5 Cm. Revolusi Hati Ogah Andalkan CGI, Sutradara Bangun Water Tank Hidrolik untuk Adegan Laut
Baca dalam 60 detik
- Produser Sunil Soraya menegaskan film 5 Cm. Revolusi Hati hanya memakai CGI sebagai pelengkap, bukan tulang punggung visual.
- Tim produksi menempuh tiga jalur syuting: pengambilan gambar di laut, pembangunan water tank bertekanan hidrolik, dan CGI untuk adegan berisiko.
- Keputusan ini menjadi uji pasar bagi industri film nasional yang tengah bergeser ke efek praktis di tengah dominasi visual digital.

Film 5 Cm. Revolusi Hati memilih jalan berbeda dari kebanyakan produksi layar lebar Indonesia belakangan ini. Produser Sunil Soraya memastikan karya garapan sutradara Emil Haradi tersebut tidak akan bergantung pada Computer-Generated Imagery (CGI), meski sejumlah adegan mengambil latar laut yang secara teknis menantang. Pernyataan itu disampaikan dalam jumpa pers cast reveal di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Selasa (22/9/2026).
Sunil memaparkan bahwa timnya menempuh tiga pendekatan sekaligus. Pertama, pengambilan gambar langsung di laut. Kedua, pembangunan water tank atau kolam buatan yang dilengkapi sistem hidrolik untuk menghasilkan gelombang terkendali. Ketiga, CGI yang hanya difungsikan menambal bagian-bagian yang tak mungkin diwujudkan secara manual. "Kami berusaha semuanya kalau bisa minimal CGI," ujarnya, seraya menambahkan bahwa efek digital baru dipakai ketika adegan dinilai terlalu berbahaya, misalnya saat menggambarkan badai besar.
Pilihan artistik ini bukan tanpa konsekuensi. Produksi berbasis efek praktis umumnya menelan biaya lebih besar dan waktu syuting lebih panjang, tetapi kerap menghasilkan tekstur visual yang lebih dipercaya penonton. Di sisi lain, CGI menawarkan efisiensi dan fleksibilitas. Keputusan Sunil dan Emil menempatkan 5 Cm. Revolusi Hati pada posisi yang jarang ditemui dalam lanskap perfilman nasional beberapa tahun terakhir, ketika banyak judul besar justru berlomba menonjolkan kemegahan visual digital.
Secara naratif, film ini menyorot masa remaja Zafran, tokoh sentral dalam jagat cerita 5 cm. Kisahnya kali ini berpusat pada semester akhir bangku SMP, termasuk dinamika persahabatan dan peristiwa yang membentuk karakternya sebelum melangkah ke jenjang berikutnya. "Ini ceritanya tahun terakhir SMP mereka, dan kisah Zafran apa yang pernah dia lakukan di SMP," tutur Sunil.
"Kami bangun hydraulic system untuk gelombangnya. CGI dipakai untuk menambal hal-hal yang tidak bisa dicapai secara manual." โ Sunil Soraya, produser
Bagi pembaca di Indonesia, terutama pelaku industri kreatif dan investor sektor hiburan, langkah ini menyiratkan pergeseran selera produksi. Penonton domestik kian jeli membedakan efek praktis dan digital, sementara platform distribusi menuntut kualitas visual yang konsisten. Jika pendekatan minim CGI berhasil secara komersial, bukan tidak mungkin studio lain mulai melirik kembali investasi pada properti fisik, kru spesialis, dan infrastruktur syuting seperti water tank yang selama ini jarang tersedia di dalam negeri.
Dari sisi rantai pasok, kebutuhan akan sistem hidrolik dan pengelolaan lokasi laut membuka peluang bagi penyedia jasa produksi lokal. Namun, tantangannya juga nyata: standar keselamatan kerja di lingkungan air, perizinan lokasi, hingga asuransi produksi menjadi faktor penentu. Keberhasilan 5 Cm. Revolusi Hati akan menjadi tolok ukur apakah pendekatan ini bisa direplikasi secara berkelanjutan atau hanya menjadi pengecualian.
Yang patut dicermati, film ini menyasar segmen penonton muda yang tumbuh besar dengan konten visual serba mulus. Pertanyaannya, apakah estetika berbasis efek praktis masih mampu memikat mereka, atau justru dianggap kurang memukau dibanding tontonan digital? Jawaban atas pertanyaan itu akan terlihat dari respons pasar ketika film ini tayang di akhir tahun.



