PSIM dan PSS Terpuruk di Awal BRI Super League: Dua Wakil DIY di Zona Merah
Baca dalam 60 detik
- PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman sama-sama belum meraih kemenangan dalam tiga laga pembuka BRI Super League 2026/2027, dengan PSIM mengoleksi satu poin dan PSS tanpa poin.
- Kedua tim diperkuat pelatih asal Belanda, namun racikan taktik mereka belum mampu mengangkat performa tim, sementara seluruh gol yang dicetak berasal dari pemain asing.
- Jeda FIFA Matchday menjadi momen krusial bagi kedua klub untuk melakukan evaluasi menyeluruh sebelum kompetisi kembali bergulir bulan depan.

PSIM Yogyakarta dan PSS Sleman kompak menorehkan start buruk di BRI Super League 2026/2027. Setelah tiga pertandingan, PSIM tertahan di peringkat ke-14 dengan satu poin, sedangkan PSS terjerembab di posisi ke-15 tanpa satu pun angka. Hasil ini menjadi pukulan telak bagi dua wakil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang berharap bisa bersaing di papan tengah sejak awal musim.
PSS memasuki kompetisi dengan status tim promosi setelah menjuarai Pegadaian Championship 2025/2026, sementara PSIM menjalani musim kedua di kasta tertinggi. Keduanya dipercayakan kepada pelatih asal Belanda: Jean-Paul van Gastel di PSIM dan Pieter Huistra di PSS. Van Gastel, yang memasuki tahun kedua, sebelumnya membawa Laskar Mataram finis ke-11 dengan 45 poin. Adapun Huistra, yang telah menangani PSS sejak 2024/2025, musim lalu berperan sebagai Direktur Teknik saat Super Elang Jawa menjadi runner-up Championship.
Namun, ekspektasi tersebut belum terwujud. PSIM mengawali liga dengan hasil imbang 1-1 melawan Persita Tangerang, lalu kalah 0-1 dari Persebaya Surabaya dan 1-2 dari Madura United. PSS lebih memprihatinkan: tumbang 1-2 dari Bali United, dihajar Madura United 1-3, dan takluk 1-2 dari Dewa United. Kekecewaan pun mencuat di kalangan Sleman fans yang menuntut kebangkitan segera.
Fakta menarik mencuat dari produktivitas gol. PSIM mencetak dua gol melalui Adrian Purzycki dan Nermin Haljeta, sedangkan PSS mengemas tiga gol lewat Matheus Fornazari, Melvyn Lorenzen, dan Christophe Nduwarugira. Artinya, belum ada satu pun pemain lokal yang menyumbang gol bagi kedua klub. Kondisi ini menyoroti ketergantungan pada pemain asing di lini depan, sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi kedua pelatih untuk meningkatkan kontribusi pemain dalam negeri.
Bagi PSIM, masalah utama terletak pada konsistensi pertahanan yang mudah bocor di momen krusial. Sementara PSS menghadapi tekanan lebih besar karena status promosi menuntut adaptasi cepat. Huistra dinilai belum menemukan komposisi terbaik di lini belakang, terlihat dari kebobolan enam gol dalam tiga laga. Di sisi lain, Van Gastel masih mencari formula tepat untuk mengoptimalkan lini serang yang tumpul.
"Kami harus segera berbenah. Tiga pertandingan tanpa kemenangan bukanlah awal yang kami inginkan, tetapi jeda ini akan kami manfaatkan untuk evaluasi," ujar salah satu sumber internal klub, menggambarkan tekanan yang dihadapi tim.
BRI Super League 2026/2027 kini memasuki jeda internasional karena agenda FIFA Matchday. Masa off kompetisi ini menjadi kesempatan emas bagi PSIM dan PSS untuk membenahi taktik, meningkatkan kebugaran, dan memulihkan mental pemain. Kedua tim dijadwalkan kembali bertanding bulan depan dengan lawan-lawan yang tak kalah berat.
Jika tidak segera bangkit, bukan tidak mungkin kedua wakil DIY ini akan terseret ke pusaran degradasi. Mampukah Van Gastel dan Huistra membalikkan keadaan, atau justru tekanan semakin membesar hingga kursi kepelatihan mereka goyah?



