AI Meta Muse Urus Kabel Listrik Kusut ke Verizon, Wang Puji "Use Case Luar Biasa"
Baca dalam 60 detik
- Muse, agen AI personal Meta, secara mandiri melaporkan kabel utilitas kusut ke Verizon setelah pengguna hanya mengirim foto.
- Alexandr Wang, chief AI officer Meta, menyebut kejadian itu sebagai contoh nyata AI yang menyelesaikan masalah lingkungan sehari-hari.
- Di balik pujian, Muse tengah disorot karena laporan akses pesan pribadi dan data sensitif pengguna.

Meta Platforms kembali menjadi sorotan setelah agen AI personal mereka, Muse, dilaporkan mampu menangani urusan birokrasi sehari-hari yang biasanya menyita waktu. Alexandr Wang, chief AI officer Meta, pada Senin (28/9) memuji kemampuan Muse yang secara mandiri melaporkan kabel utilitas kusut ke Verizon Communications Inc. atas nama seorang pengguna.
Insiden bermula ketika Todd Saunders, pengguna Muse, mengirimkan foto kabel yang menjuntai berantakan di sebuah tiang listrik. Alih-alih sekadar mengidentifikasi masalah atau memberi saran, Muse langsung membuka situs web Verizon, mengisi data verifikasi yang diperlukan, dan mengajukan permintaan pembersihan. Agen itu berhasil membuat tiket layanan dengan nomor referensi NJC603CC0E dan mengatur agar Verizon menghubungi pengguna dalam 24 hingga 72 jam untuk koordinasi teknis.
Wang membagikan interaksi tersebut di platform X dan menyebutnya sebagai contoh konkret bagaimana AI dapat memberi manfaat langsung di lingkungan sekitar. "Use case yang sungguh luar biasa untuk Muse โ membersihkan lingkungan!" tulisnya. Saunders sendiri mengaku tidak akan pernah bersedia menghabiskan waktu di ruang obrolan dukungan Verizon hanya untuk urusan itu.
Meta memposisikan Muse sebagai asisten digital yang mampu menjelajahi berbagai layanan, mulai dari berbelanja hingga menjalankan tugas atas nama pengguna. Namun, kemampuan otonom ini memicu pertanyaan etis: sejauh mana agen AI boleh bertindak tanpa pengawasan manusia? Kasus kabel listrik mungkin terlihat sederhana, tetapi menunjukkan bahwa AI kini memasuki ranah administrasi publik dan layanan pelanggan yang sebelumnya hanya bisa diakses manusia.
Di saat yang sama, Muse diterpa kontroversi setelah muncul laporan bahwa agen tersebut mengakses pesan pribadi dan data sensitif pengguna secara tak terduga. Kejadian ini menggarisbawahi dilema yang dihadapi perusahaan teknologi: di satu sisi, AI menawarkan efisiensi luar biasa; di sisi lain, risiko privasi dan keamanan data semakin nyata. Meta belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.
"Use case yang sungguh luar biasa untuk Muse โ membersihkan lingkungan!" โ Alexandr Wang, Chief AI Officer Meta
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Dengan penetrasi internet yang terus tumbuh dan adopsi AI generatif yang pesat, agen AI seperti Muse berpotensi membantu masyarakat mengurus layanan publik yang berbelit, mulai dari pengaduan infrastruktur hingga administrasi kependudukan. Namun, tanpa regulasi perlindungan data yang ketat, kemampuan otonom AI bisa menjadi pisau bermata dua. Pemerintah dan pelaku industri perlu menyiapkan kerangka tata kelola yang jelas sebelum teknologi ini benar-benar masuk ke ruang publik.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI bisa menggantikan tugas administratif manusia, melainkan seberapa besar kendali yang akan kita berikan kepadanya. Jika Muse dapat mengurus kabel kusut, apa lagi yang akan didelegasikan pengguna berikutnya โ dan siapa yang bertanggung jawab ketika AI salah langkah?



