SBY Kenang Guruh Soekarnoputra: Seniman yang Menolak Politik, Memilih Budaya
Baca dalam 60 detik
- Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun di RS MRCCC Siloam Hospital, Jakarta, setelah menjalani perawatan intensif.
- SBY menyoroti warisan budaya Guruh, termasuk lagu "Kala Sang Surya Tenggelam" dan "Galih dan Ratna", serta pagelaran seni Mahardika.
- Guruh akan dimakamkan di TPU Karet Bivak, bersebelahan dengan makam ibunya, Fatmawati Soekarno, setelah shalat zuhur.

Presiden keenam RI, Susilo Bambang Yudhoyono, memberikan penghormatan terakhir kepada Guruh Soekarnoputra dengan menyebut almarhum sebagai sosok yang mengabdikan hidupnya untuk Indonesia melalui seni, bukan melalui jalur politik praktis. Pernyataan itu disampaikan SBY saat melayat ke rumah duka di Jalan Sriwijaya Raya Nomor 26, Jakarta, Sabtu (26/9/2026), beberapa jam setelah Guruh menghembuskan napas terakhir di RS MRCCC Siloam Hospital, Semanggi, pada pukul 04.16 WIB.
Guruh, yang bernama lengkap Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra bin Soekarno, wafat di usia 73 tahun. Ia adalah adik kandung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, dan putra Presiden pertama RI Soekarno dari pernikahan dengan Fatmawati. Kabar duka ini menutup periode kritis yang sempat menjadi perhatian publik, setelah sebelumnya ia dirawat intensif di rumah sakit yang sama.
Dalam kesempatan itu, SBY menggarisbawahi bahwa kontribusi Guruh tidak terbatas pada satu bidang seni. Menurutnya, kecintaan Guruh terhadap Tanah Air diekspresikan lewat lagu, pagelaran seni bersama kelompok Mahardika, hingga lukisan-lukisan yang ia hasilkan. "Semua tahu bahwa kecintaan Mas Guruh kepada Indonesia tercinta diekspresikan dalam karya seninya," ujar SBY, seperti dikutip dari keterangan pers.
SBY juga mengenang diskusi pribadinya dengan Guruh saat masih menjabat presiden. Ia pernah mengundang Guruh ke Istana Negara untuk berbincang panjang, bukan tentang politik, melainkan tentang bagaimana bangsa ini bisa maju melalui pendekatan budaya dan seni. "Cukup lama kami berbincang-bincang tentang banyak hal, mendengarkan pikiran-pikiran beliau, bukan justru bukan di bidang politik, tapi apa yang bisa dilakukan bangsa ini melalui pendekatan budaya, pendekatan seni," kenang SBY.
"Mas Guruh telah melakukan banyak hal untuk negeri ini, untuk saudara-saudara kita rakyat Indonesia, melalui mahakaryanya di bidang seni."
โ Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden Ke-6 RI
Bagi publik Indonesia, nama Guruh Soekarnoputra memang lekat dengan warisan budaya yang melampaui generasi. Lagu-lagu yang ia ciptakan, terutama yang dinyanyikan Chrisye, menjadi bagian dari memori kolektif bangsa. "Kala Sang Surya Tenggelam" dan "Galih dan Ratna" bukan sekadar hits pada masanya, tetapi telah menjadi klasik yang terus diputar hingga kini. Kontribusinya di dunia seni menunjukkan bahwa kekuatan budaya bisa menjadi alat diplomasi dan perekat bangsa, sesuatu yang relevan di tengah dinamika politik saat ini.
Dari sisi politik, kepergian Guruh menandai berakhirnya satu babak dalam keluarga besar Soekarno. Meski tidak pernah menempati posisi eksekutif seperti kakaknya, Guruh tetap menjadi figur yang dihormati karena konsistensinya di jalur seni. Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto menyatakan bahwa Guruh akan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta, bersebelahan dengan makam ibunya, Fatmawati Soekarno, setelah shalat zuhur. Prosesi pemakaman ini diperkirakan akan dihadiri sejumlah tokoh nasional dan masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir.
Bagi para pelaku industri kreatif dan ekonomi budaya, sosok Guruh memberikan pelajaran tentang bagaimana karya seni dapat menjadi warisan abadi yang melampaui kepentingan politik jangka pendek. Di saat banyak tokoh memilih jalur kekuasaan, Guruh memilih konsisten berkarya, dan justru dari sana ia dikenang secara luas. Hal ini menjadi cermin bahwa pembangunan karakter bangsa tidak selalu harus melalui kebijakan formal, tetapi juga bisa lewat ekspresi budaya yang mengakar.
Ke depan, pertanyaan yang tersisa adalah siapa yang akan melanjutkan estafet perjuangan budaya ala Guruh Soekarnoputra? Di tengah arus digitalisasi dan komersialisasi seni, apakah masih ada ruang bagi seniman yang mengutamakan nilai-nilai kebangsaan di atas popularitas instan? Warisan Guruh seakan menantang generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya dalam setiap karya yang diciptakan.



