NASA Perpanjang Tenggat Foto Awan, Warga Dunia Diundang Verifikasi Data Satelit PACE
Baca dalam 60 detik
- NASA memperpanjang batas waktu partisipasi publik dalam proyek PACE hingga 1 November, meminta foto langit dari berbagai lokasi.
- Data satelit PACE memerlukan verifikasi lapangan karena setiap piksel citra mewakili area sekitar 0,75 mil, sehingga pengamatan darat menjadi krusial.
- Partisipan yang mengirimkan observasi akan menerima umpan balik berupa perbandingan foto mereka dengan data satelit, membuka peluang edukasi sains bagi masyarakat.

NASA kembali membuka pintu bagi masyarakat global untuk terlibat langsung dalam misi satelit PACE (Plankton, Aerosol, Cloud, ocean Ecosystem) dengan memperpanjang tenggat pengumpulan foto awan hingga 1 November mendatang. Satelit yang mengorbit Bumi setiap 98 menit itu memerlukan validasi data dari permukaan tanah, dan peneliti mengandalkan partisipasi publik untuk membandingkan citra satelit dengan kondisi langit sesungguhnya.
Inisiatif ini bukan sekadar kampanye sains populer. Satelit PACE bertugas mengukur interaksi cahaya matahari dengan partikel atmosfer dan awan, data yang kelak dipakai untuk memahami perubahan iklim serta kualitas udara. Namun, resolusi spasial satelit memiliki keterbatasan: setiap piksel dalam citra PACE mewakili area seluas sekitar 0,75 mil persegi. Tanpa verifikasi dari bawah, para ilmuwan sulit memastikan apakah sebuah piksel merekam awan, aerosol, atau permukaan bumi.
Dr. Andrew Sayer, penanggung jawab atmosfer PACE, menegaskan pentingnya pengamatan darat. Menurutnya, tim ingin memastikan klasifikasi setiap piksel—apakah tergolong awan atau bukan—sehingga sifat-sifat awan dan atmosfer di bawahnya dapat diurai lebih akurat. "Pengamat di darat akan membantu kami menilai itu," ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi NASA.
Bagi mereka yang ingin berpartisipasi, langkahnya relatif sederhana. Unduh aplikasi Globe Observer, aktifkan notifikasi saat PACE melintas di atas lokasi Anda, lalu bersiaplah lima menit sebelum satelit melintas. Aplikasi akan memandu pengambilan foto langit dari enam arah berbeda. Peneliti hanya menerima foto yang diambil pada siang hari. Ketepatan waktu menjadi faktor penentu, karena jendela observasi sangat sempit.
Sejauh ini, respons global tergolong positif. Dalam sekitar sepekan sejak pengumuman awal, proyek telah menerima 775 kiriman dari berbagai belahan dunia. Juru bicara NASA menyebutnya sebagai "sambutan yang luar biasa", namun mereka masih membidik lebih banyak partisipan, terutama dari kawasan yang minim liputan satelit seperti Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Keterlibatan Indonesia dalam proyek semacam ini berpotensi besar. Sebagai negara kepulauan yang terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki tutupan awan yang dinamis dan sering menjadi lokasi penelitian atmosfer global. Partisipasi warga Indonesia tidak hanya membantu validasi data PACE, tetapi juga memperkaya basis data iklim tropis yang selama ini kurang terwakili. Selain itu, program ini dapat menjadi sarana edukasi sains praktis bagi pelajar dan komunitas pengamat cuaca di tanah air.
Bagi partisipan, ada insentif tambahan: NASA akan mengirimkan surel berisi perbandingan antara foto langit yang mereka ambil dengan data satelit untuk lokasi tersebut. Umpan balik ini memungkinkan masyarakat melihat langsung bagaimana pengamatan sederhana berkontribusi pada riset iklim berskala global.
Ke depan, model partisipasi publik seperti ini bisa menjadi standar baru dalam pengumpulan data lingkungan. Dengan semakin mendesaknya kebutuhan akan informasi iklim yang presisi, kolaborasi antara satelit canggih dan pengamat amatir di darat mungkin bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan. Pertanyaannya, seberapa besar kesediaan masyarakat—termasuk di Indonesia—untuk meluangkan waktu sejenak menengok langit dan menjadi bagian dari solusi?



