terlalu terasa, terutama jika tidak selalu menuntut resolusi 4K native. Series S masih mampu menjalankan game pada 120 fps di judul yang kompatibel, dan mendukung upscaling 4K. Bagi yang mengutamakan kualitas visual tertinggi, Series X tetap menjadi jawaranya.
Ada baiknya juga mempertimbangkan untuk menunggu kehadiran keluarga perangkat Project Helix dari Microsoft. Perangkat generasi berikutnya ini diprediksi akan lebih mahal, dan besaran peningkatan teknisnya belum diketahui pasti. Microsoft berencana mengirimkan perangkat alpha Project Helix ke pengembang pada 2027, yang berarti produk final kemungkinan baru meluncur setidaknya setahun setelahnya. Jika Anda tidak keberatan menunggu, menabung untuk teknologi yang lebih mutakhir bisa menjadi strategi yang bijak.
Di Indonesia, kenaikan harga konsol global ini bisa berdampak pada harga ritel lokal, terutama karena sebagian besar unit masih diimpor. Distributor dan toko ritel mungkin akan menyesuaikan harga dalam beberapa bulan ke depan. Bagi gamer Tanah Air yang ingin beralih ke konsol generasi terbaru, memperhitungkan total biaya kepemilikan—termasuk langganan Game Pass dan aksesori—menjadi semakin krusial. Apakah Anda akan tetap memilih Series S yang lebih terjangkau, atau menunggu Project Helix yang kabarnya lebih canggih?



