PSSI Kutuk Penyerangan Bus Persib U-18: Pelaku Harus Dihukum Berat
Baca dalam 60 detik
- Sekjen PSSI Yunus Nusi mengecam insiden penyerangan terhadap rombongan Persib Bandung U-18 di Rest Area Batang KM 360, Jawa Tengah, yang menyebabkan personel media menjadi korban kekerasan dan sejumlah barang hilang.
- PSSI menuntut aparat kepolisian menangkap dan menghukum berat pelaku, sekaligus meminta operator liga serta klub terkait mengambil langkah tegas untuk mencegah terulangnya kekerasan di sepak bola nasional.
- Insiden ini menjadi ujian bagi komitmen Indonesia dalam menciptakan ekosistem sepak bola yang aman, terutama bagi atlet muda, menjelang bergulirnya kompetisi Elite Pro Academy musim berikutnya.

JAKARTA – Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, menyampaikan kecaman keras atas dugaan penyerangan yang menimpa rombongan Persib Bandung U-18 saat dalam perjalanan pulang dari turnamen Elite Pro Academy (EPA) di Solo, Jawa Tengah. Insiden yang terjadi pada Minggu (11/10/2026) itu berlangsung di Rest Area Batang KM 360, dan mengakibatkan seorang awak media Persib menjadi korban kekerasan fisik, kerusakan bus, serta hilangnya sejumlah koper milik ofisial dan pemain.
Dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Senin (12/10), Yunus menegaskan bahwa keselamatan seluruh insan sepak bola—mulai dari pemain, ofisial, pekerja media, hingga suporter—adalah harga mati. Ia merujuk pada komitmen global FIFA yang menekankan bahwa setiap orang yang datang menonton pertandingan harus bisa kembali ke rumah dengan selamat. "Ini di luar batas akal sehat. Pertama kali kejadian seperti ini menimpa anak-anak pemain muda Elite Pro Academy Persib Bandung," ujarnya.
Yunus menyoroti bahwa para pemain U-18 sama sekali tidak memahami rivalitas suporter. "Mereka hanya bermain bola untuk kepentingan pribadi, klub, dan sepak bola nasional. Rivalitas itu hanya 90 menit di lapangan, bukan alasan untuk melakukan tindak kriminal," tegasnya. Ia menambahkan bahwa PSSI akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap, menangkap, dan memberikan sanksi maksimal kepada pelaku.
"Kami sangat menyayangkan. Ini sudah tidak masuk akal, apa yang dilakukan oleh mereka-mereka ini dengan begitu ganasnya melakukan tindakan kriminal. PSSI akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengungkap, mencari, menangkap, serta memberikan sanksi yang seberat-beratnya." – Yunus Nusi, Sekjen PSSI
Lebih lanjut, PSSI meminta operator liga dan klub terkait mengambil tindakan tegas, termasuk mengevaluasi sistem pengamanan dan transportasi tim muda. Dorongan juga disampaikan kepada kepolisian agar mengusut tuntas kronologi, mengidentifikasi pelaku, dan memproses dugaan tindak pidana sesuai hukum yang berlaku. "Kalau ulah suporter seperti ini terus terjadi, tidak akan ada damai di sepak bola kita. Sampai kapan ini berakhir kalau kita tidak saling sadar?" ujar Yunus.
Insiden ini menjadi pukulan telak bagi upaya pembinaan usia dini yang tengah digalakkan PSSI. Elite Pro Academy adalah kompetisi kunci untuk menjaring talenta muda, dan kejadian seperti ini berpotensi menurunkan minat orang tua melepas anaknya berkompetisi di luar kota. Keamanan perjalanan tim muda menjadi sorotan, terutama karena bus rombongan melintasi jalur antarkota yang rawan. PSSI pun mendesak adanya protokol pengawalan dan koordinasi dengan kepolisian daerah untuk setiap perjalanan tim peserta EPA.
Kasus ini juga menambah daftar panjang masalah kekerasan suporter di Indonesia. Meski rivalitas Persib dan tim-tim tertentu kerap memanas, sasaran kekerasan kali ini adalah anak-anak di bawah umur dan seorang jurnalis—sebuah preseden buruk yang bisa memengaruhi citra sepak bola nasional di mata FIFA dan investor. PSSI berharap aparat bergerak cepat, karena penanganan yang lamban hanya akan memperkuat impunitas.
Ke depan, publik menanti apakah kepolisian mampu menangkap pelaku dan apakah PSSI serta operator liga benar-benar memperketat standar keamanan. Tanpa tindakan nyata, sepak bola Indonesia berisiko kehilangan generasi emas yang seharusnya dibina, bukan diteror di jalan pulang.



