Surface Pro dan Laptop Baru Microsoft Tantang MacBook Air, Kipas Hilang Tapi Performa Tetap Adem
Baca dalam 60 detik
- Microsoft resmi memperkenalkan Surface Pro 12 inci dan Surface Laptop 13 inci dengan chip Snapdragon X2 Plus, mulai dijual 13 Oktober mendatang.
- Kedua perangkat mengandalkan sistem pendingin pasif tanpa kipas, namun mampu menjalankan aplikasi kreatif berat secara bersamaan tanpa throttling.
- Langkah ini menandai upaya serius Microsoft merebut segmen laptop premium yang selama ini dikuasai Apple, dengan harga mulai 1.149 dolar AS.

Microsoft resmi mengumumkan Surface Pro 12 inci dan Surface Laptop 13 inci yang ditenagai chip Snapdragon X2 Plus. Kedua perangkat ini dijadwalkan meluncur pada 13 Oktober mendatang dengan banderol mulai 1.149 dolar AS untuk Surface Pro dan 1.199 dolar AS untuk Surface Laptop. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Microsoft serius menantang dominasi MacBook Air di segmen laptop tipis-ringan premium.
Selama beberapa tahun terakhir, Apple memang menjadi acuan utama untuk komputer jinjing yang senyap, dingin, dan tahan lama. Setiap laptop Windows tipis selalu dibandingkan dengan MacBook Air, dan sering kali kalah dalam hal manajemen panas serta daya tahan baterai. Namun, generasi Surface terbaru ini membawa perubahan signifikan. Dalam pengujian awal, kedua perangkat mampu menjalankan alur kerja kreatif yang berat—mulai dari sketsa digital, rendering 3D di Blender, hingga penyuntingan multi-layer di Photoshop—secara bersamaan tanpa hambatan berarti.
Keunggulan utama terletak pada desain pendinginan pasif. Surface Pro dan Surface Laptop tidak lagi menggunakan kipas aktif, melainkan mengandalkan pipa pendingin padat. Pada generasi sebelumnya, desain tanpa kipas sering berujung pada throttling termal dan bodi aluminium yang panas. Kini, setelah menjalankan berbagai aplikasi berat, bagian belakang Surface Pro tetap terasa dingin saat disentuh. Ini adalah pencapaian teknis yang jarang ditemui di perangkat Windows sekelasnya.
Dari sisi desain, Microsoft menyematkan layar PixelSense 500 nit yang tajam dan keyboard dengan travel yang memuaskan. Bodi aluminium hadir dalam pilihan warna yang playful, menyembunyikan kekuatan di baliknya. Surface Pen pada model Pro juga dilengkapi haptik dua arah, memungkinkan interaksi taktil dengan aplikasi—misalnya getaran saat menyelaraskan gambar di Photoshop atau efek suara saat bernavigasi di Windows 11. Fitur ini memang terasa seperti gimmick, tetapi menunjukkan potensi besar jika lebih banyak aplikasi mendukungnya.
Meski demikian, ada catatan ergonomis pada Surface Pro 12 inci. Berbeda dari model sebelumnya, keyboard deck tidak lagi dapat menempel secara magnetik ke bezel bawah untuk membentuk penyangga tambahan. Sambungan hanya terjadi di bagian spine bawah. Tanpa penopang magnetik bersudut, penggunaan di pangkuan diprediksi lebih goyah dibanding laptop clamshell tradisional. Ini adalah trade-off yang perlu diuji lebih lanjut.
Bagi pasar Indonesia, kehadiran Surface Pro dan Surface Laptop dengan Snapdragon X2 Plus bisa menjadi alternatif menarik bagi profesional kreatif dan pekerja mobile yang menginginkan perangkat bertenaga tanpa suara bising. Namun, harga yang dibanderol cukup premium—setara dengan MacBook Air—dapat menjadi pertimbangan, terutama dengan adanya pajak impor dan biaya distribusi. Jika Microsoft mampu menghadirkan ekosistem aplikasi yang kompatibel dengan arsitektur ARM secara lebih luas, perangkat ini berpotensi mengubah lanskap laptop premium di dalam negeri.
"Ini adalah Surface pertama yang benar-benar mampu menyaingi keajaiban sehari-hari MacBook Air," tulis penguji dalam laporan hands-on-nya.
Dengan operasi senyap, stabilitas termal, dan performa chip yang gesit, Surface Pro dan Surface Laptop menjadi upaya terdekat Microsoft untuk menyamai pengalaman MacBook Air. Pertanyaannya, apakah pengguna Windows di Indonesia siap beralih ke perangkat ARM tanpa kipas ini, atau masih menunggu dukungan aplikasi yang lebih matang?



