Gencatan Tarif AS-China Diperpanjang Dua Bulan, Xi Jinping Tiba di Washington
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perpanjangan gencatan dagang dengan China hingga 10 Januari, lebih pendek dari ekspektasi pasar.
- Kunjungan kenegaraan Xi Jinping ke Washington menjadi latar kesepakatan, dengan pembahasan sistem peringatan dini insiden AI.
- Bagi Indonesia, stabilitas tarif ini memberi ruang napas bagi ekspor dan investasi, namun ketidakpastian kebijakan tetap membayangi.

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent memastikan gencatan dagang antara Washington dan Beijing diperpanjang hingga 10 Januari, memperpanjang jeda tarif yang semula akan berakhir November. Pengumuman itu disampaikan Bessent melalui wawancara dengan Fox News, bersamaan dengan mendaratnya Presiden China Xi Jinping di Washington, DC, untuk kunjungan kenegaraan hingga Jumat.
Perpanjangan dua bulan ini lebih singkat dari perkiraan banyak pihak yang sebelumnya menduga kesepakatan akan diperpanjang enam bulan atau lebih. Bessent menegaskan Beijing masih perlu memenuhi sejumlah komitmen yang belum tuntas. "China harus menyelesaikan lebih banyak deliverables," ujarnya, seperti dikutip Fox News.
Kesepakatan gencatan dagang selama satu tahun sejatinya telah disepakati Xi dan Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan di Korea Selatan Oktober lalu. Namun, tenggat November yang semakin dekat memaksa kedua belah pihak memperbarui komitmen. Perpanjangan hingga 10 Januari memberi ruang tambahan, meski tidak menghilangkan ketidakpastian.
Kunjungan Xi ke Washington menjadi momen diplomasi penting. Rekaman yang disiarkan televisi negara China menunjukkan Trump dan Ibu Negara Melania Trump menyambut Xi dan Peng Liyuan di kaki pesawat kepresidenan China. Tidak terlihat jabat tangan antara kedua pemimpin dalam cuplikan tersebut; kamera lebih menyoroti Xi dan istrinya yang menerima karangan bunga dari dua anak.
Sebelum kedatangan Xi, Bessent bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas pembentukan sistem peringatan dini untuk insiden kecerdasan buatan. Langkah ini menandakan kerja sama teknologi tetap berjalan meski ketegangan dagang belum sepenuhnya reda.
"Beijing perlu memenuhi lebih banyak komitmen," tegas Bessent, mengisyaratkan bahwa perpanjangan ini bukan akhir dari negosiasi.
Bagi Indonesia, perpanjangan gencatan tarif ini membawa implikasi ganda. Di satu sisi, stabilitas tarif antara dua ekonomi terbesar dunia dapat menjaga arus perdagangan dan investasi ke kawasan, termasuk Indonesia. Namun, durasi yang hanya dua bulan menciptakan ketidakpastian bagi pelaku usaha yang merencanakan ekspor jangka panjang. Indonesia perlu mencermati apakah gencatan ini akan diperpanjang lagi atau justru menjadi pemicu volatilitas pasar keuangan.
Pasar keuangan regional diperkirakan merespons hati-hati. Investor akan mencermati pernyataan lanjutan dari kedua pemimpin serta perkembangan negosiasi setelah 10 Januari. Jika tidak ada kesepakatan permanen, risiko kenaikan tarif kembali dapat mengganggu rantai pasok global, termasuk sektor manufaktur Indonesia yang terintegrasi dengan China dan AS.
Dengan tenggat yang relatif pendek, pertanyaannya kini: apakah perpanjangan ini menjadi jembatan menuju kesepakatan komprehensif, atau sekadar penundaan yang menambah ketidakpastian bagi ekonomi global?



