Kapal Induk Italia Resmi Jadi KRI Sriwijaya-100, Prabowo Terima KSAL Giuseppe Berutti Bergotto di Istana
Baca dalam 60 detik
- Italia menyerahkan kapal induk Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia dalam seremoni di Jakarta pada Kamis (24/9/2026), dan kapal tersebut resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100.
- Kepala Staf Angkatan Laut Italia Admiral Giuseppe Berutti Bergotto menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan seusai prosesi serah terima, menandai penguatan kerja sama pertahanan kedua negara.
- Pengadaan kapal induk ini memperkuat proyeksi kekuatan laut Indonesia di kawasan Indo-Pasifik, namun memunculkan pertanyaan soal kesiapan operasional, pembiayaan, dan integrasi alutsista.

Indonesia secara resmi memperkuat armada lautnya dengan menerima kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia. Serah terima berlangsung di Jakarta pada Kamis (24/9/2026), ditandai dengan penurunan bendera Italia dan pengibaran Merah Putih di geladak kapal. Kapal itu kini menyandang nama KRI Sriwijaya-100 dan masuk jajaran TNI Angkatan Laut.
Prosesi tersebut dihadiri sejumlah petinggi militer, termasuk Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, KSAL Laksamana Muhammad Ali, KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak, dan KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono. Dalam upacara itu, Agus meresmikan pengoperasian kapal dengan bacaan basmalah, menandai babak baru kemampuan maritim Indonesia.
Sehari setelahnya, perhatian publik tertuju pada kunjungan Kepala Staf Angkatan Laut Italia, Admiral Giuseppe Berutti Bergotto, ke Istana Kepresidenan. Ia tiba sekitar pukul 13.05 WIB dengan seragam putih khas angkatan laut Italia, disambut langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya membenarkan pertemuan tersebut, meski belum merinci isi pembicaraan.
"Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, pada hari ini, Kamis, 24 September 2026, saya, Jenderal TNI Agus Subiyanto, Panglima TNI, dengan ini saya resmikan KRI Sriwijaya-100 masuk dalam jajaran TNI Angkatan Laut," ujar Agus dalam upacara tersebut.
Bagi Indonesia, kehadiran kapal induk ini bukan sekadar penambahan alutsista. Ini adalah lompatan kemampuan proyeksi kekuatan laut yang selama ini dimiliki negara-negara besar. Dengan kapal induk, TNI AL dapat mengoperasikan pesawat tempur dari laut, memperluas jangkauan operasi, dan memperkuat diplomasi pertahanan di kawasan.
Namun, pengoperasian kapal induk menuntut kesiapan infrastruktur, personel terlatih, dan anggaran perawatan yang tidak kecil. Pemerintah perlu memastikan bahwa pengadaan ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan diikuti dengan pembangunan ekosistem pendukung, termasuk pangkalan, sistem senjata, dan pelatihan awak.
Dari kacamata geopolitik, langkah ini mempertegas posisi Indonesia di tengah dinamika Indo-Pasifik. Kerja sama dengan Italia juga membuka peluang alih teknologi dan penguatan hubungan bilateral di sektor pertahanan. Bagi pelaku pasar, sinyal belanja pertahanan ini dapat mendorong sektor industri strategis dalam negeri, terutama jika ada transfer teknologi dan keterlibatan PT PAL.
Ke depan, publik akan menantikan bagaimana KRI Sriwijaya-100 diintegrasikan dalam doktrin pertahanan maritim Indonesia. Apakah kapal ini akan menjadi pusat gugus tugas tempur, atau justru menghadapi tantangan operasional karena keterbatasan dukungan? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan pertahanan Indonesia dalam satu dekade mendatang.



