Sidang Umum PBB 2026: Kursi Kosong, Diplomasi yang Diuji
Baca dalam 60 detik
- Pidato Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden AS Donald Trump menjadi magnet utama, sementara banyak pemimpin lain hanya dihadiri delegasi terbatas.
- Ketidakhadiran massal dan aksi walkout sebelum pidato Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menandakan fragmentasi politik global yang kian dalam.
- Bagi Indonesia, dinamika ini menegaskan pentingnya memperkuat diplomasi multilateral dan memanfaatkan posisi non-blok untuk menjembatani perpecahan.

Majelis Umum PBB ke-81 di New York pada 22–25 September 2026 menyuguhkan pemandangan yang jarang terlihat: kursi-kursi di ruang sidang utama banyak yang kosong saat sejumlah kepala negara berpidato. Hanya pidato Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mampu memenuhi ruangan, sementara pemimpin lain harus puas dengan audiens yang tipis. Fenomena ini bukan sekadar soal kehadiran, melainkan cermin pergeseran prioritas diplomasi global.
Guterres membuka sidang pada Selasa dengan pidato yang padat penonton. Namun, seperti dilaporkan The Guardian, kehadiran tersebut diduga karena posisinya sebagai pembuka sebelum Trump naik podium. Setelah itu, jumlah delegasi yang bertahan menyusut drastis. Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, dan Perdana Menteri Inggris Andy Burnham—yang baru pertama kali hadir—berbicara di hadapan kursi-kursi yang lebih banyak lowong. Pola serupa terlihat pada sesi Rabu: Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa memulai dengan sepi, sedangkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru menarik lebih banyak hadirin, mungkin karena tensi geopolitik yang melingkupinya.
Puncak drama terjadi saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hendak berpidato. Sejumlah delegasi secara demonstratif meninggalkan ruangan sebelum ia berbicara. Aksi walkout ini bukan hal baru dalam forum PBB, tetapi skalanya kali ini menunjukkan betapa dalamnya polarisasi politik internasional. Kehadiran yang tidak merata dan protes simbolik semacam itu menggarisbawahi bahwa PBB sebagai panggung multilateral menghadapi ujian kredibilitas: apakah masih mampu menjadi ruang dialog yang inklusif, atau hanya ajang bagi kekuatan besar untuk unjuk pengaruh?
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara non-blok yang aktif mendorong perdamaian dan kerja sama Selatan-Selatan, Jakarta perlu membaca sinyal fragmentasi ini dengan cermat. Ketika forum multilateral seperti PBB mulai kehilangan daya tarik bagi banyak negara, Indonesia berpeluang mengambil peran sebagai jembatan antara blok-blok yang bersaing. Diplomasi ekonomi dan politik luar negeri bebas aktif bisa diarahkan untuk memperkuat koalisi lintas kawasan, terutama di ASEAN dan OKI, guna memastikan isu-isu seperti perubahan iklim, ketahanan pangan, dan transisi energi tetap menjadi agenda global.
"Kehadiran yang timpang di PBB mencerminkan bahwa banyak negara kini memilih jalur bilateral atau regional yang dianggap lebih menguntungkan," ujar seorang analis hubungan internasional yang tidak ingin disebutkan namanya. "Ini tantangan sekaligus peluang bagi negara seperti Indonesia untuk tampil sebagai penengah."
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya siapa yang hadir di ruang sidang, tetapi apakah PBB masih mampu menghasilkan kesepakatan konkret di tengah perpecahan. Jika tren ini berlanjut, Indonesia dan negara-negara berpengaruh lainnya perlu merancang strategi diplomasi yang lebih adaptif—memanfaatkan forum regional dan inisiatif plurilateral untuk menjaga stabilitas global. Tanpa itu, kursi-kursi kosong di PBB bisa menjadi pertanda surutnya tatanan multilateral yang selama ini menjadi tulang punggung perdamaian dunia.



