Elon Musk Tantang Ramalan Ilmuwan: AI Kuasai Semua Bidang pada 2028, Bukan 10-20 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Musk menilai prediksi Chollet soal dominasi AI di sains terlalu konservatif, dan mematok 2028 sebagai batas akhir.
- Studi klinis menunjukkan model AI masih lemah pada penalaran multimodal, meski unggul di soal pilihan ganda.
- Anthropic dan Google DeepMind mempercepat penemuan ilmiah berbasis AI, sementara Grok 5 disiapkan untuk rekayasa.

Elon Musk kembali menantang konsensus dunia riset kecerdasan buatan. Menanggapi ramalan ilmuwan AI François Chollet yang memperkirakan sains akan menjadi semakin komputasional dalam 10–20 tahun ke depan, Musk menyebut proyeksi itu terlalu konservatif. Menurutnya, AI akan mengalahkan semua bidang paling lambat 2028 — bahkan mungkin akhir 2027.
Chollet, yang pertama kali menyampaikan prediksi tersebut pada Mei 2021, mengunggah ulang pernyataannya pada Selasa dan mengklaim ramalan itu kini "terlihat jelas setiap hari". Ia memperkirakan hampir semua disiplin ilmu akan menjadi cabang ilmu komputer, digerakkan oleh simulasi, analisis data besar, dan pembelajaran mesin. Musk merespons dengan singkat: "Prediksi Anda konservatif. AI akan mengalahkan semua bidang pada akhir tahun depan atau mungkin 2028, paling lambat."
Pernyataan itu memperpanjang serangkaian klaim Musk sebelumnya bahwa AI akan menjadi "superhuman" untuk hampir semua tugas digital pada akhir 2027. Namun, ambisi tersebut berhadapan dengan temuan lapangan yang lebih rumit. Sebuah studi peer-review yang terbit 3 September di npj Digital Medicine menguji 20 model AI pada 1.245 pertanyaan dari kasus ortopedi dan kedokteran olahraga. Hasilnya: model-model terkemuka melampaui akurasi 90% pada soal pilihan ganda terstruktur, tetapi hanya sekitar 60% pada tugas terbuka yang menuntut penalaran multimodal — menggabungkan teks dan gambar. Para peneliti menyimpulkan bahwa model saat ini masih menghadapi hambatan untuk kompetensi klinis mandiri.
Di sisi lain, AI mulai bergerak melampaui sekadar menjawab pertanyaan. Anthropic pekan lalu mengumumkan bahwa Claude telah mengoptimalkan lebih dari 30 model biomolekuler sumber terbuka dalam waktu kurang dari empat minggu, dengan percepatan sekitar empat kali lipat. Reuters juga melaporkan bahwa Anthropic mendirikan laboratorium biologi fisik untuk memperluas riset penemuan obat dan menggabungkan AI dengan eksperimen dunia nyata. Sementara itu, sistem Co-Scientist milik Google DeepMind menggunakan banyak agen AI untuk menghasilkan, mendebat, dan menyempurnakan hipotesis ilmiah — tanda bahwa pengembang mulai menyasar inti proses penemuan.
Musk sendiri bertaruh pada perusahaan-perusahaannya. SpaceXAI merilis Grok 4.7 untuk pekerjaan koding dan pengetahuan, sedangkan Grok 5 sedang dilatih menggunakan data teknik dari Space Exploration Technologies Corp. Analis Deepwater Asset Management, Gene Munster, memperkirakan model tersebut bisa menjadi "alat rekayasa paling berguna dalam sejarah".
"Prediksi Anda konservatif. AI akan mengalahkan semua bidang pada akhir tahun depan atau mungkin 2028, paling lambat." — Elon Musk
Bagi Indonesia, klaim Musk bukan sekadar perdebatan akademis. Jika AI benar-benar mendominasi riset dan industri pada 2028, negara yang tidak memiliki infrastruktur komputasi, talenta, dan regulasi yang siap akan berisiko menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta. Sektor kesehatan, misalnya, bisa memanfaatkan AI untuk diagnosis dini, tetapi tanpa validasi klinis dan tata kelola data yang kuat, adopsi justru berpotensi menimbulkan kesalahan medis. Pemerintah perlu mempercepat pengembangan pusat data, pendidikan STEM, dan kerangka etika AI agar tidak tertinggal.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengubah sains, melainkan seberapa cepat dan siapa yang mengendalikannya. Jika tenggat 2028 itu benar, Indonesia hanya punya waktu kurang dari tiga tahun untuk menyiapkan ekosistem yang mampu bersaing — atau setidaknya tidak sekadar menjadi pasar bagi inovasi yang lahir di tempat lain.



