Di Usia 90, Binaragawan Jepang Ini Kembali Juara: Rahasianya Bukan Suplemen
Baca dalam 60 detik
- Toshisuke Kanazawa, 90 tahun, meraih gelar nasional ke-19 di Jepang Masters Bodybuilding Championships, sehari setelah ulang tahunnya.
- Gaya hidup disiplin tanpa alkohol, rokok, daging, dan ikan menjadi kunci kebugarannya di usia senja.
- Kisahnya menantang stigma penuaan di Jepang dan memberi pelajaran tentang olahraga lansia di Indonesia.

Binaragawan Jepang Toshisuke Kanazawa baru saja menambah koleksi gelarnya menjadi 19 trofi nasional, hanya sehari setelah merayakan ulang tahun ke-90. Pria yang mengelola pusat kebugaran di Hiroshima ini menegaskan belum berniat pensiun dari panggung kompetisi.
Kanazawa menuturkan bahwa ia masih mampu melakukan pull-up dan leg press dengan beban yang membuat banyak orang setengah usianya iri. "Saya 100% alami," ujarnya, menepis anggapan bahwa pencapaiannya berasal dari zat penambah performa. Ia mengaku tidak pernah merokok atau mengonsumsi alkohol, dan sudah puluhan tahun meninggalkan daging serta ikan.
Pola makannya sederhana: nasi merah dengan taburan furikake, natto, dan sup miso yang dicampur beberapa butir telur mentah. Ia juga mengurangi konsumsi protein shake dari enam menjadi tiga porsi per hari karena pencernaannya tidak lagi sebisa dulu. "Saya melakukan apa yang terbaik untuk tubuh saya di usia ini," katanya.
Perjalanan Kanazawa tidak selalu mulus. Lahir di Prefektur Shimane pada 1936, ia awalnya perenang andal nomor 1500 meter gaya bebas. Cita-citanya tampil di Olimpiade pupus akibat masalah otot. Ia lalu beralih ke binaraga, meski sang ayah meragukan pilihan tersebut. Selama lima tahun, ia hidup menyendiri, berlatih enam jam sehari, dan mengandalkan makanan sederhana dari ibunya. Uang dari pekerjaan serabutan sebagai pengantar alat listrik ia belanjakan untuk susu dan keju.
Pada usia 24, ia menepati janji kepada orang tuanya dengan menjuarai Mister Japan, gelar yang ia pertahankan tiga tahun kemudian. Setelah pensiun di pertengahan usia 30-an, Kanazawa kembali ke kompetisi pada usia 50 untuk memberi semangat kepada istrinya yang sakit kronis. Tujuh tahun berselang, ia menjuarai kejuaraan masters. "Saat itu puncak fisik saya," kenangnya.
"Orang Jepang lanjut usia melakukan hal-hal luar biasa, tapi saya khawatir terlalu banyak yang menyerah pada hal yang mereka lakukan saat muda. Saya ingin menjadi binaragawan sampai mati."
— Toshisuke Kanazawa
Kisah Kanazawa menjadi kontras di tengah narasi super-aging society Jepang yang kerap dikaitkan dengan depopulasi, penurunan ekonomi, dan beban biaya kesehatan. Hampir 30% dari 123,7 juta penduduk Jepang berusia di atas 64 tahun, dan jumlah centenarian melampaui 100.000 orang, hampir 90% di antaranya perempuan. Namun, atlet senior seperti Kanazawa, pesepakbola Kazuyoshi Miura (59), perenang Shoko Yonezawa (91), dan pelaut Kenichi Horie (88) menunjukkan bahwa usia tidak selalu menjadi penghalang.
Bagi Indonesia, yang mulai memasuki fase penuaan penduduk, kisah Kanazawa menawarkan perspektif berbeda. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sekitar 10% penduduk Indonesia berusia di atas 60 tahun pada 2023, dan angka itu diproyeksikan terus naik. Selama ini, program kesehatan lansia lebih fokus pada pengobatan penyakit daripada pencegahan melalui olahraga terstruktur. Padahal, aktivitas fisik rutin dapat menekan risiko penyakit degeneratif dan menjaga kemandirian lansia.
Kanazawa sendiri tidak memungkiri bahwa tubuhnya butuh waktu pemulihan lebih lama. Ia mengurangi latihan beban bebas dan beralih ke mesin. "Saya tidak bisa lagi melakukan squat atau bench press," akunya. Namun, semangatnya tidak surut. Bulan ini, ia bahkan meraih peringkat keempat di kategori pasangan campuran Japan Open Championships bersama Asuka Miyamae, yang 39 tahun lebih muda.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah Kanazawa akan menambah gelar, tetapi bagaimana masyarakat—termasuk Indonesia—menyikapi gelombang penduduk lanjut usia yang tetap aktif dan produktif. Jika seorang nonagenarian bisa menjaga otot dan meraih juara, mengapa banyak lansia lain justru menyerah pada keterbatasan?


