Barelang Jadi Laboratorium Global: Mahasiswa Jerman-Indonesia Rancang Transmigrasi Hijau
Baca dalam 60 detik
- Kawasan Transmigrasi Barelang di Batam menjadi lokasi Summer Course 2026 yang melibatkan mahasiswa Technical University of Munich dan sejumlah perguruan tinggi Indonesia.
- Peserta mengeksplorasi potensi ekonomi, lingkungan, dan sosial Barelang untuk merumuskan model pembangunan kawasan transmigrasi terpadu yang berkelanjutan.
- Hasil pembelajaran lapangan akan dipresentasikan pada 13 Oktober 2026, berpotensi menjadi masukan kebijakan transformasi kawasan transmigrasi nasional.

Kawasan Transmigrasi Barelang di Batam, Kepulauan Riau, untuk pertama kalinya menjadi ruang belajar bersama bagi mahasiswa Indonesia dan Jerman. Melalui Summer Course 2026 bertema "Transformative Transmigration Planning Towards Green Barelang", mahasiswa dari Technical University of Munich (TUM) dan sejumlah perguruan tinggi Tanah Air mengikuti pembelajaran lapangan selama sepuluh hari, mulai 1 hingga 10 Oktober 2026, di Batam, Rempang, dan Galang.
Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan akademik. Peserta diajak memahami secara langsung potensi ekonomi, lingkungan, infrastruktur, dan kehidupan sosial masyarakat di kawasan transmigrasi yang selama ini dikenal sebagai lumbung pertanian dan perikanan. Mereka juga mengeksplorasi bagaimana kawasan tersebut dapat terhubung dengan pusat pertumbuhan Batam yang lebih luas.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi, Nirwan Ahmad Helmi, menilai Barelang memiliki karakter unik yang memungkinkan integrasi pertanian, perikanan, usaha masyarakat, dan akses ekonomi Batam. Menurutnya, pengembangan kawasan perlu melibatkan masyarakat transmigrasi dan lokal, serta menghormati komunitas budaya Melayu.
"Barelang menawarkan lingkungan bagi pembangunan wilayah yang terintegrasi, yang merupakan arah pembangunan, yakni sebuah kawasan ekonomi transmigrasi terpadu yang menggabungkan pertanian dan perikanan dengan akses ke pusat Batam yang luas," ujar Nirwan dalam rilis pers yang diterima LyndHub, Sabtu (3/10/2026).
Ia menambahkan, sektor perikanan dan kelautan menjadi penggerak ekonomi utama yang didukung layanan usaha kecil. Pengembangan pariwisata budaya pun harus melibatkan warga transmigrasi dan masyarakat lokal, terutama komunitas Melayu pesisir.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi Kementerian Transmigrasi, Bondan Djati Utami, menjelaskan bahwa selama di Barelang mahasiswa menjalani observasi, diskusi, dan berbagi pengetahuan. Fokus mereka adalah bagaimana mengembangkan ekosistem kawasan berdasarkan potensi yang ada. "Concern mereka lebih ke arah bagaimana perkembangan, mengembangkan ekosistem yang ada. Pengembangan kawasan Barelang seperti apa," ujar Bondan.
Menurut Bondan, mahasiswa juga mendapatkan informasi mengenai pengembangan Barelang dan Kota Batam sebagai bahan pembanding dalam menyusun gagasan. Hasilnya akan dipresentasikan setelah mereka melanjutkan kegiatan di Semarang. "Output-nya nanti mereka akan berbagi ke kami. Mereka akan mempresentasikan hasilnya pada Selasa (13/10/2026)," tutur Bondan.
Summer Course ini menjadi cermin bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi langsung pada perencanaan pembangunan daerah. Kolaborasi lintas negara membuka perspektif baru: pembangunan kawasan transmigrasi tidak lagi sekadar pemindahan penduduk, tetapi transformasi ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Bagi Indonesia, pengalaman Barelang dapat menjadi model bagi ratusan kawasan transmigrasi lain di luar Jawa. Jika berhasil, konsep "green transmigration" bisa menjadi daya tarik investasi hijau dan pariwisata berbasis komunitas. Namun, tantangan tetap ada: memastikan masyarakat setempat tidak tersingkir oleh arus pembangunan, serta menjaga keseimbangan antara eksploitasi sumber daya dan pelestarian lingkungan.
Ke depan, hasil presentasi mahasiswa pada 13 Oktober mendatang akan menjadi indikator apakah gagasan akademik mampu diterjemahkan menjadi kebijakan konkret. Publik menanti apakah Kementerian Transmigrasi akan mengadopsi rekomendasi tersebut, atau justru mengendap sebagai dokumen tanpa tindak lanjut. Yang jelas, Barelang telah membuktikan diri sebagai ruang belajar global yang patut diawasi.



