Bandara Riyadh Diserang, Penerbangan Global Berisiko
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone dan rudal Houthi ke Bandara King Khalid menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya, memaksa penangguhan operasional.
- Sejumlah negara mengeluarkan peringatan perjalanan ke Arab Saudi, sementara Iran menyatakan kesediaan membuka dialog dengan Riyadh dan Yaman.
- Ketegangan di Selat Hormuz dan respons AS terhadap proposal Iran menjadi penentu arah konflik dan stabilitas pasokan energi global.

Serangan udara yang dilancarkan milisi Houthi yang didukung Iran terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh telah menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya dalam sepekan terakhir. Otoritas penerbangan Saudi pun memperpanjang penangguhan operasional bandara, sementara gelombang peringatan perjalanan dari berbagai negara menambah tekanan internasional terhadap Kerajaan.
Serangan paling mematikan terjadi pada Sabtu lalu, menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300. Sehari kemudian, satu orang tewas dan belasan lainnya luka-luka dalam serangan susulan. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut, memicu pertanyaan serius tentang efektivitas sistem pertahanan udara Saudi meski negara itu dikenal sebagai salah satu pembeli alutsista terbesar di dunia.
Australia, Selandia Baru, Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, Jerman, dan Jepang termasuk negara yang memperingatkan warganya untuk tidak bepergian ke Arab Saudi, khususnya ke bandara Riyadh dan destinasi utama lainnya. Peringatan ini dikeluarkan saat Kerajaan menjadi tuan rumah sejumlah konferensi korporasi bergengsi, seperti World Petroleum Congress, International Energy Forum Ministerial Meeting, dan Future Investment Initiative—acara yang menjadi magnet investasi dan diplomasi ekonomi Riyadh.
Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan negaranya "mungkin" akan bergabung dengan Arab Saudi dalam membalas serangan Houthi. Pernyataan itu memperbesar spektrum eskalasi militer di kawasan, meski Washington belum memutuskan langkah konkret. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud menyatakan Teheran siap mengambil langkah untuk memulai dialog antara Riyadh dan Yaman, tempat Houthi berbasis.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa Iran masih meninjau respons AS terhadap proposalnya untuk membuka kembali Selat Hormuz dan akan membalas melalui perantara. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap ketegangan di sana langsung memengaruhi harga energi global.
"Kami masih mempelajari jawaban Amerika dan akan menyampaikannya melalui jalur mediasi," ujar Baghaei seperti dikutip Reuters, menandakan diplomasi tertutup masih berjalan di tengah ketegangan militer.
Bagi Indonesia, eskalasi di Timur Tengah bukan sekadar berita jauh. Sebagai importir minyak mentah, Indonesia rentan terhadap lonjakan harga minyak dunia jika konflik meluas ke Selat Hormuz. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak terhadap subsidi energi dan inflasi, terlebih ketika nilai tukar rupiah masih rentan terhadap gejolak eksternal. Selain itu, banyak tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di Arab Saudi dan kawasan Teluk, sehingga keamanan mereka menjadi perhatian langsung.
Peringatan perjalanan juga berpotensi mengganggu jadwal penerbangan umrah dan haji, yang menjadi salah satu rute utama maskapai Indonesia. Jika bandara Riyadh tetap ditutup dalam waktu lama, biaya operasional penerbangan bisa meningkat dan berimbas pada harga tiket. Di sisi lain, ketegangan ini dapat mendorong percepatan transisi energi dalam negeri, meski dalam jangka pendek ketergantungan pada bahan bakar fosil masih sulit dihindari.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada dua hal: apakah AS benar-benar terlibat dalam operasi militer melawan Houthi, dan apakah Iran serius membuka jalur diplomasi. Jika keduanya gagal, risiko perang terbuka di kawasan Teluk akan meningkat, dengan konsekuensi besar bagi ekonomi global. Sebaliknya, jika dialog Riyadh-Yaman terwujud, ada peluang meredakan ketegangan—meski tanpa jaminan Houthi akan menghentikan serangan. Dunia menunggu langkah berikutnya dari Washington dan Teheran.



