Basarnas Tegaskan Operasi SAR KM Virgo 8 Berlanjut, 64 Korban Masih Dicari
Baca dalam 60 detik
- Basarnas memastikan pencarian korban KM Virgo Transport 8 tidak dihentikan selama masih ada peluang evakuasi, meski arus laut mencapai 7 knot.
- Dari 243 orang dalam manifes, 179 telah ditemukan (108 selamat, 71 meninggal), sementara 64 lainnya masih dalam pencarian.
- Evaluasi berkala setiap tujuh hari dan tekanan waktu identifikasi DVI menjadi penentu arah operasi kemanusiaan di Perairan Masalembo.

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan operasi pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Perairan Masalembo, Laut Jawa, belum akan dihentikan. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa kelanjutan misi kemanusiaan ini bergantung pada dua syarat: seluruh korban ditemukan, atau kondisi lapangan dinilai sudah tidak memungkinkan lagi untuk evakuasi.
"Operasi SAR tidak akan pernah dihentikan selama masih memungkinkan untuk bisa menemukan korban dan mengevakuasi korban," kata Syafii di Hotel Grand De Djokja, Yogyakarta, Selasa (29/9). Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi publik mengenai batas waktu pencarian setelah kapal ditemukan dalam kondisi terbalik pada 13 September lalu.
Hingga Senin (28/9), tim gabungan telah menemukan 179 orang dari total 243 nama dalam manifes. Rinciannya, 108 orang selamat dan 71 orang meninggal dunia. Artinya, masih ada 64 orang yang belum ditemukan, dan hampir sepekan terakhir jumlah korban yang dievakuasi relatif stagnan karena kendala arus bawah laut.
Kendala utama bukan pada ketersediaan personel, melainkan pada kondisi oseanografi. Syafii mengungkapkan arus di lokasi sempat melampaui 6 knot dan bahkan menyentuh 7 knot. Padahal, peralatan seperti remotely operated vehicle (ROV) umumnya hanya dioperasikan pada arus sekitar 1,5 knot. Penyelam pun tidak bisa bekerja sepanjang hari; Basarnas menyesuaikan jadwal dengan pasang surut demi menjaga keselamatan tim.
"Peralatan yang kita miliki tidak direkomendasikan untuk masuk tentunya tidak akan kita lakukan, karena operasi hanya bisa dilaksanakan dengan jaminan bahwa seluruh personel yang melaksanakan operasi harus dalam kondisi aman," ujar Syafii.
Ia merujuk pada pengalaman operasi KM Tunu Pratama Jaya di Selat Bali tahun lalu. Saat itu, kombinasi kedalaman laut, derasnya arus, dan pertimbangan medis membuat evakuasi tidak lagi layak dilanjutkan. Namun, Syafii menegaskan jika masih ada tanda-tanda korban yang bisa diangkat, operasi akan tetap berjalan.
Di sisi lain, proses identifikasi korban terus dilakukan bersama tim Disaster Victim Identification (DVI) dan unsur medis. Syafii mengakui waktu menjadi faktor yang memberatkan karena semakin lama, identifikasi jasad semakin sulit. Evaluasi operasi dilakukan setiap tujuh hari untuk menentukan langkah berikutnya berdasarkan informasi terbaru di lapangan.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 WITA saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin. Kapal ditemukan di hari yang sama dalam posisi terbalik. Dugaan awal, cuaca buruk menjadi pemicu insiden. Dari 114 korban yang ditemukan pada hari pertama, enam di antaranya sudah meninggal, dan sejak itu Basarnas menduga masih ada korban yang terjebak di dalam lambung kapal.
Bagi Indonesia, insiden ini menggarisbawahi dua hal sekaligus. Pertama, keselamatan pelayaran rakyat di jalur padat Surabaya–Banjarmasin masih menghadapi risiko tinggi, terutama pada musim cuaca ekstrem. Kedua, kapasitas teknologi pencarian bawah air nasional memiliki batas operasional yang jelas, sehingga kebutuhan investasi peralatan SAR yang tahan arus kuat menjadi relevan. Publik pun menanti transparansi data manifes dan hasil investigasi penyebab kecelakaan.
Ke depan, keputusan paling krusial bukan sekadar melanjutkan atau menghentikan operasi, melainkan bagaimana pemerintah memperkuat sistem peringatan dini cuaca di Laut Jawa dan mempercepat identifikasi korban melalui kolaborasi DVI. Jika arus kembali menguat dan waktu terus berjalan, mampukah Basarnas menuntaskan pencarian 64 orang yang masih hilang tanpa mengorbankan keselamatan tim di lapangan?



