Menkes Peringatkan Oseltamivir Tak Bisa Ditebus Bebas: Resistensi Bisa Berujung Fatal
Baca dalam 60 detik
- Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan stok oseltamivir tersedia di rumah sakit, namun penggunaannya harus melalui penilaian medis ketat.
- Pemberian obat antivirus flu secara sembarangan dikhawatirkan memicu resistensi yang berpotensi mematikan, terutama bila muncul wabah flu berat seperti H5N1.
- Kemenkes meminta masyarakat tidak panic buying dan mengandalkan istirahat serta hidrasi untuk flu ringan, sementara kasus berat dirujuk ke fasilitas kesehatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan persediaan oseltamivir, obat antivirus untuk influenza, masih tersedia di rumah sakit-rumah sakit. Namun ia menekankan obat itu tidak boleh diberikan secara bebas, karena penggunaan yang tidak tepat dapat memicu resistensi dan berujung pada risiko kematian bila pasien terinfeksi flu berat.
Pernyataan itu disampaikan Budi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (28/9/2026), menanggapi keluhan sebagian warga yang kesulitan memperoleh oseltamivir. Menurutnya, para ahli telah mengingatkan bahwa konsumsi obat tanpa indikasi medis yang jelas justru mempercepat munculnya kekebalan virus terhadap pengobatan.
"Obat ini tidak bisa terlalu sembarangan diberikan karena dia bisa mengakibatkan resistensi. Nanti kalau ada flu yang parah seperti H5N1 zaman dulu, obatnya jadi resisten malah meninggal orangnya," ujar Budi.
Karena itu, ia menjelaskan oseltamivir hanya diresepkan untuk pasien dengan gejala berat atau mereka yang memiliki komorbiditas tinggi. Kelompok inilah yang dinilai paling rentan mengalami komplikasi jika influenza tidak ditangani secara agresif. Sementara pasien dengan flu ringan, kata Budi, sebaiknya mengandalkan daya tahan tubuh sendiri.
"Obat flu itu sebenarnya, kalau tanya dokter-dokter, harusnya dijaga agar imun sistem kita mengatasi itu sendiri," tambahnya.
Senada dengan Menkes, Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Lucia Rizka Andalusia menegaskan oseltamivir bukan obat yang bisa dikonsumsi semua orang. Ia juga meminta masyarakat tidak menjadikan obat ini sebagai langkah antisipasi influenza tanpa konsultasi medis.
Rizka menyoroti kekhawatiran publik yang mencuat akibat informasi di media sosial mengenai lonjakan kasus dan perbedaan ketersediaan obat antarwilayah. Menurutnya, masyarakat perlu memperoleh informasi yang akurat dan tidak bertindak berdasarkan kabar yang belum terverifikasi.
"Kami ingin memastikan masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat dan tidak mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi," kata Rizka, dikutip dari Antara.
Ia pun mengimbau agar warga menghindari panic buying. Sebagian besar kasus influenza tanpa tanda bahaya, jelasnya, dapat ditangani secara mandiri dengan istirahat cukup dan hidrasi yang baik. Jika muncul gejala berat, pasien diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Bagi pembaca di Indonesia, peringatan ini menjadi pengingat bahwa akses obat antivirus tidak setara dengan kebebasan membeli. Investor dan pelaku industri farmasi perlu mencermati bahwa kebijakan penggunaan oseltamivir yang ketat dapat memengaruhi pola permintaan, distribusi, dan strategi produksi obat di dalam negeri. Di sisi lain, masyarakat dituntut lebih selektif dalam menyaring informasi kesehatan yang beredar di ruang digital.
Ke depan, pertanyaannya bukan sekadar apakah stok obat cukup, melainkan seberapa siap sistem kesehatan nasional mencegah resistensi antivirus sebelum wabah flu yang lebih ganas muncul. Pengawasan distribusi dan edukasi publik yang berkelanjutan akan menjadi kunci agar oseltamivir tetap efektif saat benar-benar dibutuhkan.



