Meta Rilis Kacamata AI Tanpa Kamera, Jawab Kritik Privasi?
Baca dalam 60 detik
- Meta memperkenalkan kacamata pintar audio-only tanpa kamera dengan harga mulai $349, dikirim 13 Oktober.
- Langkah ini merespons kekhawatiran global soal perekaman tanpa izin, terutama terhadap perempuan dan anak.
- Peluncuran ini juga menandai ekspansi ekosistem AI Meta, termasuk asisten Muse dan kacamata VR baru.

Meta secara resmi meluncurkan jajaran perangkat wearable terbaru yang ditenagai model AI, termasuk versi kacamata pintar tanpa kamera yang hanya mengandalkan audio. Pengumuman ini disampaikan CEO Mark Zuckerberg dalam konferensi tahunan Connect di Menlo Park, Rabu (18/9), di tengah meningkatnya kekhawatiran global tentang pelanggaran privasi akibat kamera mini yang tersemat di kacamata pintar.
Kacamata audio-only tersebut dijadwalkan mulai dikirim pada 13 Oktober mendatang dengan harga awal $349. Langkah ini diambil Meta setelah kritik tajam terhadap fitur kamera yang dianggap memudahkan perekaman tanpa persetujuan, terutama terhadap perempuan dan anak-anak. Sejumlah pihak bahkan menjuluki perangkat sebelumnya sebagai "kacamata mesum".
Wakil Presiden Produk AI Meta, Vishal Shah, menegaskan bahwa fitur privasi seperti lampu indikator perekaman menjadi prioritas. "Kami ingin orang-orang memahami dengan jelas bahwa perangkat ini sedang merekam, dan kami telah membuat lampu itu semakin eksplisit dari waktu ke waktu," ujarnya kepada AFP. Ia menambahkan bahwa pesan tentang privasi perlu terus diulang karena tidak ada yang berubah dari komitmen awal.
Selain kacamata audio-only, Meta juga memperkenalkan beberapa model baru kacamata pintar andalannya, termasuk versi display yang memproyeksikan gambar ke lensa. Perangkat ini akan segera tersedia di pasar baru seperti Inggris, Prancis, Italia, Jerman, dan Kanada. Meta juga mengumumkan kacamata mixed reality bernama Meta VR Glasses yang jauh lebih ringan dari headset Quest sebelumnya, dengan bobot setara satu set kartu remi. Kacamata ini mengandalkan gestur tangan dan perintah suara, serta akan dijual seharga $1.299 pada musim semi 2027.
Di balik peluncuran perangkat keras, Meta tengah mendorong adopsi asisten AI mereka, Muse. Aplikasi ini diklaim sebagai agen AI pertama untuk konsumen yang dapat melakukan tugas atas nama pengguna, seperti mendaftar layanan, memesan janji temu, dan melakukan panggilan. Muse telah menjadi aplikasi gratis teratas di Google Play Store dan App Store, melampaui ChatGPT, Claude, dan Gemini. Zuckerberg juga mengungkap perangkat kecil bernama Muse Charm yang akan dikirim sebelum liburan akhir tahun ini, memungkinkan interaksi dengan agen Muse tanpa ponsel.
"Ada hampir 2 miliar orang di dunia yang memakai kacamata saat ini... dan kami yakin dalam beberapa tahun ke depan, sebagian besar akan beralih ke kacamata AI," ujar Zuckerberg.
Meta, yang sebagian besar pendapatannya berasal dari iklan di Instagram dan Facebook, menghadapi tantangan besar terkait keamanan anak dan privasi di berbagai negara. Pada Agustus lalu, mereka menyelesaikan gugatan dari negara bagian AS dengan membayar hingga $18 miliar dan menerima pembatasan untuk remaja. Perusahaan juga menghadapi larangan berbasis usia di luar negeri serta ribuan potensi gugatan cedera pribadi di AS.
Bagi Indonesia, peluncuran kacamata AI tanpa kamera ini membuka peluang sekaligus tantangan. Di satu sisi, perangkat ini dapat mendorong adopsi AI dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi konsumen yang peduli privasi. Namun, regulasi perlindungan data pribadi yang baru saja diterapkan di Indonesia perlu mengantisipasi potensi penyalahgunaan perangkat wearable. Pasar Indonesia yang besar dengan pengguna media sosial aktif menjadi target potensial, tetapi juga rentan terhadap isu privasi jika tidak diimbangi dengan edukasi dan pengawasan.
Ke depan, Meta tampaknya akan terus menggenjot inovasi di sektor wearable dan AI, meski bayang-bayang sengketa hukum dan kekhawatiran privasi masih menghantui. Akankah strategi "tanpa kamera" ini cukup meredam kritik, atau justru menjadi celah baru bagi Meta untuk memperluas cengkeraman AI-nya? Waktu yang akan menjawab, tetapi satu hal yang pasti: pertarungan antara inovasi dan privasi semakin memanas.



