Xi Jinping Tawarkan Kerangka Hindari Perang dengan AS, Trump Sambut dengan Pujian
Baca dalam 60 detik
- Presiden China Xi Jinping mengusulkan dialog rutin antarmiliter dan mekanisme pencegahan krisis untuk mencegah benturan senjata dengan Amerika Serikat.
- Undangan bagi 100.000 pelajar Amerika untuk berkunjung ke China menjadi sinyal diplomasi lunak di tengah persaingan teknologi dan tarif.
- Perpanjangan gencatan senjata tarif hingga Februari 2026 dinilai analis sebagai upaya Trump menekan China demi kesepakatan lebih baik di KTT G20 Miami.

Presiden China Xi Jinping secara terbuka menyerukan kerja sama luas dengan Washington guna menghindari apa yang ia sebut sebagai "jebakan Thucydides"—situasi ketika kekuatan baru menantang dominasi kekuatan mapan yang berpotensi berujung pada konflik militer. Seruan itu disampaikan Xi di awal pertemuan puncak dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Kamis (24/9/2026), di tengah ketegangan yang masih membara soal kecerdasan buatan, perdagangan, dan Taiwan.
Dalam pidato penyambutannya, Xi menawarkan sejumlah prasyarat untuk membangun saling pengertian. Ia menekankan pentingnya komunikasi intensif, dialog yang jujur, serta kemampuan mencari titik temu tanpa mengabaikan perbedaan. "Kedua negara kita bisa saling memahami lebih baik, mencari kesamaan sambil menyimpan perbedaan, dan membangun kepercayaan bersama," ujar Xi, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Xi juga menyoroti perlunya koeksistensi damai. Menurutnya, China dan AS sebagai dua negara besar akan diuntungkan oleh kerja sama dan dirugikan oleh konfrontasi. Ia secara spesifik mengusulkan agar kedua militer menjaga dialog reguler dan memperbaiki mekanisme komunikasi serta pencegahan krisis. Dengan kondisi tersebut, Xi meyakini jebakan Thucydides dapat diatasi.
Undangan bagi 100.000 pelajar Amerika itu menjadi salah satu butir konkret dari proposal Xi. Langkah ini dipandang sebagai upaya diplomasi publik untuk meredam ketegangan di tingkat akar rumput, meski persaingan teknologi antara kedua negara semakin ketat. Amerika Serikat masih memberlakukan kontrol ekspor ketat pada mikrochip, semikonduktor, perangkat lunak, dan peralatan pembuat chip guna memperlambat kemajuan China.
Trump, yang menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, di Gedung Putih, menyebut kunjungan ini sebagai momen penting bagi Amerika yang tengah merayakan ulang tahun ke-250 kemerdekaannya. Ia mengklaim telah membangun "persahabatan yang luar biasa" dengan Xi dan menyatakan timnya terus bekerja mendorong hubungan dagang yang lebih seimbang, termasuk akses pasar baru bagi petani dan peternak AS. Pertemuan ini juga membahas keamanan, teknologi, dan AI—yang oleh Trump disebut sebagai "super intelligence".
"Saya siap bekerja sama dengan Anda untuk mengarahkan kapal besar hubungan China-AS pada jalur yang stabil menuju masa depan," ujar Xi kepada Trump.
Meski nada kedua pemimpin terkesan harmonis, sejumlah analis menyuarakan skeptisisme. Mereka menilai kesepakatan stabil jangka panjang masih sulit terwujud karena banyaknya kepentingan yang bersinggungan. Perpanjangan gencatan senjata tarif hingga Februari 2026, menurut Menteri Keuangan AS Scott Bessent, menunjukkan Trump belum puas dengan tawaran konsesi China. Perpanjangan itu diyakini sebagai strategi menekan agar China memberikan penawaran lebih baik pada pertemuan berikutnya di KTT G20 Miami, Desember mendatang.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai mitra dagang utama kedua negara, Indonesia berada di posisi rentan jika perang tarif kembali memanas. Tekanan pada rantai pasok semikonduktor dan AI dapat memengaruhi sektor manufaktur dan investasi teknologi di dalam negeri. Di sisi lain, perpanjangan gencatan senjata memberi ruang napas sementara bagi eksportir Indonesia yang menggantungkan pasar pada AS dan China. Pemerintah perlu mencermati arah kebijakan kedua kekuatan itu, terutama jika G20 Miami menghasilkan kesepakatan yang mengubah peta perdagangan global.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah China dan AS bisa menghindari jebakan Thucydides, melainkan seberapa besar kompromi yang bersedia diambil masing-masing pihak. Jika KTT G20 Miami gagal menghasilkan terobosan, tekanan terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia akan semakin berat. Sebaliknya, jika dialog militer dan pertukaran pelajar berjalan, ada peluang stabilitas kawasan yang lebih terjamin—meski tanpa jaminan perdamaian permanen.



