Saham Nanexa Meledak 150% Usai Kesepakatan Lisensi Rp21 Triliun dengan Novo Nordisk
Baca dalam 60 detik
- Nanexa, perusahaan pengiriman obat asal Swedia, menandatangani perjanjian lisensi global senilai US$1,33 miliar dengan Novo Nordisk untuk teknologi PharmaShell.
- Kesepakatan ini memungkinkan Novo mengembangkan obat suntik bulanan hingga kuartalan untuk obesitas dan diabetes tipe 2, memperkuat posisinya melawan Eli Lilly.
- Bagi industri farmasi Indonesia, kerja sama ini menandai arah baru persaingan obat metabolik yang dapat memengaruhi akses dan harga di pasar domestik.

Saham Nanexa AB, perusahaan pengiriman obat yang tercatat di Nasdaq First North Growth Market Stockholm, melonjak lebih dari 150% pada pembukaan perdagangan Jumat (25/9/2026) setelah mengumumkan kesepakatan lisensi global senilai US$1,33 miliar (sekitar Rp21 triliun) dengan raksasa farmasi Novo Nordisk. Kesepakatan ini memberi Novo hak eksklusif untuk menggunakan teknologi PharmaShell milik Nanexa dalam mengembangkan obat suntik berdurasi panjang untuk obesitas, diabetes tipe 2, dan kondisi kardiometabolik lainnya.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis setelah penutupan bursa Kamis, Novo Nordisk—produsen Wegovy dan Ozempic—akan menggelontorkan pembayaran awal sekitar US$700 juta, ditambah pembayaran bertahap jika target pengembangan dan regulasi tercapai. Nanexa juga berhak menerima royalti satu digit rendah dari penjualan produk di masa depan. Saham Nanexa sempat menyentuh level tertinggi intraday, meski kemudian terkoreksi dan berakhir naik sekitar 114% pada pukul 11:50 waktu setempat.
Teknologi PharmaShell sendiri bekerja dengan melapisi partikel obat menggunakan lapisan anorganik ultra-tipis yang mampu mengontrol pelepasan zat aktif secara presisi. Pendekatan ini memungkinkan obat disuntikkan hanya sekali sebulan atau bahkan sekali per kuartal—sebuah terobosan dibandingkan obat seminggu sekali yang kini mendominasi pasar GLP-1. Novo Nordisk berharap dapat memperluas portofolio injeksi mereka, yang selama ini menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.
Kesepakatan ini menjadi angin segar bagi Novo Nordisk yang tengah menghadapi persaingan ketat dari Eli Lilly, terutama setelah lonjakan permintaan obat penurun berat badan global. Dengan mengantongi teknologi PharmaShell, Novo berpotensi menawarkan kenyamanan lebih bagi pasien—faktor kunci dalam memenangkan pangsa pasar. Namun, tantangan tetap ada: uji klinis dan persetujuan regulasi di berbagai yurisdiksi membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum produk komersial tersedia.
"Dengan perjanjian ini, Nanexa memasuki era baru dengan kekuatan finansial yang signifikan, memungkinkan kami memperluas aplikasi teknologi atomic layer deposition ke area terapeutik lain," ujar Ketua Nanexa Göran Ando dalam pernyataan resmi.
Bagi Indonesia, dampak kesepakatan ini tidak bisa diabaikan. Pasar obat diabetes dan obesitas di Tanah Air terus tumbuh seiring meningkatnya prevalensi penyakit metabolik. Menurut data International Diabetes Federation (IDF), sekitar 19,5 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes pada 2021, dan angka itu diproyeksikan terus naik. Kehadiran obat generasi baru yang lebih praktis dapat mengubah lanskap pengobatan, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang keterjangkauan harga dan kesiapan infrastruktur kesehatan.
Selama ini, obat GLP-1 seperti Ozempic dan Wegovy belum sepenuhnya tersedia secara luas di Indonesia karena harga yang tinggi dan terbatasnya pasokan. Jika Novo Nordisk berhasil mengomersialkan obat suntik bulanan, bukan tidak mungkin perusahaan akan menggandeng mitra lokal untuk distribusi—sebuah peluang bagi BUMN farmasi atau perusahaan swasta nasional. Di sisi lain, dominasi pemain global dalam teknologi pengiriman obat bisa menjadi alarm bagi pengembangan riset farmasi dalam negeri.
Pertanyaan besarnya: akankah inovasi semacam ini mempercepat akses pasien Indonesia terhadap terapi mutakhir, atau justru memperlebar jurang antara negara maju dan berkembang dalam hal layanan kesehatan? Jawabannya akan sangat bergantung pada kebijakan harga, negosiasi lisensi, dan kesiapan industri farmasi domestik dalam mengadopsi teknologi baru.



