Ethereum Kejar Kapasitas 3x Lipat: Uji Glamsterdam di Sepolia Dimulai, Validator Diminta Update Mendesak
Baca dalam 60 detik
- Prysm merilis versi 7.2.1 hanya sehari sebelum uji Glamsterdam di Sepolia, memastikan validator otomatis mengusulkan blok 200 juta gas tanpa penyesuaian manual.
- Lonjakan batas gas dari 60 juta ke 200 juta menguji seberapa jauh jaringan Ethereum mampu menampung transaksi lebih padat sebelum biaya operasional validator membengkak.
- Hasil uji di Sepolia akan menjadi dasar keputusan berapa kapasitas yang layak diterapkan di mainnet Ethereum, yang belum mengaktifkan Glamsterdam.

Tim pengembang Ethereum merilis pembaruan perangkat lunak darurat pada Senin malam, hanya beberapa jam sebelum uji coba upgrade Glamsterdam di jaringan tes Sepolia dimulai. Langkah ini krusial: tanpa pembaruan tersebut, sebagian validator berisiko menghasilkan blok berukuran jauh lebih kecil dari yang seharusnya, sehingga menggerus validitas pengujian kapasitas terbesar Ethereum tahun ini.
Inti dari uji coba Selasa ini adalah kenaikan batas gas Sepolia dari sekitar 60 juta menjadi 200 juta. Gas adalah satuan yang dipakai Ethereum untuk mengukur seberapa banyak komputasi yang muat dalam satu blok. Dengan ambang yang lebih tinggi, jaringan mendapat ruang lebih lega untuk memproses transaksi dan aktivitas kompleks secara bersamaan—meski konsekuensinya, beban yang ditanggung komputer validator ikut melonjak.
Prysm, salah satu perangkat lunak yang paling banyak digunakan validator Ethereum, menerbitkan versi 7.2.1 pada Senin malam dengan konfigurasi 200 juta gas sudah tertanam di dalamnya. Rilis sebelumnya rampung sebelum angka tersebut dimasukkan ke konfigurasi Sepolia, sehingga validator yang masih memakai versi lama akan tetap menghasilkan blok 60 juta gas kecuali operator mengubahnya secara manual. Validator yang menjalankan versi terbaru akan otomatis mengusulkan blok 200 juta gas begitu Glamsterdam aktif di Sepolia pada 6 Oktober pukul 13:53:36 UTC.
Jika ada validator yang tetap mengusulkan blok pada batas lama, uji coba ini kehilangan makna. Tujuan utama pengujian adalah mengukur bagaimana jaringan berperilaku saat blok berukuran raksasa diproduksi secara konsisten. Blok yang lebih kecil akan mendistorsi data, membuat pengembang sulit menilai apakah infrastruktur Ethereum benar-benar siap menampung kapasitas sebesar itu.
Pengujian ini akan menunjukkan apakah validator mampu secara konsisten menangani blok yang lebih dari tiga kali ukuran default Sepolia sebelumnya, sebelum pengembang memutuskan berapa kapasitas yang cocok untuk Ethereum sendiri.
Pendekatan bertahap ini bukan hal baru. Ethereum secara sistematis menaikkan kapasitas blok untuk mencari titik keseimbangan: seberapa jauh jaringan bisa diperbesar sebelum menjalankan validator menjadi terlalu berat atau terlalu mahal. Ruang blok yang lebih luas pada akhirnya berarti lebih banyak transaksi, transfer stablecoin, dan aplikasi lain yang bisa diproses sebelum pengguna saling berebut ruang dan mendorong biaya naik.
Bagi pasar kripto global, sinyal dari Sepolia ini punya bobot besar. Jika uji coba berjalan mulus, ekspektasi terhadap peningkatan throughput Ethereum di mainnet akan menguat—faktor yang sering menjadi katalis sentimen harga ETH dan token berbasis Ethereum lainnya. Sebaliknya, kegagalan atau inkonsistensi data bisa menunda roadmap kapasitas yang sudah lama dinanti pelaku industri.
Konteks Indonesia sendiri menarik dicermati. Ekosistem kripto Tanah Air terus tumbuh, dengan Bappebti mencatat nilai transaksi aset kripto yang signifikan dan basis investor yang makin besar. Peningkatan kapasitas Ethereum berpotensi menekan biaya transaksi di jaringan layer-1, yang selama ini menjadi keluhan utama pengguna di negara berkembang. Namun, dampaknya tidak serta-merta: adopsi di Indonesia juga bergantung pada kesiapan bursa lokal, infrastruktur validator, dan kejelasan regulasi yang masih dalam transisi ke OJK.
Yang perlu digarisbawahi, angka 200 juta gas ini murni eksperimen di Sepolia. Glamsterdam belum menyentuh mainnet, dan pengembang belum menetapkan berapa kapasitas final yang akan diterapkan. Hasil uji Selasa akan menjadi bahan evaluasi utama: apakah validator sanggup menjaga stabilitas di bawah tekanan blok raksasa, atau apakah ada batas teknis yang belum terpetakan.
Pertanyaan besarnya kini sederhana: jika Sepolia mampu menangani blok tiga kali lebih besar, seberapa cepat Ethereum mainnet menyusul—dan siapkah seluruh ekosistem, termasuk di Indonesia, menanggung konsekuensi teknis maupun ekonominya?



