Orang Tua Beralih ke ChatGPT untuk Potret Sekolah, tapi Ada Jebakan Hukum dan Privasi
Baca dalam 60 detik
- Meningkatnya biaya foto sekolah mendorong orang tua memakai generator gambar AI untuk membuat potret sendiri.
- Menghapus watermark dari bukti foto melanggar hak cipta dan dapat berujung tuntutan hukum.
- Mengunggah foto anak ke chatbot menimbulkan risiko privasi karena data disimpan dan dilatih.

Biaya foto sekolah yang terus melonjak memicu tren baru di kalangan orang tua: menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan potret anak sendiri. Alih-alih membayar puluhan hingga ratusan dolar, sebagian orang tua memilih memotret anak mereka di depan dinding putih, lalu mengunggahnya ke ChatGPT dengan instruksi agar gambar diubah menyerupai foto sekolah profesional.
Praktik ini menyebar cepat melalui media sosial. Beberapa unggahan di TikTok dan Facebook bahkan mendorong orang tua untuk mengunduh bukti foto (proof) yang masih berwatermark, mengunggahnya ke chatbot, dan meminta AI menghapus logo perusahaan fotografi. Namun, langkah tersebut berisiko melanggar Undang-Undang Hak Cipta dan Digital Millennium Copyright Act (DMCA) di Amerika Serikat.
Erin Russell, pengacara dari The Russell Firm di Chicago, menegaskan bahwa hak cipta atas foto dimiliki oleh fotografer yang menekan tombol kamera, bukan orang tua atau anak. "Saat gambar diciptakan, orang yang mengambil foto memiliki hak atas gambar tersebut, kecuali hak itu dialihkan secara eksplisit," ujarnya. Menghapus watermark tanpa izin dapat membawa konsekuensi hukum, dengan ganti rugi statutori mulai dari $750 hingga $150.000 jika terbukti pelanggaran disengaja.
Selain masalah hukum, ada kekhawatiran lebih besar terkait privasi. Russell memperingatkan bahwa apa pun yang diunggah ke ChatGPT tidak bersifat rahasia dan dapat disita oleh pihak berwenang. "Orang-orang mengira ChatGPT ada di ponsel mereka. Itu tidak benar. Data tidak terkendali," katanya. Foto anak yang diunggah dapat digunakan untuk melatih model AI, dan bahkan setelah dihapus, data tetap tersimpan di sistem OpenAI hingga 30 hari.
Daliah Saper, pengacara dari Saper Law Offices, menambahkan bahwa mengunggah foto anak ke sistem AI berarti "menyemai citra anak ke dalam model bahasa besar" yang bisa dimanipulasi atau digunakan untuk pelatihan di masa depan. Risiko ini jauh lebih mengkhawatirkan daripada potensi tuntutan hukum, terutama karena data pribadi anak dapat disalahgunakan.
"Saya lebih khawatir tentang mengunggah foto anak ke chatbot AI daripada risiko digugat," ujar Russell.
Meski demikian, ada cara-cara legal dan lebih aman untuk menghemat biaya foto sekolah. Consumer Reports merekomendasikan memesan paket foto terkecil, membeli hanya unduhan digital, memotret sendiri di rumah, atau menggunakan jasa fotografer lokal. Layanan seperti Capturely menawarkan sesi foto virtual dengan fotografer profesional melalui panggilan video, menghasilkan tiga foto edit dalam 24 jam dengan biaya $79.
Fenomena ini mencerminkan bagaimana tekanan ekonomi mendorong inovasi konsumen, tetapi juga menyoroti perlunya literasi digital dan kesadaran hukum. Di Indonesia, tren serupa berpotensi muncul seiring meningkatnya penggunaan AI generatif. Orang tua perlu memahami bahwa hak cipta dan privasi data adalah dua hal yang tidak bisa ditawar. Apakah kita siap menghadapi konsekuensi dari kemudahan teknologi yang tampak menguntungkan ini?



