Macklemore Luncurkan Tur 'Free Palestine' Usai Didepak dari Panggung Ed Sheeran
Baca dalam 60 detik
- Macklemore menggelar tur amal 'Free Palestine' di Dublin, Paris, dan London setelah dicoret dari tur stadion Ed Sheeran buntut pidato dukungannya.
- Kontroversi memicu gelombang solidaritas seniman dan boikot terhadap Sheeran, yang kehilangan hampir setengah juta pengikut di media sosial.
- Tur ini menandai eskalasi keterlibatan musisi global dalam isu geopolitik, dengan jadwal Amerika Utara menyusul dan potensi dampak pada industri hiburan Tanah Air.

Rapper asal Amerika Serikat, Macklemore, mengumumkan rangkaian konser amal bertajuk “Free Palestine” yang akan digelar di Dublin, Paris, dan London pada akhir Oktober mendatang. Langkah ini diambil setelah ia dicoret dari tur stadion Ed Sheeran di Amerika Utara akibat menyuarakan dukungan untuk Palestina di atas panggung.
Penampilan Macklemore—nama asli Benjamin Haggerty—pada 4 September lalu memicu reaksi keras dari sejumlah pemilik venue. Dalam pidatonya, ia menyerukan “free Palestine” dan menyatakan solidaritas kepada warga Gaza serta Tepi Barat yang diduduki. Akibatnya, beberapa venue menolak menggelar konser yang melibatkan dirinya, dan Sheeran pun memutuskan untuk mengeluarkannya dari daftar penampil.
Keputusan tersebut menuai kontroversi. Sheeran, melalui pernyataan tertulis, membantah bertanggung jawab atas pemecatan itu dan menegaskan “saya tidak terlibat.” Namun, gelombang protes justru berbalik ke arahnya. Seluruh artis pendukung tur Sheeran—Aaron Rowe, Finneas, Lukas Graham, dan grup Beoga—mengundurkan diri. Sheeran dilaporkan kehilangan hampir 500 ribu pengikut di media sosial, menurut data Social Blade yang dikutip The Independent.
Dalam pernyataan di Instagram, Macklemore menyebut momen ini sebagai “kebangkitan kolektif” selama tiga tahun terakhir. “Tahun 2026, bersikap apolitis di tengah genosida sudah tidak bisa diterima. Orang-orang menuntut seniman untuk hadir, mendidik diri, dan menggunakan panggung mereka untuk lebih dari sekadar hiburan,” tulisnya. Ia juga menyoroti kekuatan kelas miliarder yang berusaha membungkam suara kritis, dan menegaskan bahwa apa yang menimpanya adalah persoalan yang lebih besar dari sekadar satu artis atau satu panggung.
Sementara itu, Sheeran kembali tampil solo di Philadelphia pada 19 September. Dengan air mata, ia membacakan permintaan maaf dari teleprompter, mengaku “telah membuat kesalahan” dan tidak pernah ingin menjadi musisi aktivis. “Semua orang memintaku untuk membatalkan, dan aku merasa ditinggalkan oleh teman dan keluarga. Tapi 50.000 orang di sini tidak meninggalkanku,” ujarnya. Sejumlah kecil penggemar berdemo di luar venue, sebagian bahkan menjual tiket sebagai bentuk protes, meski banyak pula yang tetap memberikan dukungan.
“Sebagai orang Irlandia, kami sangat memahami genosida, kelaparan yang dipaksakan, dan pendudukan kekerasan. Saya harus setia pada diri sendiri dan leluhur yang melawan kolonialisasi,” ujar Aaron Rowe, salah satu mantan artis pendukung Sheeran, dalam pernyataannya mengapa ia mundur.
Tur Macklemore akan menyusul jadwal di Amerika Utara, meski detail lineup dan lokasi belum diumumkan. “Karena semuanya berjalan sangat cepat, banyak percakapan, jadwal, dan detail masih dalam proses,” tulisnya. Ia menambahkan bahwa ini adalah “momen momentum, dan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Daftar organisasi yang akan menerima donasi telah dirilis, mencakup Anera, Glia, Gaza Soup Kitchen, Taawon, Heal Palestine, Palestinian Youth Movement, Middle East Children’s Alliance, Jewish Voice for Peace, Medical Aid for Palestinians, Institute for Middle East Understanding, Palestine Children’s Relief Fund, dan UNRWA USA. Menurut siaran pers, lembaga-lembaga ini mewakili beragam upaya dukungan bagi rakyat Palestina, mulai dari bantuan medis, pendidikan, hingga advokasi dan pekerjaan media.
Konteks Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika ini bukan sekadar berita hiburan internasional. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar dan pendukung vokal kemerdekaan Palestina, gelombang solidaritas di kalangan seniman global berpotensi memengaruhi industri kreatif dalam negeri. Musisi Tanah Air yang menyuarakan isu serupa bisa menghadapi tekanan serupa dari promotor atau platform internasional, terutama jika ingin tampil di pasar global. Di sisi lain, tur amal seperti ini membuka peluang kolaborasi lintas negara dan penggalangan dana kemanusiaan yang lebih masif, yang mungkin menginspirasi gerakan serupa di Indonesia.
Ke depan, publik akan menyaksikan apakah langkah Macklemore ini menjadi preseden bagi seniman lain untuk lebih vokal dalam isu geopolitik, atau justru memicu pembalasan lebih keras dari pihak yang berkepentingan. Sementara itu, Sheeran masih harus memulihkan reputasinya di tengah penggemar yang terbelah. Pertanyaannya, akankah industri musik global semakin terpolarisasi oleh politik, atau justru menemukan keseimbangan baru antara ekspresi artistik dan tekanan komersial?



