Apple Dikabarkan Siapkan Gelang Kesehatan Tanpa Layar, Target Rilis 2028
Baca dalam 60 detik
- Apple tengah mengembangkan prototipe gelang tanpa layar untuk memantau aktivitas, tidur, dan kesehatan, dengan target peluncuran paling cepat 2028.
- Langkah ini menyusul kesuksesan Whoop dan Oura yang telah meraup jutaan pengguna dan valuasi miliaran dolar, menandakan pergeseran menuju perangkat kesehatan yang tidak mengganggu.
- Bagi Indonesia, tren ini berpotensi mendorong adopsi gaya hidup sehat digital, tetapi juga menimbulkan tantangan terkait harga, langganan, dan kesiapan infrastruktur data.

Apple dilaporkan sedang mengembangkan gelang kebugaran tanpa layar yang mampu memantau aktivitas fisik, kualitas tidur, tingkat kesiapan harian, hingga perkiraan usia biologis pengguna. Menurut sumber yang dikutip Bloomberg, prototipe perangkat ini telah melalui tahap eksplorasi selama beberapa bulan dengan dukungan eksekutif puncak, namun peluncuran komersialnya diperkirakan tidak akan terjadi sebelum 2028.
Langkah Apple ini menandai pergeseran strategi di industri perangkat wearable. Selama ini, Apple dikenal sebagai pemain yang masuk belakangan ke pasar yang sudah mapan, tetapi dengan eksekusi yang matang. Kali ini, mereka mengincar segmen yang tengah naik daun: perangkat kesehatan tanpa layar yang menawarkan pemantauan berkelanjutan tanpa menambah beban visual bagi pengguna.
Pasar perangkat tanpa layar sendiri telah berkembang pesat. Whoop, yang memelopori kategori ini pada pertengahan 2010-an, kini memiliki jutaan pengguna, termasuk atlet profesional seperti Cristiano Ronaldo dan LeBron James. Sementara Oura, pemain utama di segmen cincin pintar, telah meluncurkan produk generasi kelima yang 40% lebih kecil dari sebelumnya. Keduanya menawarkan model bisnis berbasis langganan, dengan tarif bulanan atau tahunan yang bervariasi.
Perangkat tanpa layar menggunakan sensor canggih seperti LED, fotodioda, dan akselerometer 3D untuk mengukur detak jantung, variabilitas detak jantung (HRV), suhu kulit, kadar oksigen darah, dan pola tidur. Data mentah ini dikirim via Bluetooth ke aplikasi ponsel yang kemudian mengolahnya menjadi skor harian seperti tingkat stres, pemulihan, dan kesiapan tubuh. Semakin lama perangkat dikenakan, semakin akurat pola yang terdeteksi.
"Daya tarik mengenakan gelang tanpa layar adalah seolah mengatakan, 'Saya peduli kesehatan saya, tapi saya tidak membiarkannya mengendalikan saya. Saya tidak terobsesi,'" ujar Victoria Song, jurnalis The Verge, menggambarkan fenomena "wearable silence".
Bagi Apple, masuknya ke kategori ini bukan tanpa alasan. Perusahaan telah mengamati bahwa fitur-fitur ala Whoop mulai diadopsi ke dalam Apple Watch dan aplikasi Health, seperti pelacakan detak jantung lanjutan dan metrik kesiapan harian. Prototipe gelang anyar ini kabarnya dikembangkan dengan masukan dari tim di balik headset Vision Pro, dan disebut memiliki bentuk tali kain tipis dengan modul komputasi berisi sensor.
Di Indonesia, tren perangkat kesehatan tanpa layar mulai mendapat tempat di kalangan konsumen urban dan pegiat gaya hidup sehat. Meski belum sepopuler smartwatch, produk seperti cincin pintar dan gelang kebugaran mulai dijual di marketplace lokal. Kehadiran Apple di segmen ini berpotensi memperluas pasar, tetapi juga menghadirkan tantangan tersendiri: harga perangkat dan biaya langganan yang masih tinggi, serta kesadaran akan pentingnya perlindungan data kesehatan pribadi.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong digitalisasi layanan kesehatan, termasuk integrasi data dari perangkat wearable ke platform kesehatan nasional. Namun, tanpa regulasi yang jelas mengenai kepemilikan dan keamanan data biometrik, adopsi perangkat semacam ini bisa menuai kekhawatiran. Di sisi lain, kehadiran perangkat yang lebih terjangkau dan mudah digunakan dapat menjadi katalis untuk pencegahan penyakit tidak menular yang semakin meningkat di Tanah Air.
Jika Apple benar-benar merealisasikan gelang tanpa layar ini, persaingan di pasar wearable akan semakin ketat. Google dengan Fitbit, Garmin, Samsung, dan sejumlah pemain lokal diprediksi akan merespons dengan inovasi serupa. Pertanyaannya, apakah konsumen Indonesia siap membayar premi untuk perangkat yang tidak menampilkan notifikasi, tetapi menjanjikan pemantauan kesehatan yang lebih mendalam? Waktu yang akan menjawab, tetapi arah industri sudah terlihat jelas.



