Bhayangkara FC dan Warga Lampung: Ketika Stadion Sumpah Pemuda Mulai Bergeliat
Baca dalam 60 detik
- Dua laga kandang awal Bhayangkara FC di Stadion Sumpah Pemuda mencatat total sekitar 7.000 penonton, naik dibanding periode yang sama musim lalu.
- Tren positif ini menegaskan proses identifikasi warga Lampung terhadap tim yang pindah markas pada April 2025, sekaligus mengerek potensi ekonomi lokal.
- Manajemen berharap animo serupa berlanjut saat menjamu Persijap Jepara pada 16 Oktober, sementara tim bersiap menghadapi dua laga tandang berat.

Bhayangkara FC mencatatkan peningkatan jumlah penonton pada dua laga kandang awal BRI Super League 2025/2026 di Stadion Sumpah Pemuda, Bandar Lampung. Data internal klub yang diperoleh LyndHub menyebutkan laga kontra Persebaya Surabaya dihadiri sekitar 3.000 orang, lalu melonjak menjadi sekitar 4.000 penonton saat menjamu Isenmulang FC. Angka itu terbilang signifikan karena kapasitas stadion hanya sekitar 7.000 kursi.
Lonjakan tersebut bukan sekadar statistik. Sejak memindahkan markas ke Bandar Lampung pada April 2025, Bhayangkara FC berupaya membangun ikatan dengan warga Provinsi Lampung. Musim lalu, The Guardians finis di peringkat kelima. Kini target dinaikkan: menembus tiga besar. Ambisi itu tidak ringan karena harus bersaing dengan Borneo FC, Persebaya, Persija Jakarta, dan Persib Bandung yang tiga musim terakhir mendominasi gelar.
Dari sisi performa, pasukan Oscar Bruzon belum terkalahkan dalam tiga pertandingan. Dua kali imbang dan sekali menang mengantar mereka ke posisi kedelapan, terpaut lima angka dari Dewa United di puncak klasemen. Catatan itu menjadi modal penting sebelum jeda internasional FIFA Matchday pada 21 September hingga 6 Oktober.
"Sekarang waktunya rehat sejenak. Kami beri libur lima sampai enam hari setelah hampir setiap hari bekerja selama enam minggu," ujar Oscar Bruzon. "Setelah itu, kami punya lebih dari dua pekan untuk mempersiapkan laga tandang melawan Arema FC dan Madura United, yang pastinya akan menjadi lawan tangguh."
Peningkatan kehadiran penonton juga berdampak pada sektor ekonomi lokal. Mulai dari pedagang kaki lima, penyedia jasa transportasi, hingga penginapan di sekitar stadion merasakan efek berganda dari hari pertandingan. Jika tren ini berlanjut, Pendapatan Asli Daerah dari sektor pariwisata olahraga berpotensi tumbuh, terutama jika manajemen konsisten menggelar laga kandang pada jam yang ramah keluarga.
Bagi Bhayangkara FC, dukungan suporter bukan hanya soal pemasukan tiket. Kehadiran penonton di stadion mempertebal kepercayaan diri pemain, terutama saat menghadapi tim-tim besar. Manajemen pun berharap jumlah penonton terus meningkat pada laga kandang berikutnya melawan Persijap Jepara, 16 Oktober mendatang. Pertanyaannya, mampukah The Guardians mengubah euforia tribun menjadi poin penuh, sekaligus membuktikan bahwa Lampung benar-benar telah menjadi rumah baru mereka?



