Dolly Parton Meninggal, Keponakan Dipecat dan Dituduh Ancam Hancurkan Warisan
Baca dalam 60 detik
- Bryan Seaver, keponakan Dolly Parton, dipecat dari posisi kepala keamanan properti sang legenda country setelah hampir dua dekade mengabdi.
- Perusahaan She's Alive yang dibentuk Parton untuk melindungi warisannya mengajukan restraining order terhadap Seaver, menuduhnya melancarkan ancaman dan intimidasi.
- Seaver membantah tuduhan dan menyebut perintah pengadilan sebagai 'aksi publisitas', menegaskan komitmennya melindungi keluarga sesuai pesan terakhir Parton.

Keponakan mendiang ikon musik country Dolly Parton, Bryan Seaver, resmi diberhentikan dari jabatannya sebagai kepala keamanan properti milik penyanyi legendaris itu. Pemecatan tersebut menyusul diterbitkannya perintah penahanan sementara (restraining order) oleh perusahaan She's Alive, entitas yang dibentuk Parton sebelum wafat untuk mengurus warisannya.
Seaver, yang selama hampir 20 tahun mengawal keamanan aset Parton, mengungkapkan kekecewaannya melalui pernyataan kepada ABC News. Ia menilai langkah hukum yang diambil pihak estate tidak berdasar dan hanya mencari sorotan publik. "Perintah penahanan itu palsu dan sekadar aksi publisitas," ujarnya, seperti dikutip dari dokumen pengadilan yang diperoleh PEOPLE.
Dalam berkas gugatan, She's Alive menuduh Seaver melancarkan "kampanye ancaman, intimidasi, dan pemaksaan" beberapa pekan sebelum Parton meninggal dunia. Pihak estate mengklaim Seaver menulis pesan yang berisi janji untuk "menghancurkan seluruh merek" dan mengatakan kepada pengacara hiburan Parton, "Saya bukan orang hiburan. Saya pembunuh." Tuduhan lain menyebut ia mengancam akan menimbulkan kerugian reputasi dan ekonomi bagi mereka yang bertugas melindungi warisan Parton, termasuk dengan membuat podcast yang bertujuan merusak kemitraan merek kecuali ia dibayar.
Menanggapi tuduhan tersebut, Seaver membantah keras. Ia menegaskan bahwa teks yang dijadikan bukti telah diambil di luar konteks. "Dolly memanggil saya 'pembunuhnya'. Itu lelucon yang biasa kami pakai di lingkarannya," jelasnya. "Saya adalah 'ninja anak laki-lakinya', dan Danny Nozell menafsirkan teks itu seolah-olah saya mengancamnya. Dia selalu memanggil saya 'The Killer'."
Seaver juga menyatakan tidak pernah mengancam siapa pun. "Mereka adalah teman, saudara, dan kolega saya," tambahnya. Ia mengaku dipecat setelah estate bernegosiasi untuk layanan jangka panjang. "Mereka bernegosiasi dengan saya dan perusahaan saya untuk layanan selamanya dan menyetujui ketentuan itu. Seminggu kemudian mereka memecat saya karena 'ancaman' yang dibuat-buat ini," tuturnya.
"Kami tetap teguh untuk memenuhi perintah terakhirnya melindungi keluarganya, dan kami menolak diintimidasi oleh pihak-pihak yang kami yakini bertindak dengan itikad buruk dan berniat mengambil keuntungan dari kehidupan seseorang yang dengan sukarela memberi begitu banyak."
Sebelumnya, Seaver dan timnya menyatakan kepada TMZ bahwa mereka "kecewa dengan tindakan tak terduga dan belum dijelaskan" pasca-kematian Parton. Mereka menegaskan komitmen untuk melindungi keluarga sesuai pesan terakhir Parton.
Kasus ini menyoroti kompleksitas pengelolaan warisan selebritas global, terutama ketika melibatkan anggota keluarga. Bagi Indonesia, fenomena serupa dapat terjadi pada publik figur nasional seperti penyanyi atau aktor legendaris yang memiliki aset dan bisnis. Penting bagi keluarga dan manajemen untuk memiliki perencanaan warisan yang jelas, termasuk struktur hukum yang mengatur hak dan kewajiban anggota keluarga yang terlibat dalam bisnis. Ketegangan antara kepentingan pribadi dan profesional sering kali memuncak setelah kepergian figur sentral, berpotensi menimbulkan sengketa hukum yang berkepanjangan.
Ke depan, publik akan menantikan bagaimana pengadilan memutus sengketa ini dan apakah ada upaya mediasi antara kedua belah pihak. Yang jelas, warisan Dolly Parton tidak hanya tentang musik, tetapi juga tentang nilai-nilai keluarga yang ia junjung tinggi. Akankah konflik ini merusak citra tersebut, atau justru menjadi pelajaran berharga bagi pengelolaan warisan seniman di seluruh dunia?



