REGENT Uji Terbang Perdana Seaglider: Kapal Bersayap Listrik Siap Masuk Produksi
Baca dalam 60 detik
- Viceroy Seaglider buatan REGENT berhasil melakukan penerbangan berawak pertama di Teluk Narragansett, Rhode Island, dengan 12 baling-baling listrik dan bertenaga hidrofoil.
- Kendaraan hibrida kapal-pesawat ini menawarkan kecepatan hingga 180 mph dan daya angkut 12 penumpang atau 3.500 pon kargo, menyasar pasar feri cepat dan operasi militer AS.
- Keberhasilan ini membuka jalan bagi produksi massal, tetapi tantangan regulasi dan adopsi di pasar Asia, termasuk Indonesia, masih harus diatasi.

Sebuah kapal aneh dengan sayap dan ekor menyerupai paus terlihat mengapung di perairan tenang Teluk Narragansett, Rhode Island, awal bulan ini. Dua belas baling-baling listrik—enam di setiap sisi—mulai berputar dan mendorong kapal itu maju. Perlahan, lambungnya terangkat dari air berkat hidrofoil, lalu terbang setinggi sekitar 10 meter di atas teluk selama 30 detik sebelum mendarat kembali dengan lembut. Penerbangan perdana berawak itu menempuh jarak 1.956 kaki (596 meter) dan menandai tonggak penting bagi REGENT, startup asal Rhode Island yang mengembangkan Viceroy Seaglider.
Viceroy adalah kendaraan hibrida yang menggabungkan kemudahan kapal dengan kecepatan pesawat. Menurut REGENT, kapal ini dirancang untuk mengangkut 12 penumpang dengan kecepatan hingga 180 mph (290 km/jam) atau mengangkut kargo seberat 3.500 pon (1.587 kg). Teknologi yang digunakan adalah wing-in-ground-effect (WIG), memanfaatkan fenomena aerodinamis ground effect untuk menciptakan daya angkat ekstra saat terbang dekat permukaan air. Pendekatan ini diklaim lebih efisien bahan bakar dibanding pesawat konvensional.
"Menyelesaikan uji terbang ini memvalidasi kerja keras bertahun-tahun dan memberi kami keyakinan untuk masuk ke produksi penuh," ujar salah satu pendiri sekaligus CTO REGENT dalam pernyataan resmi. Ia menambahkan bahwa Seaglider terbang semulus dan seaman yang dirancang.
Viceroy bukanlah yang pertama. Uni Soviet pernah mengembangkan ekranoplan, kendaraan raksasa era Perang Dingin yang memanfaatkan ground effect. Yang paling terkenal adalah "Monster Laut Kaspia" berbobot 380 ton, lebih panjang dari Airbus A380, dan mampu melaju hingga 340 mph. Namun, ekranoplan punya kelemahan: sulit lepas landas di air berombak dan sukar bersandar. REGENT mengatasi masalah itu dengan hidrofoil yang dapat dilipat—sayap bawah air yang mengangkat lambung saat kecepatan meningkat, mengurangi hambatan gelombang, lalu dilipat kembali setelah terbang.
Selain untuk komersial, REGENT juga menggarap versi militer yang lebih kecil bernama "Squire". Kendaraan ini beroperasi secara otonom dan dirancang membawa muatan 50 pon. Ketertarikan militer AS sudah terlihat: REGENT telah mengantongi kontrak senilai US$15 juta dengan Korps Marinir AS, serta perjanjian pengembangan dengan Komando Operasi Khusus dan Penjaga Pantai. Tahun lalu, Viceroy menyelesaikan demonstrasi lapangan untuk simulasi evakuasi pantai dan penyelamatan di laut lepas.
Meski ambisius, dalam praktiknya Viceroy akan bersaing dengan helikopter yang sudah mapan. Keunggulannya terletak pada kapasitas angkut yang lebih besar dan motor listrik yang jauh lebih senyap dibanding helikopter yang bising. Namun, tantangan regulasi penerbangan dan sertifikasi di berbagai negara bisa menjadi hambatan. Di Indonesia, di mana transportasi antarpulau menjadi tulang punggung, teknologi seperti ini berpotensi mengisi celah antara feri cepat dan pesawat perintis. Namun, kesiapan infrastruktur dan aturan penerbangan rendah (low-altitude) masih menjadi pertanyaan besar.
Ke depan, REGENT berencana memproduksi massal Viceroy dan memperluas uji coba. Jika berhasil, kendaraan ini bisa mengubah cara orang bepergian di wilayah pesisir, termasuk di negara kepulauan seperti Indonesia. Akankah seaglider menjadi moda transportasi masa depan atau hanya niche bagi militer dan wisatawan super kaya? Waktu yang akan menjawab, tetapi langkah REGENT patut dicermati.



