Beckham Kantongi Dividen Rp800 Miliar dari Piala Dunia 2026, Bisnisnya Cetak Rekor
Baca dalam 60 detik
- David Beckham menerima dividen sekitar US$51 juta dari DRJB Holdings setelah ledakan pendapatan dari kontrak sponsor Piala Dunia 2026.
- Pendapatan perusahaan induk melonjak menjadi US$110,5 juta, sementara laba sebelum pajak menembus US$65,7 juta.
- Model bisnis selebriti-legacy ini membuka peluang bagi atlet dan figur publik Indonesia untuk mengembangkan merek pribadi pasca-pensiun.

David Beckham membawa pulang dividen sekitar US$51 juta (setara Rp800 miliar) dari kerajaan bisnisnya, DRJB Holdings, setelah serangkaian kesepakatan sponsor selama Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat. Mantan kapten timnas Inggris itu tampil di sekitar 12 kampanye iklan dari merek-merek global seperti Lenovo, McDonald's, Bank of America, Verizon, dan Lay's.
Laporan keuangan yang akan dipublikasikan Companies House pekan depan menunjukkan pendapatan DRJB Holdings melesat 20% menjadi US$110,5 juta sepanjang tahun lalu, naik dari US$92,3 juta pada 2024. Laba sebelum pajak juga mencetak rekor US$65,7 juta, tumbuh 46% dibandingkan periode sebelumnya. Perusahaan membayar dividen total US$51,1 juta kepada pemegang saham tahun lalu, ditambah dividen khusus US$61,6 juta pada tahun ini.
Beckham hanya menggenggam 45% saham setelah menjual 55% kepemilikan bisnisnya kepada Authentic Brands Group pada 2022 senilai £200 juta. Meski demikian, porsi itu cukup untuk mengantarkan mantan pemain berusia 51 tahun tersebut ke jajaran selebritas dengan pendapatan pasif terbesar di dunia olahraga.
Selain kontrak iklan, Beckham memperluas portofolio lewat peluncuran koleksi pakaian pria Hugo Boss, kacamata Safilo, dan sepatu bola Predator edisi terbatas bersama Adidas. Ia juga menandatangani kesepakatan untuk acara Beckham & Friends Live di Paramount+ yang mengudara seputar Liga Champions UEFA, serta tampil dalam kampanye Stella Artois bersama aktor Theo James.
"Yang ditunjukkan oleh hasil ini adalah di balik merek Beckham ada tim yang kuat dan sangat efektif di dalam Authentic, dengan disiplin keuangan dan fundamental yang solid untuk terus tumbuh secara menguntungkan hingga 2026 dan seterusnya," ujar Corey Salter, CEO entertainment Authentic Brands.
DRJB Holdings menaungi tiga divisi: DB Ventures yang menangani kemitraan merek, Seven Global yang mengelola lisensi dengan Adidas, dan Studio 99 yang memproduksi dokumenter Netflix Beckham (2023) serta film dokumenter Victoria Beckham. Beckham juga tercatat sebagai investor di perusahaan suplemen IM8 dan produsen camilan berbasis madu BeeUp.
Konteks Indonesia
Bagi pasar Indonesia, kisah Beckham menjadi cermin bagaimana atlet dan figur publik bisa mengubah popularitas menjadi aset bisnis jangka panjang. Di saat liga domestik dan timnas mulai menarik sponsor besar, model monetisasi pasca-pensiun seperti yang dijalankan Beckham masih jarang diadopsi pemain lokal. Padahal, dengan basis penggemar besar dan pasar konsumen muda, peluang membangun merek pribadi—mulai dari lisensi produk hingga konten digital—terbuka lebar.
Pemerintah dan pelaku industri olahraga dalam negeri bisa mengambil pelajaran dari struktur DRJB Holdings: pemisahan lini bisnis yang jelas antara lisensi, produksi konten, dan investasi. Pendekatan ini memungkinkan pendapatan tidak bergantung pada satu sumber, sehingga lebih tahan terhadap fluktuasi musim kompetisi atau prestasi di lapangan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah atlet Indonesia mampu meniru Beckham, melainkan siapa yang berani mengambil langkah pertama untuk membangun ekosistem bisnis yang rapi dan berkelanjutan. Tanpa itu, potensi ekonomi dari popularitas olahraga hanya akan mengalir ke sponsor asing, bukan ke pelaku lokal.



