Seruan Global: Energi Surya untuk Semua pada 2030, Mampukah Indonesia Ikut?
Baca dalam 60 detik
- Surat terbuka yang diteken Bernie Sanders hingga Yeb Saño mendesak akses listrik bersih universal pada akhir dekade.
- Transisi energi dinilai sudah berjalan cepat, tetapi perlu percepatan masif melalui tekanan publik dan investasi.
- Indonesia menghadapi peluang dan tantangan dalam menggeser ketergantungan batu bara menuju energi terbarukan.

Sejumlah tokoh dunia, termasuk Senator AS Bernie Sanders dan aktivis iklim Yeb Saño, melayangkan surat terbuka yang menyerukan agar seluruh penduduk bumi mendapatkan akses listrik bersih dan terjangkau paling lambat 2030. Seruan itu dirilis menjelang pertemuan Majelis Umum PBB, menyoroti keterkaitan antara konflik bersenjata, polusi karbon, dan krisis iklim yang kian memburuk.
Dalam surat tersebut, para penandatangan menyatakan keprihatinan mendalam atas rangkaian bencana iklim yang terjadi belakangan ini—dari kebakaran hutan di Eropa hingga mencairnya gletser di Nepal—serta dampak perang yang tak kunjung usai. Mereka menilai akar dari berbagai persoalan itu sama: ketergantungan pada bahan bakar fosil. "Minyak yang diperebutkan negara-negara adalah polusi karbon yang memanaskan iklim kita," tulis mereka, seperti dikutip dari surat terbuka yang dipublikasikan The Guardian.
Surat itu tidak sekadar meminta perhatian. Ada dua langkah konkret yang didorong. Pertama, membangun pembangkit listrik bersih untuk semua orang. Mereka mengajak mereka yang mampu untuk berdonasi—hanya dengan 15 dolar AS, satu orang bisa menikmati listrik bersih selama satu generasi. Kedua, membangun gerakan sosial yang kuat untuk memaksa pemerintah menghentikan proyek batu bara, minyak, dan gas yang sudah tidak diperlukan, lalu beralih ke sistem energi bersih.
"Kami menulis surat ini karena rasa takut yang besar dan harapan yang besar pula. Dunia seolah berantakan tepat saat seharusnya bersatu," demikian bunyi surat tersebut.
Contoh-contoh nyata sudah terlihat. California, misalnya, kini hanya menggunakan separuh gas alam dibandingkan tiga tahun lalu untuk pembangkit listrik, berkat kombinasi tenaga surya dan penyimpanan baterai. Di Pakistan, masyarakat memasang jutaan panel surya dalam waktu singkat, dengan panduan dari media sosial. Sementara di Afrika sub-Sahara, jutaan orang setiap bulan mendapatkan akses listrik pertama mereka melalui perangkat solar rumahan.
Meski begitu, para penandatangan menegaskan bahwa laju transisi energi masih terlalu lambat. Mereka mengingatkan bahwa tindakan individu saja tidak cukup; perlu tekanan kolektif untuk memaksa pemerintah dan korporasi mengubah kebijakan. "Terlalu banyak pemimpin yang akan menolak bertindak sampai kita bersama-sama menunjukkan betapa besar keinginan kita untuk bergerak," ujar mereka.
Bagi Indonesia, seruan ini memiliki resonansi kuat. Negara ini masih sangat bergantung pada batu bara untuk pembangkit listrik, meskipun memiliki potensi surya yang melimpah. Pemerintah telah menargetkan bauran energi terbarukan sebesar 23% pada 2025, namun realisasinya masih jauh dari harapan. Tekanan global untuk beralih ke energi bersih bisa menjadi peluang sekaligus tantangan, terutama dalam hal pendanaan dan alih teknologi. Masyarakat sipil Indonesia dapat mengambil peran dalam mendorong transparansi dan investasi di sektor energi terbarukan.
Puncak kampanye ini akan ditandai dengan "Sun Day" pada 20 Juni, bertepatan dengan solstis musim panas di belahan bumi utara—hari dengan produksi listrik surya terbesar sepanjang tahun. Para aktivis berencana menjadikannya momen global untuk merayakan dan mempercepat transisi energi.
Pertanyaannya, apakah Indonesia akan menjadi bagian dari gelombang perubahan ini atau tetap tertinggal dalam transisi energi yang semakin mendesak? Waktu terus berjalan, dan matahari tetap bersinar untuk semua.



