Coogee Kembali Dinobatkan sebagai Pantai Paling Tercemar Feses di Sydney, Kelima Kali Berturut-turut
Baca dalam 60 detik
- Pantai Coogee di Sydney kembali menerima peringkat 'buruk' dalam laporan tahunan State of the Beaches 2026 karena kualitas air yang rentan terhadap polusi feses, terutama setelah hujan lebat.
- Meskipun demikian, warga dan wisatawan tetap memadati pantai, dengan sebagian mengaku sudah terbiasa dan menganggap risiko kesehatan tidak signifikan.
- Pakar menyebut limpasan air hujan sebagai penyebab utama, bukan fenomena 'bola feses' yang sempat menghebohkan, sementara implikasi bagi pariwisata dan kesehatan masyarakat menjadi sorotan.

Pantai Coogee di Sydney, Australia, untuk kelima kalinya secara berturut-turut dinobatkan sebagai pantai laut paling tercemar feses di kota tersebut dalam laporan State of the Beaches 2026 yang dirilis oleh Departemen Lingkungan New South Wales. Temuan ini menyoroti masalah kronis kualitas air yang dihadapi salah satu ikon wisata pantai paling populer di Australia, meskipun ratusan pengunjung tetap memadati lokasi tersebut pada Jumat lalu.
Laporan tahunan tersebut memberikan peringkat "buruk" untuk Coogee, dengan catatan bahwa kualitas air mikroba sangat rentan terhadap pencemaran feses, terutama setelah curah hujan tinggi. Ironisnya, nama Coogee berasal dari bahasa Dharug, bahasa suku Aborigin setempat, yang berarti "bau busuk", "rumput laut membusuk", atau "tempat berbau tidak sedap" โ sebuah kebetulan sejarah yang kini terasa semakin relevan.
Meski demikian, suasana pantai pada hari itu justru kontras dengan hasil laporan. Air laut tampak biru jernih, dan ratusan orang asyik berjemur serta bermain air. Seorang warga yang telah berenang di Coogee selama sekitar 25 tahun, Paul Sampson, mengaku tidak terlalu khawatir. "Saya masih hidup," ujarnya sambil mengeringkan badan. Ia mengakui kualitas air memang tidak sebersih pantai-pantai di pesisir selatan, tetapi ia menilai kondisi saat ini jauh lebih baik dibanding 10 hingga 20 tahun lalu.
Pandangan senada datang dari David Goldstein, warga yang telah tinggal di kawasan timur Sydney selama empat dekade. Ia mengaku telah mengembangkan semacam ketahanan terhadap isu polusi. "Saya mulai berenang pada pertengahan 1990-an dan mungkin hanya sekali sakit," katanya. Baginya, komunitas yang terbentuk di pantai tersebut lebih penting daripada kekhawatiran akan pencemaran. Goldstein bahkan lebih cemas terhadap keberadaan hiu yang sempat terlihat di sekitar tanjung pada Jumat pagi, hingga membuatnya mengalihkan rute renang.
"Jika hiu tidak menghabisi Anda, polusi mungkin akan melakukannya," ujarnya sambil tertawa, menggambarkan betapa risiko di laut dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik sikap santai sebagian warga, para ahli lingkungan mengingatkan bahwa masalah ini bukan hal sepele. Prof Stuart Khan, pakar kualitas air dan kepala School of Civil Engineering di University of Sydney, menjelaskan bahwa fenomena "bola feses" yang sempat menutup beberapa pantai pada 2024 dan 2025 bukanlah penyebab utama peringkat buruk Coogee. Menurutnya, limpasan air hujan yang membawa kontaminasi limbah saat hujan deras adalah faktor dominan. "Bola feses dari pembuangan laut dalam berkontribusi sangat kecil karena lokasinya berkilometer dari pantai," jelasnya.
Kekhawatiran lain yang masih membayangi adalah keberadaan "fatberg" raksasa โ gumpalan lemak dan sampah yang mengeras โ yang hingga kini tersimpan di balik pintu tertutup di instalasi pengolahan air limbah Malabar. Meskipun tidak secara langsung terhubung dengan kualitas air pantai, keberadaannya menjadi simbol persoalan infrastruktur sanitasi Sydney yang belum sepenuhnya tuntas.
Bagi Indonesia, kasus Coogee menjadi cermin penting. Pantai-pantai populer seperti Kuta, Sanur, atau Ancol menghadapi tantangan serupa: limpasan air hujan, limbah domestik, dan infrastruktur pengolahan air yang belum memadai. Kesadaran wisatawan dan regulasi ketat diperlukan untuk mencegah penurunan kualitas air yang dapat merusak ekosistem dan industri pariwisata. Pemerintah daerah dan pusat perlu memperkuat sistem drainase serta pengelolaan limbah, terutama di kawasan pesisir yang menjadi tulang punggung ekonomi.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Coogee akan kembali masuk daftar buruk tahun depan, tetapi seberapa cepat Sydney โ dan kota-kota pesisir lain di dunia โ mampu berinvestasi dalam infrastruktur hijau dan sistem peringatan dini kualitas air. Tanpa perbaikan struktural, predikat "tempat berbau tidak sedap" yang disandang Coogee sejak lama bisa menjadi peringatan bagi pantai-pantai lain yang mengandalkan citra bersih sebagai daya tarik utama.



