KM Virgo Transport 8: 42 Tewas, 93 Masih Hilang di Laut Jawa
Baca dalam 60 detik
- Tim SAR gabungan mengevakuasi 14 jenazah tambahan dari bangkai KM Virgo Transport 8, menambah total korban meninggal menjadi 42 orang.
- Dari 243 orang dalam manifes, 108 dinyatakan selamat, sementara 93 lainnya masih dalam pencarian intensif.
- Operasi penyelaman di dalam badan kapal menjadi fokus utama Basarnas untuk menemukan korban yang tersisa.

Upaya pencarian korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Perairan Masalembo, Laut Jawa, kembali membuahkan hasil. Tim penyelam gabungan berhasil mengevakuasi 14 jenazah pada Kamis (24/9), sehingga total korban meninggal dalam insiden ini mencapai 42 orang. Hingga berita ini diturunkan, 93 penumpang dari 243 orang dalam manifes masih belum ditemukan.
Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii menegaskan bahwa operasi pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, dengan prioritas penyelaman di dalam badan kapal. "Tim SAR Gabungan akan terus melakukan pencarian secara maksimal, khususnya melalui penyelaman di dalam badan kapal," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis.
Proses evakuasi jenazah dilakukan melalui KN SAR Pacitan, kemudian diterbangkan ke Banjarmasin menggunakan helikopter Basarnas HR-3604 dan Helikopter Panther TNI AL. Setibanya di daratan, korban diserahkan kepada pihak berwenang untuk identifikasi lebih lanjut. Hingga kini, 108 orang dinyatakan selamat dari musibah yang terjadi saat kapal berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin.
KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 Wita, sehari setelah bertolak dari Surabaya. Cuaca buruk diduga menjadi penyebab kapal terbalik dan tenggelam. Kapal ditemukan pada hari yang sama dalam kondisi terbalik, memicu operasi SAR besar-besaran yang melibatkan berbagai instansi.
Insiden ini menyoroti tantangan keselamatan pelayaran di perairan Indonesia, terutama pada musim cuaca ekstrem. Laut Jawa merupakan jalur padat yang menghubungkan pulau-pulau utama, namun seringkali dihadapkan pada gelombang tinggi dan angin kencang. Kecelakaan ini menambah daftar panjang musibah transportasi laut yang menuntut evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan dan prosedur mitigasi risiko.
"Kami akan terus mengerahkan segala upaya untuk menemukan korban yang tersisa. Fokus utama adalah penyelaman di badan kapal yang diduga masih menyimpan korban," tegas Syafii.
Bagi masyarakat Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap kelayakan kapal dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem. Pemerintah perlu memperkuat sistem peringatan dini dan memastikan operator pelayaran mematuhi standar keselamatan. Selain itu, koordinasi antarlembaga dalam operasi SAR menjadi kunci untuk meminimalkan korban jiwa.
Ke depan, pertanyaan besar muncul: apakah investigasi menyeluruh akan mengungkap kelalaian yang memperparah tragedi ini? Sementara itu, keluarga korban masih menanti kepastian nasib orang-orang terkasih mereka. Operasi pencarian diharapkan rampung dalam waktu dekat, namun tantangan cuaca dan kondisi bawah laut bisa memperlambat proses evakuasi.



