Bandara di Réunion Pilih Ventilasi Alami, Hemat Energi 60% Tanpa AC
Baca dalam 60 detik
- Bandara Roland Garros di Réunion mengandalkan desain atap dan ventilasi alami untuk mendinginkan terminal, menghindari penggunaan AC.
- Langkah ini memangkas tagihan energi hingga €150.000 per tahun dan emisi karbon delapan kali lebih rendah dibanding bangunan berpendingin udara.
- Model ini sulit diterapkan di kota besar Indonesia karena polusi udara dan kebiasaan masyarakat yang sudah terbiasa dengan AC.

Bandara Roland Garros di Pulau Réunion, wilayah Prancis di Samudra Hindia, membuktikan bahwa terminal bandara modern tidak harus bergantung pada pendingin udara (AC). Sejak dibuka pada 2024, terminal kedatangan bandara tersebut mengandalkan ventilasi alami yang dirancang khusus untuk menurunkan suhu ruangan, sebuah pendekatan yang jarang ditemui di infrastruktur transportasi berskala besar.
Desain atap terminal menjadi kunci. Atap bangunan persegi panjang itu melengkung ke atas dari kedua sisi panjangnya, tetapi tidak bertemu di tengah, melainkan membentuk semacam "ngarai" yang menciptakan area bertekanan rendah. Perbedaan tekanan ini menyedot angin tropis masuk melalui ventilasi di setiap sisi, yang dapat disesuaikan sesuai kondisi cuaca. Kipas langit-langit berdiameter 7,5 meter membantu mendistribusikan udara ke seluruh ruangan.
Pada musim panas basah, ketika suhu mencapai 30°C dengan kelembapan tinggi, aliran udara ini menurunkan suhu yang dirasakan hingga empat sampai lima derajat, mendekati tingkat kenyamanan yang biasanya disediakan AC. Di musim kemarau, aliran udara dikurangi, dan saat siklon melanda, seluruh bangunan ditutup rapat.
Marc Delanoë, Direktur Pembangunan Berkelanjutan bandara, mengungkapkan bahwa keputusan untuk tidak menggunakan AC adalah taruhan berisiko yang diambil sejak 2016. "Saya bertanggung jawab membuktikan kepada manajemen bahwa ini bisa dilakukan. Semakin kami mendalami studi, semakin kami yakin kami benar," ujarnya. Ia menambahkan bahwa arsitek lokal sudah lama menerapkan ventilasi alami di berbagai bangunan di Réunion, sehingga pihaknya hanya perlu memperbesar skala.
"Kami ingin mematahkan anggapan bahwa kenyamanan musim panas hanya soal suhu ruangan. Tujuan kami adalah menjaga suhu udara dalam ruangan setara dengan luar, sambil menciptakan aliran udara 1 meter per detik untuk menurunkan suhu yang dirasakan," kata Éric Bussolino, Direktur Teknik dan Lingkungan AIA Life Designers, firma arsitek utama proyek.
Delphine Robert, staf tim penyambutan pariwisata setempat yang bekerja seminggu sekali di terminal, mengaku lebih nyaman bekerja di sana dibanding kantor lain. "Sirkulasi udaranya sangat baik. Saya sering sakit akibat AC yang terlalu dingin di kantor, jadi bekerja di ruangan dengan udara alami jauh lebih menyenangkan," tuturnya.
Meski demikian, Delanoë mengakui bahwa model ini sulit diterapkan di kota-kota besar Eropa daratan yang udaranya tercemar. "Polutan akan terkonsentrasi di dalam ruangan, tidak berfungsi," katanya. Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat Eropa yang sudah terbiasa dengan AC di rumah dan mobil, sehingga sulit beradaptasi dengan suhu ruangan yang lebih hangat.
Bagi Indonesia, kisah Bandara Roland Garros menawarkan pelajaran sekaligus tantangan. Dengan iklim tropis yang mirip, sejumlah bandara di Indonesia seperti Soekarno-Hatta atau Ngurah Rai sebenarnya berpotensi mengadopsi ventilasi alami untuk mengurangi konsumsi energi. Namun, tingkat polusi udara di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya menjadi penghalang utama. Selain itu, ekspektasi penumpang akan ruang tunggu yang sejuk dan steril membuat transisi ke pendinginan pasif memerlukan pendekatan bertahap, misalnya menggabungkan ventilasi alami dengan pendinginan radiatif atau pendingin evaporatif.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan dan PT Angkasa Pura tengah mendorong konsep "green airport" di beberapa bandara. Studi dari bandara Réunion ini dapat menjadi rujukan bahwa investasi awal pada desain pasif mampu menghasilkan penghematan operasional jangka panjang. Namun, tanpa regulasi yang mewajibkan efisiensi energi dan insentif bagi bangunan hijau, adopsi teknologi semacam ini masih akan bergantung pada inisiatif masing-masing pengelola bandara.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah ventilasi alami bisa menggantikan AC sepenuhnya, melainkan seberapa jauh kota-kota tropis yang padat dan berpolusi dapat mengintegrasikan strategi pendinginan pasif ke dalam infrastruktur publik mereka. Jika bandara saja bisa, mengapa gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan tidak?



