Gugatan Roller Coaster X2: 100+ Korban Dugaan Cedera Otak, Six Flags Tutup Wahana
Baca dalam 60 detik
- Tiga penggugat menuntut Six Flags Magic Mountain atas dugaan cedera otak katastrofik usai menaiki X2, dengan lebih dari 100 orang lain mengklaim trauma serupa.
- Penyelidikan CNN menemukan lebih dari selusin laporan cedera serius dan dua kematian terkait X2 dalam hampir 20 tahun, memicu pertanyaan tentang standar keselamatan wahana ekstrem.
- Penutupan X2 sejak pertengahan Juli dan lonjakan pengaduan ke firma hukum menunjukkan perlunya regulasi lebih ketat serta transparansi insiden di industri taman hiburan global.

Tiga orang menggugat Six Flags Magic Mountain di California, menuduh wahana roller coaster X2 menyebabkan “cedera otak katastrofik” yang mereka alami setelah menaiki atraksi tersebut. Gugatan itu bergabung dengan lebih dari 100 pengaduan lain dari individu yang mengaku mengalami cedera otak traumatis, menurut firma hukum yang mewakili para penggugat.
Dalam konferensi pers pada Selasa, pengacara Gary Dordick menyatakan bahwa para korban datang ke taman hiburan untuk mencari hiburan dan bersenang-senang bersama keluarga, namun justru menderita kerusakan otak parah. Pernyataan itu menggarisbawahi tuduhan bahwa insiden ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan akibat dari desain wahana yang dianggap terlalu berisiko.
X2, yang terletak di Valencia, California, telah menjadi sorotan dalam beberapa bulan terakhir menyusul laporan tentang pengendara yang mengalami cedera serius. Pada Juli, dua perempuan mengalami pendarahan otak dan harus menjalani operasi darurat setelah menaiki X2. Salah satunya, Naomi Greer-Wilkinson (25), masih dirawat di rumah sakit. Pengacara mengatakan dokter mengaitkan cedera tersebut dengan “peristiwa akselerasi-deselerasi cepat” yang dialami saat menaiki wahana itu.
Investigasi CNN pada Agustus lalu mengungkap bahwa selama hampir dua dekade, terdapat lebih dari selusin laporan cedera serius, termasuk dua kematian, yang dikaitkan dengan X2. Temuan ini memicu pertanyaan tentang efektivitas pengawasan keselamatan wahana ekstrem dan apakah standar yang ada sudah cukup melindungi pengunjung.
Six Flags dalam pernyataannya menyatakan tidak berkomentar atas litigasi yang sedang berjalan dan menegaskan X2 telah ditutup sejak pertengahan Juli. Situs web taman menggambarkan program keselamatan komprehensif dengan inspeksi ketat dan standar industri terdepan. Pemeriksaan harian dilakukan, ditambah evaluasi rutin oleh inspektur pihak ketiga, inspektur negara bagian dan asuransi, serta ahli teknik dan keselamatan perusahaan.
X2 dideskripsikan sebagai “roller coaster sayap dimensi kelima” yang akan membuat bahkan pencari sensasi paling berpengalaman menjerit, dan “benar-benar menakutkan”. Wahana ini memiliki kursi yang berputar 360 derajat dan berputar balik saat mencapai kecepatan hingga 76 mph, melewati setengah putaran yang tiba-tiba berubah menjadi “jatuhan vertikal”.
“Desain wahana inilah yang membuatnya secara inheren berbahaya dan berbahaya dengan cara yang tidak akan diduga oleh pengendara yang wajar,” kata pengacara Christopher Bulone. “Berulang kali orang-orang tak bersalah turun dari wahana dengan kerusakan otak permanen.”
Dordick mengungkapkan lebih dari 300 orang telah menghubungi firma hukumnya untuk melaporkan cedera. Bulone menambahkan para ahli menilai X2 dibangun dengan tingkat bahaya lebih tinggi dibanding wahana lain, dengan lebih banyak variabel dan gaya fisik yang membebani tubuh.
Kasus ini menyoroti celah dalam regulasi keselamatan wahana hiburan, terutama untuk atraksi berkecepatan tinggi dengan gerakan kompleks. Di banyak yurisdiksi, pengawasan bergantung pada inspeksi mandiri dan pihak ketiga, yang kerap tidak transparan bagi publik. Tekanan kini meningkat pada operator taman hiburan untuk membuka data insiden dan mengevaluasi ulang desain wahana ekstrem.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi cermin penting. Industri taman hiburan dalam negeri, termasuk di kawasan wisata seperti Ancol, Bali, dan Batam, terus tumbuh dengan menghadirkan wahana berteknologi tinggi. Meski belum ada laporan serupa, regulator dan pengelola perlu mengantisipasi risiko dengan memperketat standar keselamatan, audit berkala, dan mekanisme pelaporan insiden yang terbuka. Perlindungan konsumen juga menjadi isu krusial agar pengunjung tidak dirugikan jika terjadi kecelakaan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah gugatan ini akan mendorong perubahan regulasi di Amerika Serikat dan memicu gelombang tuntutan serupa di negara lain. Jika pengadilan memutuskan bahwa desain X2 memang cacat, operator wahana di seluruh dunia mungkin harus meninjau ulang protokol keselamatan dan berinvestasi pada teknologi peredam guncangan yang lebih aman. Sementara itu, para korban dan keluarganya menanti keadilan, dan publik menanti apakah industri akan belajar dari tragedi ini.



