Latihan Gabungan Garuda Guerrier 2026: Poros Pertahanan Baru Jakarta-Paris?
Baca dalam 60 detik
- Indonesia dan Prancis menyepakati rencana latihan militer bersama Garuda Guerrier yang akan digelar di Prancis pada November 2026.
- Kesepakatan ini menjadi penanda pertama kalinya kedua negara menggelar Annual Defense Minister Dialogue, memperkuat kemitraan strategis di bidang pertahanan.
- Kerja sama alutsista semakin konkret dengan kedatangan jet Rafale dan pembangunan kapal selam Scorpene oleh PT PAL, berpotensi mengubah lanskap kekuatan maritim regional.

Indonesia dan Prancis tengah mematangkan rencana latihan militer gabungan bertajuk Garuda Guerrier yang dijadwalkan berlangsung di Prancis pada November 2026. Kesepakatan ini menjadi sinyal penguatan poros pertahanan baru yang tidak hanya berhenti pada pengadaan alutsista, tetapi juga menyentuh aspek interoperabilitas dan profesionalisme personel kedua angkatan bersenjata.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Rabu (23/9). Pertemuan itu sekaligus menandai Annual Defense Minister Dialogue pertama antara kedua negara, sebuah forum konsultasi rutin yang biasanya menjadi indikator kedalaman hubungan bilateral di sektor pertahanan.
Sjafrie mengungkapkan bahwa latihan Garuda Guerrier merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama pertahanan yang selama ini telah berjalan. Saat ini, TNI AU dan French Air and Space Force tengah menggelar latihan Air Maneuver Exercise (AMX) Pegase. Rangkaian latihan tersebut mencakup simulasi Air-to-Air Refueling (AAR) yang melibatkan pesawat Airbus A330 Multi Role Tanker Transport (MRTT), dua pesawat Rafale milik Prancis, serta dua pesawat Rafale TNI AU.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam latihan semacam ini bukan sekadar unjuk kemampuan. Ini menjadi ajang untuk menguji dan mengasah kemampuan teknis penerbang serta kru pendukung dalam skenario operasi yang kompleks, terutama dalam hal pengisian bahan bakar di udara yang merupakan kemampuan krusial bagi operasi jarak jauh. Kehadiran Rafale dalam latihan tersebut juga mempercepat proses alih teknologi dan adaptasi sistem persenjataan baru bagi TNI AU.
Kerja sama pertahanan Indonesia-Prancis memang tidak lepas dari hubungan baik kedua pemimpin negara. Sjafrie menyebut kerja sama di bidang alutsista ditandai dengan kedatangan pesawat tempur Rafale pertama di Indonesia dan dimulainya pembangunan kapal selam Scorpene pertama oleh PT PAL. PT PAL akan bekerja sama dengan perusahaan pertahanan Prancis, Naval Group, dalam pembangunan kapal selam tersebut di Surabaya.
"Ke depan ini kita akan terus bekerja sama untuk menunjukkan hubungan pertahanan antara Indonesia dan Prancis terus berkembang dan berada pada momentum yang sangat positif tidak hanya untuk pengadaan alutsista tapi juga dalam peningkatan kemampuan profesionalisme personel dan hubungan antar angkatan bersenjata," kata Sjafrie.
Langkah ini menempatkan Indonesia pada posisi yang semakin strategis di kawasan Indo-Pasifik. Prancis, sebagai kekuatan Eropa dengan wilayah teritorial di Pasifik, memiliki kepentingan langsung dalam stabilitas kawasan. Kemitraan dengan Jakarta dapat menjadi jangkar bagi Paris untuk memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara, sementara Indonesia mendapatkan akses terhadap teknologi dan pelatihan militer kelas atas.
Namun, tantangan tetap ada. Integrasi sistem persenjataan dari berbagai negara asal—mengingat Indonesia juga memiliki alutsista dari Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa lainnya—memerlukan manajemen logistik dan pelatihan yang tidak sederhana. Latihan bersama seperti Garuda Guerrier menjadi ujian nyata bagi interoperabilitas tersebut.
Ke depan, publik akan menantikan apakah kerja sama ini akan berlanjut pada produksi bersama atau alih teknologi yang lebih substansial, bukan sekadar jual-beli. Jika berhasil, Indonesia berpotensi menjadi pemain kunci dalam rantai pasok pertahanan regional, sekaligus memperkuat posisi diplomasi pertahanannya di panggung global.



