AI di Pusat Operasi Keamanan: Angkatan Kerja Senang, tapi Bayang-bayang Otomatisasi Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Survei Swimlane terhadap 500 pekerja keamanan siber di AS dan Inggris menunjukkan 62% merasa AI membantu mengasah keterampilan, namun 47% khawatir karier analis SOC akan semakin sulit di masa depan.
- Meski AI meringankan tugas repetitif, hampir separuh responden lebih memilih insting manusia saat rekomendasi AI bertentangan dengan bukti, dan 20% cemas timnya terlalu bergantung pada AI.
- Kesenjangan persepsi antara eksekutif dan praktisi terungkap: 74% pemimpin mengklaim adopsi AI sudah luas, sementara hanya 49% praktisi yang merasakan hal serupa.

Adopsi kecerdasan buatan di pusat operasi keamanan (SOC) memunculkan paradoks: di satu sisi meningkatkan kepuasan kerja dan mempercepat pengembangan keterampilan, di sisi lain memicu kekhawatiran tentang masa depan karier analis keamanan siber. Temuan ini berasal dari laporan terbaru Swimlane, perusahaan AI agentik, yang menyurvei 500 pekerja keamanan di Amerika Serikat dan Inggris antara Agustus hingga September.
Laporan tersebut mengungkap bahwa 62% responden merasa AI membantu mereka mengembangkan kemampuan di bidang keamanan siber, dan 92% di antaranya melaporkan peningkatan kepuasan kerja. Namun, tidak semua merasakan manfaat serupa. Sekitar 24% pekerja justru menilai AI membatasi kesempatan mereka untuk meningkatkan keterampilan. Menariknya, bahkan di kelompok ini, 91% mengaku tetap lebih puas karena AI mengurangi beban kerja. Temuan ini menjadi angin segar di tengah riset lain yang menunjukkan burnout mendorong banyak profesional keamanan siber mempertimbangkan pindah kerja.
Meski demikian, bayang-bayang otomatisasi menghantui. Hampir separuh responden (47%) memperkirakan karier sebagai analis SOC akan semakin sulit didapat di masa depan, seiring perusahaan mengotomatiskan tugas-tugas yang bisa dilakukan mesin dengan biaya lebih murah. Lebih dari empat dari sepuluh responden mengaku AI telah memangkas waktu investigasi pola ancaman yang sudah dikenal, sementara sekitar sepertiga merasakan percepatan dalam menyusun rekomendasi perbaikan dan proses peninjauan serta triase peringatan.
Namun, AI belum mampu menggantikan sepenuhnya penilaian manusia. Sekitar separuh responden menyatakan lebih mempercayai insting mereka ketika rekomendasi AI bertentangan dengan bukti yang ada. Sekitar satu dari lima pekerja mengaku kekhawatiran terbesarnya adalah tim menjadi terlalu bergantung pada saran AI. "Saat AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan investigasi, analis semakin bertanggung jawab untuk memvalidasi bukti, menangani pengecualian, dan mengambil keputusan berdampak tinggi," ujar Swimlane dalam laporannya.
"Saat AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan investigasi, analis semakin bertanggung jawab untuk memvalidasi bukti, menangani pengecualian, dan mengambil keputusan berdampak tinggi." โ Swimlane
Hampir enam dari sepuluh pekerja menyatakan AI membuka peluang baru untuk mengasah keterampilan pengambilan keputusan strategis. Ini menegaskan dampak ganda AI: mengurangi kebutuhan intervensi manusia di beberapa area, tetapi memperbesar kebutuhan di area lain. Di sisi lain, ada jurang persepsi antara eksekutif dan praktisi. Sebanyak 52% pemimpin melaporkan mampu mengelola lebih banyak aktivitas keamanan, dibandingkan hanya 36% praktisi. Perbedaan juga terlihat dalam pandangan tentang seberapa luas perusahaan menggunakan AI untuk keamanan siber: 74% pemimpin menyebut penerapannya sudah ekstensif, sementara hanya 49% praktisi yang sepakat.
Swimlane mencatat bahwa responden dari kedua kelompok tidak berasal dari organisasi yang sama, sehingga temuan ini tidak menunjukkan ketidaksepakatan tentang lingkungan identik. "Namun pola ini tetap penting karena pemimpin sering menetapkan prioritas investasi, mendefinisikan keberhasilan, dan mengomunikasikan hasil," tambahnya.
Bagi Indonesia, dinamika ini menjadi cermin penting. Pusat operasi keamanan di perusahaan-perusahaan dalam negeri, termasuk perbankan dan penyedia layanan digital, mulai mengadopsi AI untuk deteksi ancaman. Namun, kesenjangan persepsi antara manajemen dan staf teknis bisa memicu kebijakan yang tidak selaras dengan realitas lapangan. Jika investasi AI hanya didasarkan pada klaim eksekutif tanpa memahami pengalaman praktisi, risiko over-reliance dan hilangnya sentuhan manusia dalam pengambilan keputusan kritis bisa meningkat. Di sisi lain, AI berpotensi menjadi solusi untuk mengurangi beban kerja analis yang selama ini rentan burnout, asalkan diimbangi dengan pelatihan dan tata kelola yang tepat.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan menggantikan manusia, melainkan bagaimana organisasi merancang peran hybrid yang memaksimalkan kekuatan AI dan keunggulan judgment manusia. Tanpa strategi SDM yang adaptif, kekhawatiran 47% pekerja tentang masa depan karier analis SOC bisa menjadi kenyataan pahit.



