Thomas Dooley Kembali Tantang Indonesia: Dari Kemenangan 4-0 ke Era Garuda yang Lebih Kuat
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Bangladesh, Thomas Dooley, mengenang kemenangan 4-0 atas Indonesia saat masih menangani Filipina pada 2014, namun mengakui kekuatan Garuda kini jauh berbeda.
- Kehadiran pemain Indonesia di liga Eropa seperti Bundesliga 2 dan Belanda menjadi faktor utama peningkatan kualitas tim, membuat Dooley menilai Indonesia sulit dikalahkan.
- Laga Bangladesh vs Indonesia di Grup A FIFA ASEAN Cup 2026 pada 1 Oktober mendatang akan menjadi ujian taktik Dooley menghadapi skuad yang telah bertransformasi.

Pelatih Timnas Bangladesh, Thomas Dooley, akan kembali berhadapan dengan Timnas Indonesia dalam ajang FIFA ASEAN Cup 2026, membawa memori manis sekaligus tantangan baru. Dua belas tahun lalu, saat menangani Filipina, Dooley sukses membawa timnya menghajar Indonesia dengan skor 4-0 pada Piala AFF 2014 di Stadion My Dinh, Hanoi. Kini, ia menyadari bahwa kekuatan Garuda telah berubah drastis dan menjadi lawan yang jauh lebih berat.
Bangladesh tergabung di Grup A bersama Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Seluruh pertandingan grup akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Bangladesh dijadwalkan menghadapi Malaysia pada 25 September, Singapura pada 28 September, sebelum bertemu Indonesia pada 1 Oktober 2026. Pertemuan ini menjadi salah satu laga kunci bagi kedua tim untuk menentukan langkah di turnamen edisi perdana dengan format baru tersebut.
Dooley mengungkapkan bahwa ia sempat berbicara dengan kapten Bangladesh sebelum konferensi pers mengenai pertandingan melawan Indonesia sekitar delapan tahun lalu. "Kami menang 4-0 atas Indonesia. Kami mendominasi hampir setiap meter persegi lapangan dan itu pertandingan yang sangat menarik. Saya pikir itu pertama kalinya kami menang melawan Indonesia," ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa situasi sekarang sangat berbeda. "Bukan karena ini Bangladesh, tetapi karena keterampilan dan pemain yang dimiliki Indonesia saat ini," tambahnya.
Pelatih asal Amerika Serikat itu menyoroti keberadaan sejumlah pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri, seperti di Bundesliga 2 dan Belanda. Menurutnya, pengalaman di kompetisi Eropa menjadi faktor utama yang membuat Garuda berkembang pesat. "Ini tim yang sangat sulit dikalahkan. Saat ini, saya pikir bagi sebagian besar tim di Asia, pertandingan melawan Indonesia sangat sulit," kata Dooley. Ia juga menyinggung bahwa kualitas individu pemain Indonesia kini jauh lebih baik dibandingkan saat ia masih menangani Filipina.
Bagi Indonesia, sorotan Dooley ini menjadi cermin atas kemajuan sepak bola nasional dalam satu dekade terakhir. Keberadaan pemain di liga Eropa tidak hanya meningkatkan kualitas teknis, tetapi juga mental bertanding di level internasional. Hal ini sejalan dengan target jangka panjang Indonesia untuk bersaing di kancah Asia dan dunia. Namun, tantangan tetap ada, terutama konsistensi performa di turnamen regional.
FIFA ASEAN Cup 2026 sendiri merupakan edisi perdana dengan format baru di bawah naungan FIFA. Turnamen ini menjadi ajang pembuktian bagi negara-negara ASEAN untuk mengukur kekuatan jelang kompetisi yang lebih besar. Bagi Bangladesh, pertemuan dengan Indonesia akan menjadi ujian berat, sementara bagi Indonesia, laga ini adalah kesempatan untuk menunjukkan dominasi di kandang sendiri.
Menjelang pertandingan, Timnas Indonesia juga mendapat kabar bahwa Kevin Diks siap menggantikan Jay Idzes sebagai kapten. Jay harus absen hingga November akibat cedera hamstring. Kevin menyatakan kesiapannya memimpin skuad Garuda sebagai sebuah kehormatan besar. Kehadiran pemain seperti Kevin Diks menambah kedalaman skuad yang akan diandalkan pelatih untuk menghadapi Bangladesh dan tim-tim lain di Grup A.
Dengan segala perubahan yang ada, pertanyaan besarnya: apakah Indonesia mampu membalas kekalahan 4-0 sepuluh tahun lalu, atau justru Bangladesh yang kembali mengejutkan? Jawabannya akan terlihat di lapangan pada 1 Oktober mendatang.



