Kompor Induksi Baterai Generasi Kedua: Jalan Pintas Rumah Tangga Lepas dari Gas Bumi
Baca dalam 60 detik
- Copper merilis Charlie 2.0, kompor induksi dengan baterai tanam yang bisa dicolok ke stopkontak 120V maupun 240V, menghilangkan kebutuhan instalasi listrik mahal.
- Kemitraan produksi dengan Miele di pabrik Alabama menandai pertama kalinya merek Jerman itu memproduksi peralatan rumah tangga merek lain.
- Langkah ini berpotensi mempercepat transisi energi di dapur, tetapi harga tinggi dan dominasi gas di Indonesia menjadi ujian adopsi.

Perusahaan rintisan Copper resmi meluncurkan Charlie 2.0, kompor induksi generasi kedua dengan baterai terintegrasi yang diklaim mampu memangkas hambatan terbesar beralih dari kompor gas: biaya instalasi listrik. Peluncuran ini menjadi sinyal bahwa perlombaan menuju dapur bebas emisi kian serius, terutama di pasar Amerika Serikat yang masih didominasi gas alam.
Charlie 2.0 menawarkan peningkatan daya signifikan. Keempat tungkunya masing-masing mampu menarik 3.000 watt, naik sekitar 7% dari versi sebelumnya. Ovennya diklaim mencapai suhu 350 derajat Fahrenheit hanya dalam empat menit, jauh lebih cepat dibandingkan oven gas konvensional. Yang paling mencolok, perangkat ini dapat dicolok ke stopkontak 120 volt maupun 240 volt, menghapus batasan 120 volt pada model pendahulunya. Menurut CEO dan salah satu pendiri Copper, Sam Calisch, fleksibilitas ini membuat produknya cocok untuk lebih banyak tipe rumah.
Selain soal teknis, Copper mengumumkan kemitraan strategis dengan raksasa peralatan rumah tangga asal Jerman, Miele. Charlie 2.0 akan diproduksi di pabrik pertama Miele di Amerika Serikat, tepatnya di Opelika, Alabama. Ini menjadi kali pertama Miele, yang berdiri sejak 1899, memproduksi peralatan merek lain. Wakil Presiden Produk Copper, Mitchell Heinrich, menyebut kolaborasi ini sebagai kesempatan belajar dari yang terbaik. Sementara itu, Uwe Brunkhorst dari Miele menegaskan bahwa AS adalah pasar pertumbuhan strategis dan kemitraan ini membuka kemampuan teknologi baru.
Dorongan beralih dari gas bukan tanpa alasan. Kompor gas melepaskan karbon monoksida, nitrogen oksida, dan karsinogen yang berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak. Induksi memanaskan wajan langsung melalui elektromagnetisme, tanpa api, sehingga lebih cepat, aman, dan mudah dibersihkan. Sejumlah koki ternama seperti Samin Nosrat dan Christopher Kimball pun mulai beralih. Namun, biaya menjadi tembok tinggi: kompor listrik biasa membutuhkan stopkontak 240 volt, yang berarti memanggil tukang listrik dan mungkin meningkatkan daya listrik rumah dengan biaya ribuan dolar.
Di sinilah baterai menjadi kunci. Copper bersama Impulse Labs dan Electra Research mengembangkan kompor induksi berbaterei yang dapat menyedot daya dari stopkontak 120 volt dan menyimpan energi untuk lonjakan kebutuhan memasak. Meski harga Charlie 2.0 lebih tinggi, penghematan dari instalasi yang lebih sederhana bisa membuatnya lebih ekonomis dalam jangka panjang. Baterainya juga berguna saat pemadaman listrik.
“Kami terus memasang Charlie di rumah dan gedung apartemen di seluruh negeri. Charlie baru dirancang khusus untuk memenuhi permintaan yang tumbuh dengan daya, performa, dan fleksibilitas lebih,” ujar Calisch.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan perspektif baru. Sebagian besar rumah tangga di Tanah Air masih bergantung pada gas elpiji bersubsidi, sementara jaringan listrik di kota-kota besar sudah memadai. Kompor induksi berbaterei bisa menjadi opsi transisi tanpa perlu renovasi listrik besar-besaran. Namun, harga US$6.799 setara Rp100 jutaan—jauh di luar jangkauan konsumen rata-rata. Diperlukan insentif fiskal, skema sewa, atau produksi lokal untuk menekan biaya. Regulasi energi terbarukan dan target nol emisi 2060 juga bisa menjadi pendorong, asalkan pasokan listrik bersih semakin melimpah.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini berfungsi, melainkan seberapa cepat harganya turun dan ekosistem pendukungnya siap. Jika Copper dan pesaingnya mampu menekan biaya produksi melalui kemitraan seperti dengan Miele, dapur-dapur di negara berkembang pun berpeluang meninggalkan gas. Akankah Indonesia menjadi pasar berikutnya, atau hanya menjadi penonton transisi energi dapur?



