Satu EV Terjual Tiap 100 Detik di Australia: Ledakan Pasar dan Pelajaran untuk Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Penjualan kendaraan listrik di Australia melonjak 117% pada semester I-2026, dengan total 157.957 unit—setara satu unit terjual setiap 100 detik.
- Standar efisiensi kendaraan nasional menjadi katalis utama, menekan harga dan memperbanyak pilihan model hingga mendekati 200 varian.
- Transisi masih timpang: bus dan mobil listrik melaju pesat, sementara truk dan van listrik tertahan di bawah 1% pangsa pasar.

Australia mencatat rekor penjualan kendaraan listrik (EV) sepanjang paruh pertama 2026. Sebanyak 157.957 unit EV terjual antara Januari dan Juni—naik 117% dibanding periode yang sama tahun lalu, atau setara dengan satu unit terjual setiap 100 detik. Angka ini menempatkan EV sebagai satu dari empat kendaraan baru yang meluncur di jalanan Australia.
Laporan State of EVs yang dirilis Dewan Kendaraan Listrik (Electric Vehicle Council) menyebutkan lonjakan ini terjadi saat penjualan kendaraan bensin dan diesel justru menyusut 14% secara tahunan. “EV kini menjadi instrumen rumah tangga untuk menekan biaya hidup,” ujar CEO Dewan EV, Julie Delvecchio. Ia menambahkan krisis bahan bakar mempercepat tren, tetapi bukan pemicu awalnya. “Krisis itu justru menegaskan nilai kerja kebijakan yang sudah berjalan—biaya operasional yang lebih murah dan ketahanan energi jadi terasa langsung bagi rumah tangga Australia.”
Dari total tersebut, sekitar 104.000 unit merupakan kendaraan listrik berbasis baterai murni, sedangkan 54.000 unit adalah hibrida plug-in. Hingga Juni 2026, populasi EV di Australia mencapai 612.000 unit. Kepala Kebijakan dan Advokasi Dewan EV, Aman Gaur, optimistis target satu juta EV di jalan raya Australia pada tahun depan akan tercapai. “Kami berada di jalur yang tepat,” katanya.
Pendorong utama lonjakan ini adalah standar efisiensi kendaraan nasional yang mewajibkan produsen memasok kendaraan dengan target emisi rata-rata per kilometer. Menurut Gaur, regulasi tersebut “secara substansial meningkatkan pilihan dan daya saing harga EV.” Dewan EV kini mendesak pemerintah federal memperpanjang standar itu melampaui 2029 agar selaras dengan target pengurangan emisi 2035.
Meski pasar mobil dan bus listrik melesat, segmen truk dan van listrik masih tertinggal. Penjualannya belum menembus 1% dari masing-masing pasar. “Setiap truk listrik adalah peningkatan ketahanan energi Australia,” tegas Delvecchio. “Kami baru menyentuh permukaan transisi ini.”
Dari sisi kebijakan, laporan menilai pemerintah federal, ACT, dan NSW berada di “kelas teratas”, sementara Australia Selatan, Queensland, Tasmania, dan Northern Territory justru mundur. Gaur menyoroti langkah Queensland yang baru-baru ini menginvestasikan 630 bus diesel. “Bus-bus itu akan beroperasi hingga akhir dekade berikutnya dan dipastikan mencemari udara Brisbane saat Olimpiade digelar,” ujarnya.
“Kami baru menyentuh permukaan transisi ini. Setiap truk listrik adalah peningkatan ketahanan energi Australia.” — Julie Delvecchio, CEO Electric Vehicle Council
Konteks Indonesia
Ledakan EV di Australia memberikan sinyal kuat bagi Indonesia yang tengah membangun ekosistem kendaraan listrik. Seperti Australia, Indonesia memiliki target ambisius adopsi EV, tetapi masih menghadapi tantangan infrastruktur pengisian daya dan harga yang terjangkau. Kebijakan insentif fiskal dan standar emisi yang konsisten menjadi kunci. Jika Australia mampu mendorong pangsa EV hingga 25% dalam setengah tahun, Indonesia berpotensi mempercepat transisi serupa—asalkan regulasi tidak setengah hati dan infrastruktur dikebut.
Pelajaran lain: transisi tidak boleh hanya berfokus pada mobil pribadi. Sektor logistik dan angkutan umum, seperti truk dan bus, justru menyumbang emisi besar. Australia masih bergulat dengan hal ini; Indonesia dapat mengambil langkah lebih awal dengan mendorong elektrifikasi armada komersial dan transportasi publik. Tanpa itu, target net zero bisa jadi sekadar wacana.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah EV akan mendominasi, melainkan seberapa cepat ekosistem pendukung—dari jaringan pengisian daya hingga pasokan baterai—siap menampung lonjakan. Australia telah membuktikan bahwa kombinasi kebijakan dan permintaan pasar bisa menghasilkan lompatan besar. Akankah Indonesia menyusul, atau justru tertinggal karena inkonsistensi regulasi?



