Modus Baru: Akun AI Palsu Tuduh Pasangan Selingkuh, Incar Korban Lewat WhatsApp
Baca dalam 60 detik
- Seorang pengguna Reddit melaporkan tuduhan perselingkuhan yang datang dari akun Instagram palsu berisi foto buatan AI dan tautan OnlyFans.
- Pelaku diduga memanen data dari LinkedIn dan media sosial untuk merangkai narasi yang terasa personal, lalu menuntut korban mempercayai 'bukti' yang tidak pernah ada.
- Pakar keamanan siber memperingatkan bahwa skema ini adalah pintu masuk penipuan finansial, dan langkah paling aman adalah memblokir kontak tanpa bernegosiasi.

Sebuah pola penipuan digital yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) kembali mencuat setelah seorang perempuan di Reddit mengungkap tuduhan perselingkuhan yang datang dari akun Instagram palsu. Akun tersebut tidak hanya menggunakan foto-foto yang diduga dihasilkan AI, tetapi juga menyertakan tautan bergaya OnlyFans di bio-nya—sinyal pertama bahwa ini bukan pesan dari seseorang yang benar-benar peduli.
Menurut unggahan di subreddit r/Scams, pelaku menghubungi korban melalui pesan teks dari nomor Google Voice. Tuduhan yang dilontarkan: pasangan korban berselingkuh dengan rekan kerja. Namun, alih-alih menyertakan bukti, pelaku justru berargumen bahwa informasi itu berasal dari pihak ketiga yang enggan tampil. Korban pun menegaskan bahwa pasangannya bersedia membuka seluruh isi ponselnya—sebuah tawaran yang, dalam skenario perselingkuhan sungguhan, jarang terjadi.
Yang membuat kasus ini menarik bukan sekadar tuduhannya, melainkan cara pelaku merangkai detail. Akun tersebut menyebut riwayat pekerjaan pasangan korban dan nama rekan kerja yang benar-benar ada, tetapi salah menyebut status hubungan mereka—mengklaim pasangan sudah bertunangan. Kombinasi informasi valid dan fiktif inilah yang membuat komunitas r/Scams yakin ada upaya manipulasi psikologis.
Seorang komentator di Reddit menduga informasi tentang pekerjaan dan rekan kerja diperoleh dari LinkedIn. "Apakah dia punya LinkedIn? Mungkin dari situlah mereka mendapat informasi tentang pekerjaan dan rekan kerjanya," tulisnya. Komentator lain menambahkan bahwa kombinasi profil palsu dan tautan OnlyFans adalah inti penipuan, sementara detail rekan kerja sengaja ditambahkan agar umpan terasa personal.
"Profil palsu plus tautan OnlyFans adalah penipuannya, dan detail rekan kerja mungkin dipanen dari media sosial atau LinkedIn untuk membuat umpan terasa personal," ujar seorang komentator.
Pola ini sejalan dengan peringatan global tentang meningkatnya kejahatan siber berbasis AI. Sebelumnya, seorang pria di Massachusetts dilaporkan kehilangan US$400.000 setelah terlibat hubungan romantis dengan persona AI bernama 'Eliza'. Google juga mengungkap sindikat yang menggunakan 9.000 situs palsu untuk mengarahkan korban ke skema penipuan berbasis AI. Di sisi lain, seorang kreator konten menunjukkan bagaimana seorang penipu menggantikannya secara online menggunakan AI generatif.
Dalam konteks Indonesia, modus serupa berpotensi berkembang seiring tingginya penetrasi media sosial dan aplikasi pesan instan. Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan ribuan laporan penipuan digital setiap tahun, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah. Pelaku sering memanfaatkan data publik dari LinkedIn, Instagram, dan Facebook untuk menyusun narasi yang meyakinkan. Karena itu, pengguna diimbau tidak mudah percaya pada tuduhan atau tawaran yang datang dari akun tak dikenal, terutama yang meminta uang atau data pribadi.
Pakar keamanan siber menilai bahwa skema ini dirancang untuk menciptakan tekanan emosional sebelum korban sempat berpikir jernih. "Jika seseorang benar-benar ingin memperingatkan orang asing, mereka tidak akan melakukannya dengan cara seperti ini," ujar seorang komentator. Komunitas r/Scams pun menyarankan korban untuk segera memblokir semua saluran komunikasi. "Hentikan obrolan dengannya dan blokir nomornya, blokir di Instagram, blokir di mana saja," tulis seorang pengguna.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya mendeteksi akun palsu, tetapi juga membangun literasi digital yang cukup untuk mengenali manipulasi emosional. Pertanyaannya, apakah platform digital akan memperkuat verifikasi identitas, atau justru semakin sulit membedakan manusia asli dari bayangan AI?



