TNI AL Resmikan KRI Sriwijaya-100: Kapal Induk Pertama Indonesia dan Pesan Sejarah Maritim Nusantara
Baca dalam 60 detik
- Kapal induk eks Giuseppe Garibaldi resmi berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100 dalam upacara di Tanjung Priok, Jakarta.
- Penamaan ini mengacu pada Keputusan KSAL Nomor Kep/907/VI/2006 yang mewajibkan kapal induk menggunakan nama kerajaan maritim besar Nusantara.
- Langkah ini menegaskan ambisi Indonesia sebagai kekuatan maritim regional sekaligus memperkuat legitimasi sejarah dalam alutsista modern.

Indonesia secara resmi memiliki kapal induk pertama setelah TNI Angkatan Laut (TNI AL) mengumumkan nama KRI Sriwijaya-100 untuk kapal yang sebelumnya dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi. Pengumuman ini disampaikan dalam upacara serah terima di Dermaga 106-107 Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (24/9/2026), menandai babak baru dalam proyeksi kekuatan laut Indonesia.
Pemilihan nama Sriwijaya bukan tanpa dasar. TNI AL memiliki regulasi internal yang mengatur penamaan kapal perang berdasarkan jenis dan fungsinya, sebagaimana tertuang dalam Keputusan Kepala Staf Angkatan Laut Nomor Kep/907/VI/2006. Regulasi tersebut menetapkan bahwa kapal induk—sebagai simbol puncak kekuatan proyeksi laut—harus diberi nama yang merujuk pada kerajaan maritim besar Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit.
Sriwijaya dipilih karena kejayaannya sebagai kekuatan maritim dominan di Asia Tenggara antara abad ke-7 hingga ke-13. Pusat kekuasaannya di sekitar Palembang, dengan pengaruh yang membentang dari Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga wilayah Asia Tenggara lainnya. Menurut narator dalam upacara tersebut, posisi strategis Sriwijaya memungkinkannya menguasai jalur perdagangan penting, terutama di Selat Malaka, sehingga jaringan kekuasaannya meluas.
Dalam konteks pertahanan, penamaan ini bukan sekadar administratif. Narator menyebutnya sebagai upaya merekontekstualisasi alutsista impor ke dalam narasi kebangsaan Indonesia. "Usulan penamaan eks Italian Ship Giuseppe Garibaldi menjadi KRI Sriwijaya dengan demikian dapat dibaca sebagai upaya rekontekstualisasi alutsista impor ke dalam kerangka narasi kebangsaan Indonesia," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengadaan alutsista tidak hanya soal teknologi, tetapi juga identitas dan sejarah.
Bagi Indonesia, kehadiran kapal induk ini memperkuat posisi sebagai negara kepulauan yang memiliki kepentingan maritim luas. Kapal induk memungkinkan proyeksi kekuatan laut yang lebih jauh, melindungi jalur pelayaran strategis, dan mendukung operasi kemanusiaan. Namun, pengoperasian kapal induk juga menuntut anggaran besar dan sumber daya manusia terlatih, sehingga perlu perencanaan jangka panjang.
Sejumlah pengamat menilai langkah ini sebagai sinyal keseriusan Indonesia dalam menjaga kedaulatan di laut, terutama di tengah dinamika geopolitik kawasan. Dengan nama Sriwijaya, kapal ini diharapkan menjadi simbol kebangkitan maritim Indonesia sekaligus pengingat akan kejayaan masa lalu. Ke depan, publik akan menantikan bagaimana KRI Sriwijaya-100 diintegrasikan ke dalam doktrin pertahanan laut dan apakah akan ada kapal induk berikutnya yang mengikuti jejak Majapahit.



