Bitcoin Tembus Rata-rata 365 Hari, Sinyal Bullish atau Jebakan?
Baca dalam 60 detik
- Harga Bitcoin akhirnya melewati moving average 365 hari setelah 310 hari terbenam di bawahnya, memicu spekulasi reli lanjutan.
- Data historis Altcoin Pro menunjukkan penguatan 12 bulan setelah sinyal serupa, namun dua kegagalan pada 2018 dan 2022 menjadi catatan penting.
- Bagi investor Indonesia, sinyal ini bisa jadi acuan, tetapi tanpa regulasi jelas dan likuiditas terbatas, risiko volatilitas tetap tinggi.

Harga Bitcoin (BTC) kembali mencuri perhatian setelah berhasil melampaui rata-rata pergerakan sederhana (simple moving average/SMA) 365 hari untuk pertama kalinya dalam 310 hari. Pada 22 September, mata uang kripto terbesar itu menembus level sekitar US$80.900, memicu harapan akan reli yang lebih besar. Sinyal ini dianggap penting karena sebelumnya Bitcoin terperangkap di bawah garis tersebut sejak lama.
Menurut Ryan Horst dan Joni Zhuleku, pendiri Altcoin Pro, dalam komunikasi via email, penembusan ini bukan tanpa preseden. Mereka mencatat lima kejadian sebelumnya di mana Bitcoin kembali ke atas SMA 365 hari setelah setidaknya 90 hari berada di bawahnya. Hasilnya, dalam 12 bulan berikutnya, harga selalu lebih tinggi, dengan kenaikan berkisar dari 59% hingga lebih dari 1.400%. Namun, lonjakan terbesar terjadi pada 2012, saat Bitcoin masih merupakan aset pinggiran.
Meski begitu, Horst mengingatkan bahwa pola ini tidak selalu berhasil. Ketika Altcoin Pro memasukkan periode di bawah garis yang lebih pendek, mereka menemukan dua kegagalan breakout, yaitu pada Juli 2018 dan Maret 2022. Dalam kedua kasus tersebut, Bitcoin justru anjlok sekitar 27% dan 59% dalam waktu 90 hari. "Pergerakan September ini menggembirakan, terutama setelah 310 hari di bawah garis, tetapi kami ingin melihatnya bertahan. Ini sinyal, bukan jaminan," ujar Horst.
Altcoin Pro tetap bullish untuk jangka panjang, tetapi pandangan mereka lebih bergantung pada posisi harga di atas SMA 200 hari ketimbang SMA 365 hari. "SMA 365 hari masih mengejar sesuatu yang sudah disinyalkan SMA 200 hari pada pertengahan Agustus," kata mereka. SMA 200 hari telah naik ke sekitar US$70.800, dengan Bitcoin sekitar 19% di atasnya sebelum koreksi kecil dalam 36 jam terakhir. Sebaliknya, SMA 365 hari masih menurun dan lebih dekat ke harga pasar.
Moving average didasarkan pada harga masa lalu, sehingga menunjukkan bagaimana aset diperdagangkan selama periode tertentu, bukan ke mana arah selanjutnya. SMA 365 hari merespons perubahan lebih lambat dibanding SMA 200 hari. "SMA 365 hari memberi tahu Anda di mana Bitcoin berada enam bulan lalu. Reaksi SMA 200 hari sekitar tiga bulan lebih awal. Di pasar yang bergerak seperti ini, tiga bulan adalah segalanya," jelas Ryan dan Joni Zhuleku.
Selain itu, pada 8 September, SMA 50 hari Bitcoin melintasi di atas SMA 200 hari, membentuk apa yang disebut golden cross. Sinyal ini memiliki rekam jejak campuran sebagai prediktor tunggal, dengan beberapa persilangan sebelumnya gagal menghasilkan reli berkelanjutan, tulis Omkar Godbole dari CoinDesk. Altcoin Pro berpendapat golden cross kali ini lebih konstruktif karena muncul setelah periode panjang di bawah SMA 200 hari, bukan di dekat puncak pasar. Bitcoin menghabiskan 293 hari di bawah ukuran itu sebelum kembali ke atasnya, lebih pendek dari sekitar 436 hari pada bear market 2022-2023.
"Ini sinyal, bukan jaminan," tegas Horst.
Bagi investor Indonesia, sinyal teknis ini bisa menjadi pertimbangan, tetapi perlu dicermati. Pasar kripto domestik masih menghadapi tantangan regulasi dan likuiditas yang lebih tipis dibanding bursa global. Meski demikian, minat terhadap aset digital terus tumbuh, terutama di kalangan milenial dan Gen Z. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengatur perdagangan kripto melalui Bappebti, namun kerangka hukum yang komprehensif masih dalam proses. Volatilitas tinggi menjadi risiko utama, terlebih jika sinyal bullish ini gagal bertahan.
Ke depan, ujian berikutnya adalah apakah koreksi kecil akan mendorong Bitcoin kembali ke level SMA 365 hari. Jika harga mampu bertahan di atasnya, reli bisa berlanjut. Namun, jika gagal, sejarah 2018 dan 2022 bisa terulang. Investor disarankan tidak hanya bergantung pada satu indikator, melainkan memadukan analisis teknikal dan fundamental, serta mempertimbangkan profil risiko masing-masing.



