OpenAI dan Meta Bersaing di Agen AI: Dot vs Muse, Siapa Lebih Siap?
Baca dalam 60 detik
- Meta meluncurkan Muse pada 8 September, disusul OpenAI dengan Dot tiga pekan kemudian; keduanya menawarkan agen AI yang terus bekerja setelah pengguna meninggalkan obrolan.
- Perbedaan mencolok terletak pada harga: Muse menyediakan paket gratis terbatas dan berbayar mulai $20, sedangkan Dot hanya tersedia lewat langganan Pro $100 per bulan.
- Keterbatasan akses dan pengawasan manusia masih menjadi kendala utama, dengan Amazon memblokir Muse dan OpenAI membatasi Dot di luar EEA, Swiss, serta Inggris.

Meta dan OpenAI resmi memasuki babak baru persaingan kecerdasan buatan melalui peluncuran agen otonom yang mampu bekerja tanpa harus terus-menerus dipandu perintah. Meta lebih dulu melepas Muse pada 8 September, sementara OpenAI menyusul dengan fitur Dot di dalam ChatGPT sekitar tiga pekan berselang. Keduanya menjanjikan kemampuan menjalankan tugas secara mandiri, termasuk mengoperasikan komputer awan sendiri dan terhubung ke layanan eksternal.
Konsep dasarnya sederhana: pengguna memberikan instruksi awal, lalu agen AI akan meneruskan pekerjaan itu bahkan setelah ditinggal. Muse dapat berbelanja, mengisi formulir, menyusun rencana perjalanan, mengirim surel, hingga memantau harga barang. Adapun Dot dirancang untuk menangani riset berkelanjutan, bekerja lintas aplikasi, dan menjalankan tugas berulang. OpenAI mengintegrasikan Dot secara erat dengan ChatGPT, Work, dan Codex.
Meski terdengar menjanjikan, realitas di lapangan menunjukkan agen-agen ini belum sepenuhnya otonom. Meta menegaskan Muse akan meminta izin sebelum melakukan tindakan sensitif seperti mengirim surel atau melakukan pembelian. OpenAI menerapkan sistem izin, Aturan Khusus, dan tinjauan otomatis untuk mengendalikan perilaku Dot. Keduanya memperingatkan bahwa agen mereka masih bisa keliru. Bahkan akses peramban pun menemui hambatan: Amazon telah memblokir Muse untuk berbelanja di situsnya.
Perbedaan paling kentara terletak pada struktur harga. Meta menawarkan tiga tingkatan: gratis dengan batas pemakaian, Power seharga $20 per bulan, dan Maximum $100 per bulan. Sebaliknya, OpenAI membuka akses Dot hanya melalui langganan Pro 100 senilai $100 per bulan. Untuk kalangan bisnis, kursi Business Premium dibanderol $100 per pengguna per bulan (tagihan tahunan) atau $125 per pengguna per bulan (tagihan bulanan).
Biaya bukan satu-satunya pertimbangan. Semakin banyak akun yang ditautkan, semakin canggih kemampuan agen, tetapi itu berarti memberi akses ke surel, kalender, berkas, dan sesi peramban. Meta menyatakan percakapan dan data di dalam mesin virtualnya tidak dibagikan ke sistem periklanan, dan pengguna dapat memilih agar interaksi tidak dipakai untuk meningkatkan model AI mereka. Namun, Engadget menemukan bahwa pengaturan peningkatan model aktif secara default, dengan opsi izin default yang hanya meminta konfirmasi untuk sebagian tindakan.
OpenAI menyatakan aktivitas Dot dari paket personal dapat digunakan untuk memperbaiki model, bergantung pada pengaturan ChatGPT pengguna. Data dari paket Business dan Enterprise tidak dipakai untuk pelatihan secara default. Riset proaktif Dot bersifat hanya-baca hingga tindakan selanjutnya melewati pemeriksaan izin normal.
"Kedua perusahaan memperingatkan bahwa agen mereka dapat membuat kesalahan," demikian pernyataan yang menggambarkan keterbatasan teknologi ini.
Ketersediaan geografis menambah kerumitan. Dot saat ini digulirkan untuk pengguna Pro yang memenuhi syarat di luar Kawasan Ekonomi Eropa (EEA), Swiss, dan Inggris. Untuk pengguna Business Premium, Dot tersedia di wilayah ChatGPT yang didukung, sedangkan akses Enterprise masih dalam tahap beta. OpenAI menegaskan penggunaan Dot tidak akan mengurangi batas pemakaian kecuali Dot bekerja di dalam ChatGPT Work atau Codex. Sementara itu, Muse baru tersedia di Amerika Serikat dan Kanada.
Bagi Indonesia, kehadiran agen-agen ini membuka peluang sekaligus tantangan. Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat memanfaatkan agen AI untuk otomatisasi tugas seperti pemantauan harga atau pengelolaan surel, tetapi biaya langganan yang tinggi dan keterbatasan akses regional menjadi penghalang. Selain itu, isu privasi data menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya kesadaran akan perlindungan data pribadi di Tanah Air. Regulasi yang jelas dan edukasi pengguna menjadi kunci agar adopsi teknologi ini tidak menimbulkan risiko.
Ke depan, persaingan OpenAI dan Meta akan semakin ketat. Pertanyaannya, apakah agen AI benar-benar mampu menjadi asisten pribadi yang andal, atau justru menambah beban pengawasan bagi pengguna? Yang jelas, era agen otonom baru saja dimulai, dan siapa pun yang mampu menyeimbangkan kecanggihan, keamanan, serta keterjangkauan akan memenangkan pasar.



