66% Pengguna AI di Inggris Beberkan Rahasia Terdalam ke Chatbot, tapi Tak Percaya Perusahaan Teknologi
Baca dalam 60 detik
- Survei Proton mengungkap 66% pengguna AI di Inggris pernah membahas topik sensitif dengan chatbot, mulai dari keuangan hingga kesehatan mental.
- Meski demikian, 42% responden meragukan komitmen perusahaan AI dalam melindungi data pribadi, dan 64% khawatir percakapan mereka disalahgunakan untuk profiling iklan.
- Proton meluncurkan Lumo, chatbot open-source berbasis enkripsi end-to-end, sebagai alternatif yang mengedepankan privasi pengguna.

Sebuah survei terbaru dari Proton, perusahaan teknologi asal Swiss, mengungkap bahwa 66% pengguna kecerdasan buatan (AI) di Inggris telah membicarakan setidaknya satu topik sensitif dengan chatbot. Temuan ini menyoroti paradoks besar dalam adopsi AI: pengguna semakin terbuka berbagi hal pribadi, namun kepercayaan terhadap perusahaan di balik teknologi tersebut tetap rendah.
Survei yang melibatkan responden di Inggris ini menemukan bahwa 42% pengguna memiliki sedikit atau sama sekali tidak percaya pada perusahaan AI untuk melindungi informasi pribadi mereka. Bahkan, 11% di antaranya menyatakan tidak percaya sama sekali. Meski demikian, 55% mengakui bahwa AI telah mengubah cara mereka mengambil keputusan sehari-hari.
Topik yang paling sering dibicarakan meliputi keuangan pribadi (33%), masalah pekerjaan atau karier (32%), kesehatan mental (27%), dan hubungan asmara (20%). Menariknya, meskipun keluarga dan teman tetap menjadi pilihan utama untuk curhat, AI menawarkan kenyamanan sebagai pendengar setia 24/7 yang tidak menghakimi.
Kekhawatiran utama bukan sekadar soal AI mengingat percakapan, melainkan bagaimana data tersebut dapat disalahgunakan. Sebanyak 64% responden di Inggris khawatir percakapan rentan mereka diolah menjadi profil iklan atau pemasaran yang detail. Sementara itu, 52% takut rahasia mereka menjadi bahan pelatihan model AI di masa depan.
"AI belajar jauh lebih banyak tentang kita daripada yang bisa dilakukan mesin pencari. Kita tidak hanya bertanya, tetapi juga berbagi konteks pribadi yang mendalam tentang kesehatan, keuangan, dan hubungan. Ketika teknologi tahu sebanyak itu, privasi tidak bisa menjadi prioritas nomor dua," ujar Eamonn Maguire, Director of AI Engineering di Proton.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Proton meluncurkan Lumo, sebuah chatbot open-source yang mengedepankan privasi dengan enkripsi end-to-end, mirip dengan layanan email mereka. Lumo diposisikan sebagai alternatif ChatGPT yang lebih aman. Proton juga memperkenalkan alat bernama AI Paper Trail yang memvisualisasikan seberapa banyak informasi pribadi yang bocor dari percakapan AI biasa.
Survei ini juga menunjukkan bahwa 82% pengguna akan lebih cenderung menggunakan chatbot yang dirancang khusus untuk privasi, dan 44% akan lebih berani berbagi informasi sensitif jika ada jaminan bahwa percakapan mereka tidak akan digunakan untuk pelatihan AI.
Konteks Indonesia
Fenomena serupa berpotensi terjadi di Indonesia seiring meningkatnya adopsi AI generatif. Meskipun belum ada survei serupa, kesadaran akan privasi data di Tanah Air masih rendah. Regulasi Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) sudah ada, tetapi penegakannya belum optimal. Pengguna Indonesia perlu waspada terhadap risiko berbagi informasi sensitif ke chatbot, terutama yang dikelola perusahaan asing. Selain itu, perusahaan teknologi lokal didorong untuk mengembangkan solusi AI yang transparan dan aman.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan semakin terlibat dalam kehidupan pribadi kita, melainkan seberapa besar kendali yang kita miliki atas data yang kita berikan. Apakah regulator dan industri akan mampu menjawab kekhawatiran ini sebelum kepercayaan publik runtuh?



